|
KITAB-KITAB TAWARIKH, EZRA DAN NEHEMIA
Di
samping karya sejarah dari tradisi Ulangan yang merangkum kitab Hakim-hakim,
Samuel dan Raja-raja, masih ada sekelompok kitab-kitab sejarah lain dalam
Perjanjian Lama. Bagian besar kitab-kitab ini mengulang sejarah yang termaktub
dalam kitab-kitab sejarah yang dahulu, sedangkan sebagiannya melanjutkan sejarah
itu. Termasuk ke dalam kelompok kitab-kitab sejarah yang lain itu kitab-kitab
Tawarikh, kitab Ezra dan (menurut pendapat umum) kitab Nehemia. Kedua kitab
Tawarikh aslinya hanya satu kitab saja. Kitab Ezra dan Nehemia tidak lain
kecuali lanjutan dari
kitab Tawarikh itu dan
dikerjakan oleh pengarang yang sama. Sebab dalam kitab Ezra-Nehemia tidak hanya
ditemukan gaya bahasa dan gagasan-gagasan pokok yang sama, tetapi Ezr 1 hanya
mengulang akhir 2 Taw 36. lni cukup membuktikan, bahwa kitab Tawarikh dan kitab
Ezra-Nehemia sejak awal mula dimaksudkan sebagai suatu kesatuan. Maka Kitab-kitab Tawarikh (judul
ini menterjemahkan judul Ibrani; dalam terjemahan Yunani, Septuaginta, dan dalam
terjemahan Latin, Vulgata, diberi judul: Paralipomena, artinya: [Kitab-kitab
yang memuat] apa yang terlupa atau dilewatkan) adalah sebuah karya yang berasal dari agama Yahudi di zaman
belakangan, dari zaman sesudah
pembuangan. Di zaman itu bangsa Israel tidak lagi mempunyai kemerdekaan politik,
namun menikmati semacam otonomi yang diakui oleh para penguasa di kawasan timur.
Bangsa Yahudi langsung dipimpin oleh para imam dan hidupnya diatur oleh hukum
agamanya sendiri. Hidup kebangsaan berpusatkan Bait Allah serta upacara upacara
ibadahnya. Tetapi kehidupan yang bertumpu pada hukum agama dan upacara itu
dijiwai kesalehan pribadi, ajaran hikmat, kenangan-kenangan akan kejayaan dan
kesalahan di masa yang lampau serta kepercayaan pada janji-janji yang
disampaikan para nabi dahulu. Pengarang kitab Tawarikh (dan Ezra-Nehemia) adalah seorang dari
kaum Lewi di Yerusalem dan
berlatar-belakang suasana dan lingkungan tsb. Ia menyusun kitabnya agak lama
sesudah zaman Ezra dan Nehemia, sebab dengan caranya sendiri ia dapat
menggabungkan sumber-sumber yang mengenai kedua tokoh itu. Dengan paling tepat
kiranya karyanya dapat ditanggalkan pada awal zaman Yunani, sebelum thn 300 seb.
Mas. Kemudian kitab Tawarikh masih diperluas dengan beberapa tambahan yang
disisipkan oleh satu atau beberapa orang: silsilah-silsilah yang termaktub dalam
1 Taw 2-9 diperluas; ditambah beberapa daftar nama, seperti mungkin sekali
daftar nama pendukung raja Daud, 1 Taw 12, yang sudah tua usianya, dan lagi
daftar-daftar para imam dan kaum Lewi, 1 Taw 15; akhirnya disisipkan juga
tambahan panjang, 1 Taw 23:3 - 27:34, yang menyebut para pejabat serta petugas
ibadah dan administrasi kerajaan Daud. Bagian-bagian tambahan itu memang sejalan dengan pikiran dan selera si
Muwarikh dan boleh jadi diambil dari
dokumen-dokumen yang bermutu. Pengarang kitab Tawarikh khususnya memberi perhatian kepada Bait Allah.
Dalam kitabnya kaum rohaniwan berperan utama. Ke dalam kalangan kaum rohaniwan
itu tidak hanya termasuk para imam dan kaum Lewi, seperti halnya dalam kitab
Ulangan dan dalam bagian-bagian Pentateukh yang berasal dan kalangan para imam,
tetapi juga pejabat dan petugas ibadah yang lebih rendah kedudukannya, seperti
para penunggu pintu Bait Allah dan para penyanyi. Sejak zaman Taw mereka
disamakan dengan Kaum Lewi. Pengudusan para rohaniwan merangkum juga kaum awam.
Mereka juga ikut serta dalam persembahan korban penghapus dosa, yang nilainya
dahulu dipulihkan dalam Taw. Persekutuan suci itu tidak hanya merangkum
orang-orang Yahudi melulu. Dengan melewati kerajaan Israel yang murtad dan yang
sesedikit mungkin dibicarakan, si Muwarikh kembali kepada kedua belas suku
sebagaimana dipersatukan oleh raja Daud. Dan dengan melewati masa sekarang ia
menantikan saatnya semua bani Israel bersatu kembali. Bahkan orang-orang bukan
Yahudi turut didoakan dalam ibadah Bait Allah. “Israel” dalam pandangan si
Muwarikh ialah seluruh umat yang setia, yang dengannya Allah pernah mengikat
perjanjian. Dan dalam diri Daud, Allah membaharui perjanjian dengan umatNya itu.
Justru di zaman pemerintahan Daud itulah syarat-syarat bagi pemerintahan Allah,
ialah teokrasi, menjadi terwujud dengan cara yang paling sempurna. Maka jemaat
harus hidup sesuai dengan semangat Daud dan senantiasa berusaha membaharui
dirinya dengan kembali kepada adat-istiadat zaman itu, agar supaya Allah tetap
merelai umatNya dan menepati janjiNya. Dalam kisah sejarah panjang yang termaktub dalam kitab si Muwarikh,
perhatian seluruhnya berpusatkan Bait Allah di Yerusalem serta ibadahnya, mulai
dengan persiapan-persiapannya di zaman Daud sampai dengan pemulihannya yang
dikerjakan oleh jemaat Israel yang kembali dari
pembuangan. Cita-cita penyusun kitab Tawarikh itupun menentukan susunan karyanya.
Bab-bab pertama, 1 Taw 1-9, menyajikan
sejumlah silsilah yang secara khusus mengenai suku Yehuda, keturunan Daud, suku
Lewi dan penduduk kota Yerusalem. Bagian ini merupakan pendahuluan bagi kisah mengenai Daud yang merangkum bagian terakhir
I Taw (10-29). Pertikaian-pertikaian Daud dengan raja Saul tidak disinggung sama
sekali. Demikianpun dosa Daud dengan Batsyeba dan hal-ihwal keluarga Daud serta
pemberontakan-pemberontakan yang harus dihadapinya tidak sampai disebut-sebut.
Sebalik nya, nubuat Natan, 1 Taw 17, ditonjolkan dan perhatian khusus diberikan
kepada lembaga-lembaga keagamaan: Tabut Perjanjian yang dipindahkan ke Yerusalem
dan pengaturan ibadah di sana, 1 Taw 13,15-16, serta persiapan-persiapan bagi
pembangunan Bait Allah, 1 Taw 21-29. Daud sendiri sudah merencanakan pembangunan
itu, mengumpulkan bahan dan sampai dengan hal-hal kecil mengatur tugas para
pejabat ibadah. Pelaksanaan rencana itu dipercayakan kepada putera Daud, Salomo.
Bagian terbesar dari
kisah tentang raja Salomo, 2
Taw 1-9, mengenai pembangunan Bait Allah, doa yang diucapkan raja pada hari
pentahbisan Bait Allah dan janji-janji Allah yang merupakan balasan atas usaha
Salomo. Setelah sejarah sampai kepada perpecahan dalam umat Israel, pengarang
Taw hanya berbicara tentang kerajaan Yehuda dan keturunan Daud saja. Para raja
dinilai olehnya sesuai dengan kesetiaan atau ketidak-setiaan mereka pada
syarat-syarat perjanjian dan sesuai dengan caranya mereka mendekati atau
menjauhi contoh dan teladan mereka ialah Daud, 2 Taw 10-36. Sepanjang sejarah
itu masa kemerosotan dan masa pembaharuan silih berganti. Pembaharuan yang
paling mendalam diusahakan oleh raja Hizkia dan raja Yosia. Para raja fasik yang
mengganti Yosia hanya mempercepat kehancuran. Namun demikian kitab Tawarikh
ditutup dengan berita mengenai izin yang diberikan oleh raja Persia, Koresy, untuk membangun kembali Bait Allah di Yerusalem. Lanjutan
kisah kitab Taw ditemukan dalam kitab Ezra dan Nehemia. Dalam menyusun karyanya si Muwarikh memanfaatkan terutama kitab-kitab yang
sekarang termasuk Kitab Suci. Kitab Kejadian dan Bilangan dipergunakan untuk
menyusun silsilah-silsilah dalam bagian pertama 1 Taw. Untuk sejarah selanjutnya
terutama dipakai kitab Samuel dan kitab Raja-raja. Hanya kitab-kitab itu
dipergunakan dengan bebas sekali. Pengarang memilih bahan yang sesuai dengan
pandangan dan maksudnya sendiri dan iapun menambah bahan atau menghilangkan apa
yang dianggap tidak sesuai. Akan tetapi pengarang Taw tidak pernah menyebut
kitab-kitab yang dapat kita selidiki. Sebaliknya, ia menyebut sejumlah karya
lain sebagai sumber-sumbernya, yaitu: Kitab Raja-raja Israel, 1 Taw 9:1; Kitab
Raja-raja Yehuda dan Israel, 2 Taw 16:11; Tafsiran (midrasy) Kitab Raja-raja, 2
Taw 24:17; iapun menyebut Riwayat Samuel, Pelihat, dan Riwayat nabi Natan serta
Riwayat Gad, Pelihat, 1 Taw 29:29, dan lagi disebutkan Riwayat Semaya, nabi itu,
dan Ido, Pelihat itu, 2 Taw 12:15, Kitab Sejarah Nabi Ido, 2 Taw 13:22, dll.
Semua tulisan itu tidak kita kenal dan isi serta hubungan tulisan-tulisan itu
satu sama lain dan dengan kitab-kitab yang kita kenal, menjadi pokok perbedaan
pendapat para ahli Kitab. Tulisan-tulisan itu barangkali memberi laporan tentang
pemerintahan beberapa raja dalam sorotan nabi-nabi yang tampil di zaman mereka.
Dapat disangsikan apakah pengarang Taw juga memanfaatkan tradisi lisan. Oleh
karena penyusun Taw mempunyai sumber-sumber yang tidak kita kenal dan yang
mungkin dapat dipencayai, maka tidak perlu mengambil sikap yang pada pokoknya
mencurigai segala sesuatu yang oleh penyusun ditambahkan pada berita-berita yang
tercantum dalam kitab-kitab
yang kita kenal, yaitu yang tercantum dalam Alkitab sendiri. Tiap-tiap tambahan
dan peruhahan perlu diselidiki satu demi satu. Penyelidikan-penyelidikan yang
terbaru dalam banyak hal membenarkan pengarang Taw dan membelanya terhadap
keraguan dan rasa curiga yang terdapat pada sejumlah besar ahli Kitab. Telapi
jelas pulalah, hahwa Taw kadang-kadang memberi informasi yang tidak dapat
disesuaikan dengan apa yang disajikan dalam Kitab Samuel dan kitab Raja-raja.
Pengarang juga kadang-kadang dengan sengaja merubah apa yang dikisahkan dalam
kitab-kitab tsb. Sudah barang tentu cara kerja semacam itu tidak dapat
dibenarkan pada seorang ahli ilmu sejarah modern yang wajib menceriterakan
peristiwa-peristiwa sambil menjelaskan hubungan timbal-balik antara
peristiwa-peristiwa itu. Namun mengingat tujuan pengarang Taw, cara kerjanya
dapat diterima. Sebab ia bukan ahli ilmu sejarah, tetapi ahli ilmu ketuhanan.
Dalam cahaya pengalaman-pengalaman masa yang lampau, khususnya pengalaman di
zaman Daud, pengarang memikirkan manakah syarat-syarat bagi sebuah kerajaan
idiil. Ia menggabungkan masa yang lampau, masa sekarang, dan masa depan menjadi
suatu sintesa: seluruh ibadah yang rapih teratur sebagaimana dilihatnya di
zamannya sendiri dibuatnya berasal dan raja Daud; segala sesuatu yang dapat
merugikan gambaran pahlawannya itu dihilangkan. Meskipun dalam kitabnya ada
infonmasi yang kebenarannya dapat diperiksa, namun karya si Muwarikh lebih
berharga sebagai suatu gambaran tentang keadaan dan pikiran di zamannya sendiri
daripada sebagai rekonstruksi historis dari masa yang lampau. Memanglah si Muwarikh, menulis karyanya untuk orang-orang
sezamannya. Ia
mengingatkan mereka, bahwa eksistensi bangsa tergantung pada kesetiaannya kepada
Allah dan bahwa kesetiaan itu menyatakan diri dalam ketaatan kepada hukum Taurat
dan dalam ibadah yang secara teratur dijalankan dengan dijiwai kesalehan sejati.
Ia ingin, bahwa bangsanya menjadi sebuah jemaat yang kudus, sehingga baginya
janji-janji yang diberikan kepada Daud digenapi. Orang-orang Yahudi saleh yang
hidup di zaman Kristus dijiwai semangat si Muwarikh, walaupun ada kalanya dengan
penyelewengan-penyelewengan yang tidak diinginkan pengarang Taw. Ajaran Taw
memang berharga dan bermutu bagi segala zaman. Ia mengajar, bahwa hidup rohani
perlu diutamakan dan bahwa Allah membimbing segala kejadian di dunia. Malahan
ajarannya itu khususnya perlu direnungkan di masa kini. Sebab rasa-rasanya
dewasa ini semangat keduniaan menangguhkan ditegakkannya Pemerintahan Allah
untuk waktu yang tidak tentu. Kitab Ezra dan
Kitab Nehemia dalam Alkitab Ibrani dan Yunani (Septuaginta) hanya satu kitab
saja. Kitab itu berjudul: Kitab Ezra.
Septuaginta juga memuat sebuah kitab Ezra apokrip. Kitab itu ditempatkan sebelum
kitab Ezr-Neh dan karenanya disebut kitab
1 Ezra, sedangkan kitab Ezr-Neh kita
disebut Kitab 2 Ezra. Di zaman Kristen
barulah kitab Ezra yang satu itu dibagi menjadi dua kitab Ezra. Pembagian itu
dituruti dalam terjemahan Latin, Vulgata, juga. Kitab 1 Ezra ialah kitab Ezra dan kitab
2 Ezra ialah Kitab Nehemia. Kitab Ezra yang apokrip itu dalam Vulgata
disebut kitab 3 Ezra. Adat menyebutkan
kitab-kitab itu menurut nama tokoh utamanya, yakni Ezra dan Nehemia, berasal
dari zaman kemudian. Dalam terbitan tercetak Alkitab Ibrani kedua nama itu juga
dipakai. Kitab Ezr-Neh merupakan lanjutan kitab Taw, sebagaimana dikatakan di
muka.
Sesudah lima puluh tahun pembuangan di Babel yang tidak tersinggung sama sekali,
kitab Ezr-Neh menyambung kisah Taw dengan memberitahu tentang maklumat raja
Koresy yang dalam thn 538 seb. Mas. mengizinkan orang-orang Yahudi kembali ke
Yerusalem guna membangun Bait Allah. Orang-orang Yahudi yang kembali segera
mulai membangun Bait Allah, tetapi pekerjaan itu terpaksa dihentikan akibat
perlawanan dari pihak orang-orang Samaria. Pekerjaan baru diteruskan di zaman
pemerintahan raja Darius I. Pembangunan Bait Allah diselesaikan pada thn 515 seb.
Mas, Usaha membangun tembok-tembok kota Yerusalem selama setengah abad berikut
diperhambat juga oleh orang-orang Samaria, Ezr 1-6. Di zaman pemerintahan
Artahsasta pulanglah ke Yerusalem Ezra disertai serombongan kaum buangan yang
baru. Ezra itu adalah seorang pejabat-penulis dan ahli Kitab yang di istana raja
Persia menangani urusan bangsa Yahudi. Ia diberi surat kuasa raja untuk
mewajibkan jemaat Yahudi mematuhi hukum Taurat yang diakui sebagai hukum negara.
Terpaksa Ezra bertindak keras terhadap orang-orang Yahudi yang telah menikah
dengan perempuan bangsa lain, Ezr 7-10. Kemudian Nehemia yang menjabat juru
minuman di istana raja Artahsasta meminta, supaya diutus ke Yerusalem untuk
mendirikan tembok kota. Dalam waktu singkat pekerjaan itu selesai, kendati
perlawanan para musuh; lalu kota dihuni kembali, Neh 1:1 - 7:72a. Dalam pada itu
Nehemia diangkat menjadi bupati di Palestina. Adapun Ezra mengadakan pembacaan
hukum Taurat secara meriah, lalu Hari raya Pondok Daun dirayakan. Pada
kesempatan itu umat mengadakan pengakuan dosa umum dan berjanji akan
melaksanakan hukum Taurat yang dibacakan, Neh 7:72b - 10:40. Kemudian masih
menyusul beberapa daftar nama orang, beberapa tindakan pelengkap yang diambil
Nehemia dan peresmian tembok Yerusalem, Neh 11:1 - 13:3. Lalu Nehemia sebentar
kembali ke Persia, tetapi untuk kedua kalinya diutus ke Palestina untuk
membereskan kekacauan yang merambat dalam jemaat Yahudi, Neh 13:4-31. Melihat
ringkasan tsb. jelaslah sudah betapa penting kitab Ezr-Neh itu guna mengenal
sejarah pemulihan bangsa Yahudi di zaman sesudah pembuangan. Bab-bab pertama
kitab itu melengkapi keterangan-keterangan yang dapat diambil dari kitab Hagai,
kitab Zakharia dan kitab Maleakhi. Tetapi kitab Ezr-Neh merupakan satu-satunya
sumber mengenai karya Ezra dan Nehemia. Kitab Ezr-Neh dikarang sebelum Taw
disusun dan menggunakan serta mengutip secara harafiah beberapa dokumen yang
sezaman dengan peristiwa-peristiwanya, yakni: daftar-daftar
orang yang pulang dari pembuangan,
daftar-daftar penduduk Yerusalem, keputusan dan penetapan raja-raja Persia, dan
khususnya laporan yang dibuat Ezra mengenai pelaksanaan tugasnya serta Riwayat
Nehemia yang ditulisnya dengan tangan sendiri. Meskipun sumbernya banyak, namun penafsiran kitab Ezr-Neh mengalami banyak
kesulitan. Sebab dokumen-dokumen yang dipakai tersusun secara tidak keruan.
Daftar nama para imigran sampai dua kali ditemukan, Ezr 2 dan Neh 7. Dalam
bagian kitab Ezr yang ditulis dengan bahasa Aram, Ezr 4:6 - 6:18,
peristiwa-peristiwa yang terjadi di zaman raja Darius diceriterakan segera
sesudah peristiwa di zaman raja Koresy dan Artahsasta, meskipun terjadi lima
puluh tahun sesudahnya. Dokumen-dokumen yang berasal dari
Ezra dan Nehemia sendiri
diuraikan dahulu, lalu dicampur-adukkan dan dipersatukan kembali. Dengan
memanfaatkan petunjuk-petunjuk jelas yang terdapat di dalamnya, maka laporan
Ezra dapat direkonstruksikan sbb: Ezr 7:1 - 8:36; Neh 7:72b-8:18; Ezr 9:1-10:44;
Neh 9:1-37. Tetapi dokumen Ezra itu oleh penyusun kitab diolah. Bagian-bagian tertentu
menjadi pemberitahuan tentang Ezra seolah-olah dia itu seorang lain dari
penulis; ditambahkan daftar
nama orang-orang yang bersalah, Ezr 10; 18,20-44, doa-doa yang terdapat dalam
Ezr 9:6-if, dan Neh 9:6-37. Riwayat Nehemia terdapat ciaiam Neh 1-2; 3:33 - 7:5;
12:27 - 13:31. Penyusun kitab menyusupkan ke dalamnya sebuah dokumen tentang
pembangunan tembok kota, 3:1-32; daftar nama orang-orang yang kembali dari
pembuangan, Neh 7 diambil dari Ezr
2. Bab 10 adalah sebuah dokumen lain yang berasal dari arsip dan yang mengesahkan keputusan yang diambil jemaat di masa jabatan
Nehemia yang kedua, Neh 13. Kerangka bab 11 merupakan buah pena penyusun kitab
sendiri, tetapi ditambahkan daftar penduduk Yerusalem dan Yehuda serta, dalam
bab 12, daftar nama para imam dan kaum Lewi. Jelaslah, bahwa si Muwarikh bermaksud menyusun kitabnya sedemikian rupa sehingga membenikan suatu gambaran menyeluruh tentang salah satu persoalan. Dalam Ezr 1-6 perhatian dipusatkan pada pembangunan Bait Allah di zaman raja Darius. Oleh karenanya pengarang mengumpulkan di situ berita-berita mengenai kaum buangan yang berturut-turut kembali; ia mengaburkan peranan Sesbazar guna menampilkan peranan Zerubabel dan mengumpulkan apa saja yang bernada melawan orang-orang Samaria. Dalam bagian-bagian kitab yang berikut pengarang menonjolkan Ezra dan Nehemia sebagai dua tokoh yang bekerja sama dalam menangani usaha yang sama. Cara kerja yang sedemikian itu menghadapkan para ahli ilmu sejarah pada persoalan-persoalan yang sukar dipecahkan.
Soal yang paling ruwet dan paling diperdebatkan ialah urutan peristiwa-peristiwa
dalam waktu. Menurut urutan yang dipaparkan dalam kitab Ezr-Neh sendiri, maka
Ezra datang ke Yerusalem pada thn 458 seb. Mas., yaitu dalam tahun ketujuh
pemerintahan Artahsasta I, Ezr 7:8.
Nehemia menyusulnya dalam thn 445, yaitu dalam tahun kedua puluh pemerintahan
raja yang sama, Neh 2:1. Nehemia tinggal di Yerusalem selama dua belas tahun,
Neh 13:6, jadi sampai th 433. Lalu ia kembali ke Persia untuk waktu yang tidak
pasti lamanya. Kemudian ia datang lagi ke Yerusalem untuk kedua kalinya, masih
juga di masa pemerintahan Artahsasta I, yang baru meninggal dunia dalam thn 424
seb. Mas. Urutan tradisionil ini tetap di pertahankan oleh sejumlah ahli
Kitab yang ternama. Hanya mereka membatasi lamanya tugas Ezra menjadi satu
tahun saja, sesuai dengan petunjuk-petunjuk jelas yang terjumpai dalam kitab itu
sendiri. Mereka berpendapat, bahwa Ezra kembali ke Persia sebelum Nehemia datang
ke Yerusalem. Ahli-ahli lain membalikkan urutan tradisionil itu. Mereka
berpendapat, bahwa karya Ezra mengandaikan, bahwa karya Nehemia sudah selesai
waktu Ezra datang ke Yerusalem. Tanggal-tanggal yang dalam kitab Ezr-Neh
dihubungkan dengan Ezra sebenarnya tidak mengenai masa pemerintahan Artahsasta
I, sebagaimana halnya dengan masa jabatan Nehemia, tetapi masa pemerintahan
Artahsasta II. Ezra baru datang ke Yerusalem dalam thn 398 seb. Mas. Dengan
menyetujui pendapat, bahwa Ezra datang ke Yerusalem sesudah Nehemia tetapi
dengan menolak pendapat, bahwa ada penggantian raja di Persia (yang sekali-kali
tidak disinggung dalam Ezr-Neh), beberapa ahli baru-baru ini menempatkan
kedatangan Ezra ke Yerusalem antara kedua masa jabatan Nehemia. Untuk
mempertahankan pendapat itu mereka terpaksa merubah Ezr 7:8 begitu rupa,
sehingga Ezra tidak datang ke Yerusalem dalam tahun ketujuh pemerintahan
Artahsasta I, tetapi dalam tahun ketiga puluh tujuh pemerintahannya, jadi dalam
thn 428 seb. Mas. Masing-masing pendapat dapat mengemukakan bukti-bukti yang masuk akal,
walaupun tidak satupun pendapat terluput dari kesulitan.
Maka masalahnya tetap terbuka. Hanya satu hal yang pasti, yakni: Nehemia
berkarya di Yerusalem antara thn 445 dan 433 seb. Mas. Kalau ditanyakan, mana makna keagamaan kitab Ezr-Neh, maka masalah-masalah
seperti yang di atas hanya merupakan masalah sampingan saja. Sesuai dengan
maksud penyusun, maka kitab Ezr-Neh menyajikan sebuah sintesa, suatu gambaran
menyeluruh, tetapi tidak menipu mengenai pemulihan bangsa Yahudi sesudah masa
pembuangan. Untuk memahami pemulihan itu, maka gagasan dan cita-cita yang
menjiwainya lebih penting dari pada
urutan peristiwa-peristiwa yang tepat. Berkat politik liberal yang dianut wangsa
Akhimedes dalam wilayah kekuasaannya, maka orang-orang Yahudi dapat kembali ke
Tanah yang dijanjikan. Mereka dapat memulihkan ibadah, membangun kembali Bait
Allah dan mendirikan tembok Yerusalem. Mereka dapat hidup bermasyarakat dengan
dipimpin oleh orang-orang sebangsanya dan sesuai dengan hukum Musa. Tentu saja
mereka harus setia pada raja Persia. Tetapi kesetiaan itu tidak menjadi soal
bagi mereka. Sebab pemerintah pusat tidak mengganggu adat istiadat mereka
sendiri. Semuanya itu merupakan suatu kejadian yang penting sekali, sebab ini
tidak lain kecuali lahirnya agama Yahudi yang disiapkan melalui
renungan-renungan di masa pembuangan yang lama dan didorong oleh usaha beberapa
tokoh yang tampil tepat pada waktunya. Zerubabel
membangun kembali Bait Allah. Tokoh ini oleh pengarang Ezr-Neh tidak dianggap
sebagai semacam Mesias, seperti dipandang oleh nabi Hagai dan Zakharia, Hag
2:23; Za 6:12. Kemudian Ezra dan Nehemia menjadi penintis pemulihan tsb. Bapa
agama Yahudi yang sebenarnya ialah Ezra oleh karena tiga gagasan pokok yang
ditanamnya dalam umat Yahudi, yaitu: Mereka adalat suatu bangsa terpilih.; Bait
Allah menjadi pusatnya; hukum Taurat menjadi pengaturnya. Ezra bersikap keras
yang tidak kenal kompromis dalam melaksanakan pembaharuan dan itu memupuk
partikularisme yang dibebankan olehnya kepada bangsanya. Hanya sikap Ezra itu
dapat dipahami juga mengingat imannya yang hangat serta tugasnya menjaga
kemurnian masyarakat yang baru dipulihkan. Ezralah yang merupakan moyang para
ahli Kitab dan peranannya dalam tradisi Yahudi semakin meningkat. Nehemia
mengabdikan diri kepada cita-cita yang sama, tetapi karyanya di bidang lain. Di
Yerusalem yang dibangun kembali olehnya lalu dihuni kembali, Nehemia menciptakan
syarat-syarat hidup bernegara dan memberi bangsanya semangat kebangsaan. Melalui
riwayatnya yang lebih pribadi dari pada
laporan Ezra kita mengenal kepribadian Nehemia sebagai seseorang yang halus
perasaannya dan berperikemanusiaan, sebagai seseorang yang tidak segan
mengorbankan diri, yang bijaksana dan teliti serta mengandalkan Allah sambil
sering berdoa kepadaNya. Lama sekali tokoh ini dikenang dan Bin Sirakh
mengangkat lagu pujian mengenai “dia yang membangun kembali tembok-tembok yang
roboh” (Sir 49:1 3). Tidak mengherankan, bahwa penyusun Ezr-Neh melihat cita-cita yang
dipuji-pujinya dalam kitab Taw terwujud dalam jemaat yang berpusatkan Bait Allah
dan dipimpin oleh hukum Taurat. Sudah barang tentu si Muwarikh insaf, bahwa
perwujudan itu kurang sempurna, sehingga masih perlu juga orang menantikan
sesuatu yang lain. Tetapi lebih dari pada
dalam kitab Taw, si Muwarikh dalam kitab Ezr-Neh terikat pada dokumen-dokumen
yang dipergunakannya. Maka ía mempertahankan nada partikularisme yang
dibenarkan oleh keadaan konkrit dan yang terdapar dalam dokumen-dokumen itu.
Sesuai dengan dokumen-dokumen itupun ía tidak berbicara mengenai pengharapan
akan Mesias kelak, yang tidak disuarakan oleh dokumen-dokumen itu oleh karena
penulis-penulisnya merasa setia terhadap raja-raja Persia. Pengarang Ezr-Neh menyusun karyanya itu di pertengahan abad ke-3-4 seb. Mas. Masa itu kita sangat kurang mengenalnya. Tetapi justru di zaman itu Yerusalem diam-diam membangun dirinya serta mnemperdalam kerohaniannya dalam suasana terpencil.
|