|
INJIL YOHANES DAN SURAT-SURAT YOHANES
Injil
Yohanes Kata penutup pertama, Yoh 20:31, menyatakan termasuk jenis sastra mana Injil Yohanes dan
begitu menempatkannya di dalam keseluruhan Perjanjian Baru. Sama seperti
pewartaan yang paling tua demikianpun kitab ini tetap sebuah “Injil”,
artinya: pewartaan tentang Yesus sebagai Mesias dan Anak Allah. Pewartaan itu
berpangkal pada “tanda-tanda” yang dikerjakan Yesus dan bermaksud
mengembangkan iman akan Kristus, supaya orang mendapat hidup. Meskipun
ciri-cirinya menyatakan bahwa disusun di zaman agak belakangan, namun injil keempat ini berdekatan dengan pemberitaan atau “kerygma”
pada awal mula agama Kristen. Tata susunan dan pokok utama injil Yohanes dan
pemberitaan semula itu pada pokoknya sama: Yesus ditunjuk sebagai Mesias oleh
turunnya Roh Kudus sebagaimana disaksikan Yohanes Pembaptis. 1:31-34; karya dan
perkataan Yesus menyatakan “kemuliaanNya”, 1:35 – 12:50; menyusul kisah
tentang wafat, kebangkitan dan beberapa penampakan Kristus, 13:1 – 20:20;
akhirnya pengutusan para rasul yang diberi Roh Kudus dan kekuasaan mengampuni
dosa, 20:21-29. Terlebih injil ini terjamin oleh seorang saksi tak bernama ialah
“murid yang dikasihi Yesus”, yang ikut serta dalam drama sengsara Yesus,
13:23; 19:26.35; bdk 18:15 dst, melihat makam yang kosong, 20:2 dst, dan Kristus
yang dibangkitkan, 21:7.20-24; ia barangkali adalah seorang dari kedua murid
yang paling dahulu mengikuti Yesus. 1:35 dst. Kesemuanya itu sesuai dengan
syarat-syarat yang ditentukan Kis 1:8+, supaya kesaksiannya itu boleh disebut
“rasuli”. Namun demikian karya Yohanes mempunyai beberapa ciri
yang merupakan kekhasannya dan jelas membedakannya dengan ketiga injil sinoptik.
Rupanya pengarang injil keempat terpengaruh sekali oleh sebuah alam pikiran yang
tersebar luas di beberapa kalangan Yahudi dan yang pengungkapannya baru-baru ini
ditemukan dalam naskah-naskah yang berasal dari sekelompok kaum Eseni di zaman
itu yang berdiam di Qumran. Dalam naskah-naskah itu diberi perhatian khusus
kepada “pengetahuan”, dan perbendaharaan-katanya berdekatan dengan
perbendaharaan-kata yang lazim dalam aliran dan alam pikiran yang disebut “gnosis”;
terdapat di dalamnya semacam perseduaan (dualisme) yang terungkap dalam
pertentangan-pertentangan seperti: cahaya-kegelapan, kebenaran-kebohongan,
malaikat cahaya-malaikat kegelapan (Beliar namanya); khususnya di Qumran
ditekankanlah mistik persatuan dan perlunya kasih persaudaraan sementara orang
melayangkan pandangan ke akhir zaman. Segala pokok tersebut ditemukan kembali
dalam injil Yohanes dan merupakan milik khas lingkungan Yahudi-kristen, yang
kiranya menghasilkan injil itu. Masih ada hal lain lagi. Lebih dari injil-injil
sinoptik, injil keempat ingin menonjolkan manakah makna kehidupan, perbuatan dan
perkataan Yesus. Kejadian-kejadian kehidupan Yesus merupakan “tanda”;
maknanya tidak segera jelas sehingga baru dipahami setelah Kristus dimuliakan,
2:22; 12:16; 13:7. Banyak perkataan Yesus mengandung makna rohani yang baru
kemudian dipahami, bdk 2:19+. Roh Kudus yang berkata atas nama Yesus yang
dibangkitkan bertugas memimpin para murid ke dalam seluruh kebenaran dengan
mengingatkan dan mengajar mereka akan semua yang telah dikatakan Yesus kepada
mereka, bdk 14:26+. Itulah tahap perwahyuan yang tercermin dalam injil Yohanes.
Di lain pihak injil keempat lebih banyak terpengaruh oleh ibadat dan
sakramen-sakramen Kristen dari pada injil-injil sinoptik. Kehidupan Yesus
sendiri diberi kerangka ibadat Yahudi; dalam hubungan dengan hari-hari raya
utama dan kerap kali dalam bait Allah Yesus mengerjakan mujizat-mujizat dan
menyampaikan wejangan-wejangan yang paling penting; selanjutnya Yesuspun
mengajar bahwa Ia sendiri menjadi pusat suatu agama dan ibadat baru “dalam roh
dan kebenaran”, 4:24; agama dan ibadat baru itu mengungkapkan dan mewujudkan
dirinya melalui sakramen-sakramen. Pembicaraan Yesus dengan Nikodemus mengandung
segala unsur yang cocok dengan sebuah pengajaran yang menyiapkan atau menyertai
baptisan, 3:1-21; dan gagasan bahwa baptisan berupa sebuah penerangan, 9:1-39,
atau kebangkitan, 5:1-14; 7:21-24, rupanya memberi latar belakang kepada cerita
tentang penyembuhan orang yang lahir buta dan orang lumpuh. Sebuah ringkasan
lengkap dari pengajaran mengenai Ekaristi tercantum dalam bab 6. Misteri Paskah
Kristen yang mengganti Paskah lama, meresap ke dalam seluruh injil itu, 1:29.36;
2:13; 6:4; 19:36. Upacara pembasuhan Yahudi yang lazim pada perayaan Paskah,
2:6; 3:25, diganti dengan pembersihan jiwa oleh firman, 15:3, dan Roh, 20:22 dst.
Dengan demikian maka kehidupan Yesus dihubungkan dengan misteri Kristen yang
dihayati dalam ibadat dan sakramen-sakramen jemaat. Jelaslah injil keempat merupakan karya yang
majemuk:
berdekatan dengan bentuk pewartaan Kristen yang paling dahulu, tetapi juga
menjadi penyelesaian suatu usaha yang dipimpin oleh Roh Kudus untuk mencari
pemahaman lebih mendalam dan lebih jernih tentang misteri Yesus. Setiap penginjil mempunyai suatu pandangan utama
mengenai Yesus serta karyaNya. Menurut pandangan Yohanes, maka Yesus adalah
Firman yang telah menjadi daging untuk menyampaikan hidup kepada manusia, 1:14.
Maka rahasia penjelmaan menguasai seluruh pemikiran Yohanes. Teologi tentang
penjelmaan itu terungkap dengan menggunakan gagasan “pengutusan”
dan “kesaksian”. Yesus ialah
Firman yang diutus oleh Bapa ke dunia, lalu setelah karyaNya selesai Ia kembali
kepada Allah, bdk 1:1+. Tugas itu tidak lain kecuali memaklumkan kepada manusia
misteri-misteri ilahi. Yesus menjadi saksi tentang apa yang dilihat dan
didengarNya dari Bapa, bdk 3:11+. Untuk mengesahkan pengutusanNya maka Allah
memberi Yesus kekuasaan mengerjakan sejumlah karya ialah “tanda tanda” yang
memang melampaui apa yang mungkin bagi manusia. Maka terbuktilah Yesus
benar-benar diutus oleh Allah yang berkarya dalam diri Yesus, bdk 2:11+.
Tanda-tanda itu menjadi pernyataan terselubung dan kemuliaan Yesus yang
penyingkapan lengkapnya dinantikan pada hari kebangkitan, bdk 1:14+. Sebab
sesuai dengan nubuat Yes 52:13 (LXX), Anak Manusia harus “ditinggikan”, dan
melalui salib kembali kepada Bapa bdk 12:32+. Lalu Ia menemukan kembali
kemuliaan yang ada pada Allah ‘sebelum dunia ada”, 17:5+,24. Kemuliaan itu
sudah dinyatakan kepada para nabi dahulu. bdk 5:39.46; 12:41:19:37 serta
catatan-catatannya. Penyingkapan kemuliaan itu berupa penampakan Allah yang
menyempurnakan dan menggenapkan semua penampakan Allah dahulu, penampakanNya
dalam penciptaan, 1:1, penampakanNya kepada Abraham, 8:56; Yakub, 1:51; Musa,
1:17 para nabi. Kemuliaan “Hari Yahwe”, bdk Ams 5:18+ menjadi lengkap pada
“Hari” Yesus, 8:56, khususnya pada “Saat-Nya’ 2:4+, saat peninggian dan
‘pemuliaanNya”: pada saat itu tersingkaplah keluhuran transenden yang
menjadi milik “utusan”, bdk 8:24+; 10:30+, yang datang ke dunia untuk
membawa hidup, bdk 3:35+, kepada mereka yang dengan kepercayaan menyambut kabar
keselamatan yang disampaikan olehNya, bdk 3:11+. Dan justru oleh karena seluruh
“pengutusan” Anak itu terarah kepada suatu karya keselamatan, maka
pengutusan itu menjadi penyingkapan kasih Bapa terhadap dunia, yang terakhir dan
paling lengkap, bdk 17:6+. Dalam injil-injil Sinoptik penyingkapan kemuliaan Kristus terutama
dihubungkan dengan kembaliNya pada akhir zaman, bdk Mat 16:27 dst. Memanglah
dalam injil Yohanes pun unsur-unsur utama dan eskatologia tradisionil ditemukan
juga: orang menantikan “hari terakhir”, 6:39 dst; 11:24: 12:48, hari
“kedatangan” Yesus, 14:3; 21:22 dst, dan kebangkitan orang-orang mati, 5, 28
dst; 11:24, serta penghakiman terakhir 5:29, 45; 3:36. Namun demikian mudah saja
orang melihat dalam injil keempat suatu tendensi rangkap
dua, yakni: mengaktualisasikan dan menginteriorisasikan
eskatologia tradisionil. Kedatangan Yesus ke dunia melalui penjelmaan,
peninggianNya di salib dan kembaliNya melalui Roh Kudus dianggap sebagai
“kedatangan” Anak Manusia; penghakiman sekarang sudah terjadi di dalam hati
orang, hidup kekal (yang dalam injil Yoh mengganti istilah “Kerajaan” yang
digemari para Sinoptisi) sekarang sudah dimiliki oleh karena iman. Maka drama
yang dipentaskan di Palestina menjadi inti drama eskatologis. Memang di belakang
orang-orang Yahudi yang menolak Yesus itu tampillah sebuab kenyataan yang lebih
luas, yakni “dunia”, bdk 1:9-10+, atau “kegelapan” bdk 8:12+, yang
dikuasai oleh Iblis, “penguasa dunia”, bdk 1 Yoh 2:13 dst, yang melawan
Allah serta MesiasNya. Setiap orang terlibat dalam drama rohani itu: di hadapan
Firman yang menjadi daging terlaksanalah “penghakiman dunia”, 12:31-32,
pengutukan dan kekalahannya, 16:7-11.33. Kalau Kristus dengan rela menyerahkan
nyawaNya, bdk 10:18+, dan kalau “ditinggikan” di kayu salib, maka maksudnya
ialah memperoleh kemuliaanNya, bdk 12:32+, yang sejak itu menjadi nyata di
hadapan sekalian orang untuk mendatangkan malu kepada dunia yang tidak percaya
serta secara definitip mengalahkan Iblis. Kemenangan Allah atas yang jahat dan
keselamatan dunia terwujud melalui kebangkitan yang mulia, sehingga kembaliNya
Kristus di akhir zaman hanya merupakan penggenapannya. Agak sukar juga menemukan bagan yang dituruti Yohanes dalam membentangkan misteri Kristus. Terlebih dulu perlu dicatat bahwa urutan peristiwa-peristiwa dalam injil keempat menimbulkan beberapa kesulitan: urutan bab 4, 5, 6, 7:1-24 sukar dimengerti; tidak tepat juga bahwa bab 15-17 menyusul 14:31, tempat Yesus sudah berangkat: kepingan-kepingan seperti 3:31-36 dan 12:44-50 ternyata kurang sesuai dengan konteksnya. Mungkin kekacauan itu disebabkan oleh cara injil Yohanes digubah dan diterbitkan. Kiranya injil itu merupakan hasil perkembangan yang lambat laun sehingga di dalamnya terdapat unsur-unsur yang berasal dari masa yang berlain-lainan, penyaduran dan tambahan serta penyusunan ajaran yang sama namun dengan cara yang berbeda-beda, sedangkan keseluruhannya akhirnya diterbitkan bukanlah oleh Yohanes sendiri melainkan oleh murid-muridnya setelah Yohanes meninggal dunia, 21:24. Dengan demikian maka murid-murid itu kiranya memasukkan ke dalam kerangka injil yang asli berbagai kepingan yang berasal dari Yohanes dan yang oleh para muridnya tidak dibiarkan hilang sama sekali. Tempat kepingan-kepingan itu dalam keseluruhan belum juga ditentukan dengan saksama. Para ahli sudah mengemukakan beberapa pembagian injil
Yohanes. Semua memang mengandung sedikit kebenaran, tetapi sering kali berat
sebelah, oleh karena terlalu mau mensistematisasikan injil keempat. Paling baik
kiranya orang membiarkan dirinya dibimbing oleh petunjuk-petunjuk jelas yang
ditemukan dalam injil sendiri. Di satu pihak jelas, bahwa injil mau menonjolkan
hari-hari raya ibadat Yahudi, yang menjadi pedoman kisahnya: tiga kali ada hari
raya Paskah, 2:13; 6:4; 11:55, ada sebuah perayaan yang tidak disebut namanya,
5:1, dan sekali ada perayaan Pondok Daun. 7:2, dan hari raya Pentahbisan Bait
Allah; 10:22. Di lain pihak pengarang beberapa kali dengan saksama mencatat
urutan hari-hari untuk membagikan riwayat hidup Yesus menjadi berkala-kala.
Misalnya: minggu pertama karya Yesus di depan umum. 1:19 – 2:11, pekan
perayaan Pondok-Daun, 7:2, 14, 37, pekan sengsara Yesus 12:1.12; 19:31.42, yang
ditempatkan antara lambang penguburan Yesus, 12:7, dan penguburan yang
sesungguhnya, 19:38 dst. Begitu pula perlu diperhatikan disebutkannya perayaan
Paskah yang pertama, 4:45, yang jelas menutup bagian-bagian yang mulai dengan
2:13-25, tempat dikatakan bahwa hari raya Paskah itu sudah dekat. Dengan
mempertimbangkan kedua gejala tersebut (catatan mengenai urutan hari-hari dan
hari-hari raya Yahudi) maka injil keempat dapat dibagi sebagai berikut: Prakata,
1:1-18: “Pada mulanya .........” I.
Karya
Yesus : 1.
Tata penyelamatan baru diberitakan, 1:19
– 4:54: Pekan pembukaan; kejadian-kejadian yang berkisar pada Perayaan Paska
yang pertama. 2.
Perayaan kedua, pada suatu hari Sabat, di Yerusalem: perlawanan pertama terhadap
pernyataan, 5:1-47. 3.
Di Galilea, Paskah yang kedua: perlawanan
baru terhadap pernyataan, 6:1-71. 4.
Perayaan Pondok-Daun: pernyataan
besar tentang Mesias, yang ditolak mentah-mentah 7:1 – 10:21. 5.
Hari Raya Pentahbisan Bait Allah:
keputusan membunuh Yesus, 10:22 – 11:54. 6.
Akhir karya Yesus dan persiapan untuk
Paskah yang terakhir, 11:55 – 12:50. II.
Saat
Yesus: Paskah Anak Domba Allah (13:1 – 20:31) 1.
Perjamuan terakhir Yesus
bersama murid-muridNya, 13:1 – 17:26. 2,
Penderitaan, 18 – 19. 3.
Cerita-cerita mengenai kebangkitan dan
kebahagiaan mereka yang percaya. 20:1-29. 4.
Penutup injil yang pertama,
20:30-31. III.
Kata penutup 21:1-25: Hidup Gereja
diberitakan dan kedatangan kembali Yesus diharapkan. Ada sebuah gagasan yang dapat ditarik dari pembagian
tersebut ialah: Yesus mengakhiri lembaga-lembaga keagamaan Yahudi dengan
menggenapinya. Adakah injil keempat berupa sebuah sumber tersendiri
dan asli yang menyampaikan informasi khas, di samping ketiga injil sinoptik?
Kalau benar demikian, manakah nilai historis injil Yohanes? Sehubungan dengan
pertanyaan pertama yang dirumuskan di muka, dengan hati-hati dapat diajukan
kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut: Dalam
Injil Yohanes ditemukan banyak petunjuk yang memberi kesan bahwa Yohanes
mengenal tradisi yang tercantum dalam ketiga injil lain. Khususnya perlu
diperhatikan bahwa injil keempat meninggalkan beberapa hal penting yang
tercantum dalam injil sinoptik. Ini hanya dapat dimengerti, kalau Yohanes
mengandaikan bahwa sidang pembaca sudah tahu akan hal-hal itu; di lain pihak ada
kalanya Yohanes ternyata mau memperincikan dan melengkapi tradisi para sinoptisi.
Namun demikian penyelidikan-penyelidikan modern semakin menonjolkan ciri asli
tradisi Yohanes yang tidak tergantung pada tradisi sinoptik. Bahkan dalam
menceritakan kejadian-kejadian yang sama Yohanes nampak begitu asli, sehingga
tak mungkin ia bergantung pada sinoptisi. Pengarang injil keempat mengenal
kejadian-kejadian itu melalui jalan lain dari jalan-jalan injil sinoptik. Ia
pantas dianggap sebagai sumber tersendiri, saksi asli dari tradisi purba.
Memanglah hubungan antara injil Yoh dan injil Luk jauh lebih erat dan boleh jadi
Lukas dalam menggubah injilnya mengenal dan menggunakan paling sedikit
tradisi-tradisi Yohanes (teristimewa dalam kisah sengsara dan kisah kebangkitan)
yang sudah lama ada, meskipun kiranya tidak mengenal injil keempat seperti
sekarang ada. Sebaliknya juga mungkin bahwa penggubahan injil Yohanes yang
terakhir terpengaruh oleh injil karangan Lukas.
Semakin mengakui bahwa injil keempat tidak tergantung, semnakin para ahli mengakui pula nilai
historisnya. Sehubungan
dengan urutan peristiwa-peristiwa riwayat hidup Yesus, Yohanes kerap kali
memerincikan lebih jauh apa yang dikisahkan para sinoptisi: misalnya lamanya
karya Yesus dan urutan peristiwa dalam kisah sengsara dalam injil Yohanes
nampaknya hebih tepat dari pada apa yang diceritakan injil-injil lain.
Sehubungan dengan penyucian Bait Allah injil keempat memuat keterangan mengenai
waktunya yang paling tepat di antara semua injil, 2:20, dan yang bersesuaian
dengan keterangan yang tercantum dalam Luk 3:1. Demikianpun
keterangan-keterangan mengenai tempat peristiwa-peristiwa terjadi dalam injil
keempat lebih terperinci dari pada keterangan-keterangan yang disampaikan oleh
injil-injil lain. Penggalian-penggalian modern di Palestina sudah beberapa kali
membenarkan keterangan injil Yoh (bdk kolam yang ada lima serambinya, 5:2).
Seluruh injil berisikan petunjuk-petunjuk kongkrit yang terperinci, sehingga
jelaslah si pengarang tahu baik-baik akan adat-istiadat keagamaan Yahudi,
mentalita para nabi, akan caranya para ahhi Taurat menafsirkan dan menerapkan
hukum Taurat. Akhirnya diri pribadi Yesus tetap seorang manusia sejati dengan
kerendahan hati dan kesederhanaan yang mengharukan, bahkan dalam adegan-adegan
yang paling “mulia” di mana Yesus yang dibangkitkan menampakkan diri kepada
murid-muridNya. Dan demikian halnya, meskipun pengarang injil keempat memang
menonjolkan transendensi Yesus. Selanjutnya karya Yohanes ini sama sekali tidak
dapat dipahami kalau orang menyangkal bahwa Yohanes yakin tentang kenyataan
historis kejadian-kejadian yang diceritakannya. Tetapi orang jangan keliru. Pengertian tentang
“sejarah” yang diandaikan injil keempat tentunya sangat berbeda dengan
pengertian seorang sejarawan modern. Apa yang paling penting bagi si penginjil
ialah: menonjolkan makna sebuah sejarah yang baik ilahi maupun manusiawi; memang
sebuah sejarah, tetapi juga sebuah teologi; berlangsung dalam waktu, tetapi
berurat-berakar dalam kekekalan. Pengarang injil keempat dengan teliti mau
menceritakan dan menyampaikan kepada kepercayaan manusia peristiwa rohani yang
terjadi di dunia oleh karena kedatangan Yesus Kristus, ialah penjelmaan Firman
demi keselamatan manusia. Karena itulah maka penginjil memilih dan khususnya
menonjolkan kejadian-kejadian yang menurut pendapatnya dapat mengandung suatu
nilai simbolis; dengan jalan itu pengarang memberi kejadian-kejadian itu suatu
kedalaman dan gema baru. Maka mujizat-mujizat yang diceritakan berupa “tanda”.
yang menyingkapkan kemuliaan Kristus dan melambangkan karunia yang diberikanNya
kepada dunia (pembasuhan yang baru, roti hidup, terang, hidup). Pengarang injil
sungguh mempunyai bakat untuk menangkap makna rohani yang terkandung dalam
kejadian-kejadian dan untuk menemukan di dalamnya rahasia-rahasia ilahi, juga
dalam peristiwa-peristiwa yang bukan mujizat (bdk 2:19-21; 9:7; 11:51 dst;
13:30; 19:31-37, dan catatan-catatannya). Pada kejadian-kejadian nyata dan
historis ia melihat sebuah dimensi rohani; Yesus ialah terang yang datang ke
dunia: perjuangan Yesus tidak lain kecuali perjuangan terang melawan kegelapan;
kematian Yesus ialah penghakiman dunia; seluruh kehidupanNya tidak lain
merupakan pemenuhan lambang-lambang Mesias yang terungkap dalam Perjanjian Lama:
Dialah Anak Domba Allah. 1:29, Bait Allah yang baru, 2:21, ular penyelamat yang
ditinggikan di padang gurun. 3:14, roti hidup yang mengganti Manna, 6:35,
Gembala yang baik, 10:11, pokok anggur yang benar, 15:1, dll. Gambaran Yesus
yang baik ilahi maupun manusiawi itu memberikan kepada tokoh historis itu
segenap dimensinya sebagai Penyelamat dunia. Jadi sehubungan dengan Yohanes
tidak bolehlah “simbolis” diperlawankan dengan “historis”; simbolismenya
ialah simbolisme kejadian-kejadian sendiri; simbolisme itu berpancar pada
sejarah, berurat-berakar di dalamnya serta mengungkapkan makna sejarah itu. Bagi
saksi unggul Firman yang menjadi daging itu, simbolisme itu tidak ada artinya,
kecuali dengan pra-syaratnya dalam sejarah. Soal terakhir yang perlu dikupas ialah: siapakah
pengarang injil yang begitu berisi dan majemuk itu? Hampir seluruh tradisi
Gereja bersehati menjawab Rasul Yohanes bin Zebedeus. Sudah dalam pertengahan
pertama abad II injil keempat dikenal dan dipergunakan oleh beberapa pujangga:
Ignatius dari Antiokhia, pengarang “Ode Salomo”, Papias, Yustinus;
barangkali Klemens dari Roma sudah mengenal dan menggunakan Yoh. Maka
terbuktilah bahwa injil itu sudah mempunyai wibawa rasuli. Saksi pertama yang
menyatakan hal itu dengan terang ialah Ireneus di sekitar th. 180. Katanya:
“Selanjutnya Yohanes, murid Tuhan ialah murid yang bersandar dekat kepadaNya,
juga menerbitkan sebuah injil selama tinggal di Efesus”. Hampir pada masa yang
sama Klemens dari Aleksandria, Tertulianus, Kanon Muratorius dengan jelas
menyatakan bahwa injil keempat dikarang oleh rasul Yohanes. Kalau pada peralihan
dari abad II ke abad III ada sementara orang yang berpendapat lain, maka mereka
mau menentang pengikut-pengikut Montanus yang menyalah-gunakan injil Yohanes
untuk mendukung ajaran sendiri. Hanya pendapat lain itu tidak se berapa artinya
dan oleh karena berdasarkan pertimbangan teologis tidaklah berakar dalam tradisi. Dalam injil sendiri tidak terdapat sesuatu yang
berlawanan dengan tradisi itu. Sudah dikatakan di muka, bahwa injil itu
memperkenalkan diri sebagai kesaksian seorang murid yang dikasihi Tuhan, seorang
yang dengan mata kepala sendiri menyaksikan kejadian-kejadian yang dikisahkannya.
Bahasa serta gaya bahasanya menyatakan bahwa injil itu berasal dari lingkungan
ke-Yahudi-an; ia baik-baik mengenal adat-istiadat Yahudi dan juga keadaan
setempat di Palestina di zaman Kristus. Nampaknya ia bersahabat dengan Petrus,
13:23 dst; 18:15; 20:3-10; 21:20-23. Dan Lukas memberitahukan bahwa memanglah
demikian halnya dengan Yohanes, Luk 22:8; Kis 3:1-4, 11; 4:13, 19; 8:14.
Akhirnya, bagaimana dapat dijelaskan kenyataan bahwa injil keempat sama se kali
mendiamkan kedua anak Zebedeus? Keterangan yang paling tepat ialah: seorang di
antaranya menuliskan injil itu, “Murid yang dikasihi Yesus ... dialah yang
menuliskan semuanya”, 21:24, ialah murid yang bersama dengan Petrus dan
Yakobus diutamakan oleh Yesus, Mrk 5:37; 9:2; 13:3; 14:33. Ada sementara orang
yang berkata bahwa tak mungkin rasul Yohanes menulis injil keempat. Sebab ada
berita bahwa rasul Yohanes mati sahid lama sebelumnya. Jadi mustahillah ia
menulis injil yang dikatakan karangannya. Dan benar juga, ada sebuah tradisi
yang mengatakan bahwa Yohanes mati sahid. Hanya adakah tradisi itu lebih
berwibawa dari pada tradisi lain yang menyatakan bahwa Yohanes hidup di kota
Efesus sampai usia lanjut? Dan kalau ada tradisi yang berkata tentang Yohanes
sebagai martir, namun ia tidak berkata apa-apa tentang kapan itu terjadi? Dari
lain pihak sebagaimana sudah dikatakan di atas, tradisi-tradisi Yohanes pasti
sudah terbentuk di masa lalu, kalaupun injil baru digubah dan diterbitkan jauh
kemudian dari itu dan kiranya oleh murid-murid Yohanes. Dari sebab itu tetap
mungkin bahwa injil keempat benar-benar berasal dan Yohanes, juga seandainya
rasul itu sendiri mengalami kemartiran. Surat-surat Yohanes Di samping injil masih ada tiga
surat yang oleh tradisi diperkenalkan sebagai surat-surat Yohanes.
Memanglah ditinjau dan segi sastra dan ajaran karangan-karangan itu sangat
berdekatan dengan injil keempat, sehingga sukar memisahkannya dari injil serta
pengarangnya, ialah rasul Yohanes. Surat kedua dan ketiga tentu menimbulkan
kebimbangan dan keraguan, sebagaimana sudah ternyata dalam karya Origenes,
Eusebius dari Kaisarea dan Hieronimus; lama sekali kedua surat itu hanya
diterima oleh jemaat di Antiokhia dan jemaat-jemaat lain di Siria sebagai Kitab
Suci. Tetapi karena cirinya sebagai surat-surat kecil saja yang tidak penting
sama sekali untuk ajaran Kristen, maka tidak dapat dipahami bagaimana
surat-surat itu akhirnya berhasil diterima, kalau bukan benar-benar karangan
Yohanes. Surat ketiga kiranya surat yang ditulis paling dahulu. Maksud surat itu ialah membereskan suatu pertikaian mengenai kewibawaan yang timbul dalam salah satu jemaat yang termasuk wewenang rasul Yohanes. Surat kedua berupa sebuah peringatan tertuju kepada jemaat lain, supaya hati-hati terhadap propaganda yang dilancarkan oleh sementara pengajar sesat yang menyangkal penjelmaan Kristus yang sesungguhnnya. Adapun surat pertama adalah jauh lebih penting. Nampak sebagai semacam surat edaran yang tertuju kepada jemaat-jemaat di Asia kecil yang terancam perpecahan akibat bidaah-bidaah pertama. Dalam surat itu Yohanes menyarikan unsur-unsur hakiki pengalaman keagamaan. Dengan bertitik-tolak beberapa pokok sejalan yang susul menyusul (terang, 1:5 dst, “pembenaran”, 2:29 dst, kasih, 4:7-8 dst, kebenaran, 5:6 dst) ia mau memperlihatkan hubungan erat yang tidak dapat tidak terjalin antara kita sebagai anak Allah dan akhlak benar, yang tidak lain kecuali kesetiaan rangkap dua pada iman akan Kristus, Anak Allah, dan pada kasih persaudaraan. Karena gaya bahasa dan ajarannya maka surat inilah yang paling dekat dengan injil. Maka surat pertama itu dikarang pada masa yang sama, tetapi tidak lagi dapat dipastikan apakah surat mendahului injil atau sebaliknya.
|