|
SURAT-SURAT PAULUS Kronologi
kehidupan Paulus Dengan menggunakan Kisah Para Rasul dan surat-surat
Paulus, maka tokoh ini lebih kita kenal daripada tokoh-tokoh lain dalam
Perjanjian Baru. Kedua sumber, yang masing-masing berdiri sendiri ini saling
menguatkan dan melengkapi, meskipun ada kelainan-kelainan dalam soal-soal kecil.
Kita malahan dapat menyusun suatu kronologi riwayat hidup Paulus secara lebih
kurang teliti, karena bertepatannya beberapa peristiwa dalam riwayat hidup
Paulus dengan kejadian-kejadian yang kita ketahui menurut ilmu sejarah, seperti
waktunya Galio menjabat prokonsul di Korintus, Kis 18:12, dan tahun Festus
menggantikan Feliks, Kis 24:27-25:1, sebagai wali negeri di Palestina. Paulus dilahirkan di Tarsus di Kilikia. Kis 9:11;
21:39; 22:3, kira-kira tahun 10 Mas. dari keluarga Yahudi suku Benyamin, Rom
11:1; Flp 3:5 dan yang telah menjadi warga negara Roma, Kis 16:37 dst; 22:25-28;
23:27. Semasa mudanya Paulus dididik di Yerusalem oleh GamaliEf yang memberinya
pengajaran mendalam tentang agama Yahudi sesuai dengan ajaran mazhab Farisi, Kis
22:3; 26:4 dst; Gal 1:14; Flp 3:5. Dengan kejam Paulus menganiaya agama Kristen
yang baru muncul, Kis 22:4 dst: 26:9-12: Gal 1:13; Flp 3:6, dan berurusan dengan
pembunuhan atas diri Stefanus, Kis 7:58; 22:20; 26:10. Tetapi kira-kira tahun 34
seluruh hidup Paulus yang sedang di perjalanan ke kora Damsyik diubah oleh
penampakan Yesus yang telah bangkit dari alam maut. Tuhan yang bangkit
menyatakan kepadanya benarnya agama Kristen dan bahwa tugasnya yang khas ialah
mewartakan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi, Kis 9:3-16 dst: Gal 1:12,15
dst; Ef 3:2. Sejak saat itu Paulus merelakan hidupnya untuk mengabdi Kristus,
yang secara pribadi telah “menangkapnya” untuk dijadikan pengikutNya, Fil
3:12. Sesudah tinggal beberapa lamanya di Arabia, Paulus kembali ke Damsyik, Gal
1:17, dan mulai mewartakan Kristus di sana, Kis 9:20. Sesudah sebentar mengunjungi Yerusalem, Gal 1:18; Kis
9:26-29, maka dalam tahun 39 Paulus pergi ke Siria dan Kilikia, Gal 1:21; Kis
9:30, sampai Barnabas mengajaknya kembali ke Antiokhia, di mana mereka mengajar
bersama, Kis 11:25 dst dan lihat 9:27. Dalam perjalanannya
yang pertama (th 45-49) ke Siprus, Pamfilia, Pisidia dan Likaonia, Kis
13-14, Saulus mulai menggunakan nama Yunani-Latinnya Paulus untuk mengganti nama
Yahudinya, yakni Saul, Kis 13:9. Karena berkarya dengan lebih baik, maka Paulus
menyisihkan Barnabas. Kis 14:12. Dalam tahun 49, jadi empat belas tahun sesudah
bertobat, Gal 2:1, Paulus naik ke Yerusalem untuk ikut serta dalam “Konsili
Para Rasul”. Sebagian karena pengaruhnya Konsili itu menyetujui bahwa
hukum Yahudi tidak mengikat orang-orang bukan Yahudi yang masuk Kristen, Kis 15;
Gal 2:3-6. Tugas Paulus di antara orang-orang bukan Yahudi juga secara resmi
diakui, Gal 2:7-9. Kemudian ia mengadakan perjalanan-perjalanan lagi. Penjalanan
kedua (Kis 15:36 – 18:22) dan perjalanan
ketiga (Kis 18:23 – 21: 17) masing-masing berlangsung dalam tahun 50-52
dan 55-58. Sehubungan dengan surat-surat Paulus perjalanan penjalanan itu akan
kita bicarakan lagi, oleh karena surat-suratnya itu ditulisnya justru selama di
perjalanan-perjalanan itu. Tahun 58 ditahan di Yerusalem, Kis 21:27 – 23:22
dan dimasukkan ke dalam penjara sampai th 60, Kis 23:23-26. Dalam musim semi th
60 wali negeri Festus mengirimkannya ke Roma dengan pengawalan ketat, Kis
27:1-28:16. Sesudah di Roma ditahan dua tahun (th 61-63) Paulus dibebaskan
karena tidak terbukti bersalah. Kemudian ia mungkin pergi ke negeri Spanyol,
seperti yang direncanakannya, Rom 15:24, 28, tetapi surat-surat Pastoral (Tim,
Tit) mengandaikan bahwa Paulus masih mengadakan perjalanan-perjalanan ke Timur.
Penahanan Paulus yang kedua di Roma berakhir dengan kemartiran, sebagaimana
diberitakan oleh tradisi yang paling tua; ini kiranya terjadi dalam th 67. Kepribadian
Paulus Dari Kisah Para Rasul dan dari surat-surat Paulus juga
mungkin kita mendapat gambaran jelas mengenai kepribadian dan perangai Sang
Rasul. Paulus adalah seorang yang semangatnya berapi-api dan
yang dalam mengejar cita-citanya tidak tahu lelah atau menghitung jerih-payahnya.
Pada pokoknya cita-cita Paulus ialah cita-cita keagamaan. Satu-satunya yang
menjadi pusat perhatiannya ialah Allah. Dalam mengabdi Allah sebagai hamba
setiawan ia menolak segenap kompromis dalam bentuk manapun. ltulah sebabnya maka
mula-mula Paulus mengejar mereka yang dianggapnya sebagai bida’ah dan musuh
Allah. 1 Tim 1:13; bdk Kis 24:5, 14, tetapi kemudian mewartakan Kristus, setelah
berkat wahyu mengerti bahwa Dialah satu-satunya Penyelamat. Semangat yang tak
bersyarat itu terungkap dalam kehidupan yang terdiri atas penyangkalan diri yang
mutlak dan pengabdian kepada Dia yang dikasihi Paulus. Kerja keras dan lelah,
haus, penderitaan, kemiskinan dan bahaya maut, 1 Kor 4:9-13; 2 Kor 4:8 dst;
6:4-10; 11:23-27, tidak dipedulikan sama sekali mana kala Paulus menunaikan
tugas yang dianggapnya sebagai tanggung jawabnya. 1 Kor 9:16 dst. Tidak ada
sesuatupun dari semuanya itu yang mampu memisahkan Paulus dari kasih Allah dan
Kristus, Rom 8:35-39. Sebaliknya, semuanya itu dianggapnya barang berharga oleh
karena menyerupai dirinya dengan Gurunya yang bersengsara dan tersalib, 2 Kor
4:10 dst; Flp 3:10 dst. Kesadaran akan panggilannya yang tunggal membuat Paulus
memiliki gairah akan yang luhur-luhur dan besar-besar. Kalau ia merasa dirinya
bertanggung jawab akan semua jemaat, 2 Kor 11:28; bdk Kol 1:24. dan berkata
bahwa bekerja lebih dari pada yang lain-lain, 1 Kor 15:10; bdk 2 Kor 11:5, dan
mengajak kaum beriman untuk mencontohnya, 2 Tes 3:7+, maka keterangan semacam
itu bukanlah kesombongan, melainkan kebanggaan orang suci yang rendah hati.
Sebab Paulus juga mengakui dirinya sebagai yang paling hina di antara sekalian
orang Kudus, 1 Kor 15:9; Ef 3:8, karena telah menganiaya jemaat Allah;
karya-karya besar yang dilaksanakannya dianggap berasal dari Tuhan yang berkarya
di dalam dirinya. 1 Kor 15:10; 2 Kor 4:7; Flp 4:13; Kol 1:29; Ef 3:7. Semangat hatinya yang halus nampak dalam sikap Paulus
terhadap kaum beriman. Ia mempercayai sungguh-sungguh orang-orang Filipi yang
masuk Kristen, Flp 1:7 dst; 4:10-20; ia menaruh perasaan mendalam terhadap
jemaat di Efesus, Kis 20:17-38; hatinya memanas, kalau orang-orang beriman di
Galatia membiarkan dirinya dibujuk untuk meninggalkan kepercayaan sejati, Gal
1:6; 3:1-3, dan ia sedih terkejut karena ketidak-tetapan hati yang sombong pada
orang-orang di Korintus, 2 Kor 12:11 – 13:10. Untuk menetapkan yang
lincah-lincah Paulus tahu bagaimana bersikap ironi, 1 Kor 4:8; 2 Kor 11:7;
12:13, dan bahkan melontarkan teguran tegas. Gal 3:1-3; 4:11; 1 Kor 3:1-3;
5:1-2; 6:5; 11:17-22; 2 Kor 11:3 dst. Tetapi selalu hanya demi kebaikan kaum
beriman. 2 Kor 7:8-13. Dan segera Paulus memperlunak tegurannya dengan kehalusan
hati yang penuh kasih sampai mengharukan hati, 2 Kor 11:1-2; 12:14 dst: Bukankah
hanya Pauluslah bapa mereka, 1 Kor 4:14 dst; 2 Kor 6:13; bdk 1 Tes 2:11; Flm 10,
bahkan ibu mereka, 1 Tes 2:7; Gal 4:19? Maka segera pulih kembali
hubungan-hubungan baik seperti dahulu, Gal 4:12-20; 2 Kor 7:11-13. Sesungguhnya Paulus tidak mau pertama-tama menegur kaum beriman, tetapi para lawan yang berusaha membujuk dan menyesatkan mereka: orang-orang Yahudi yang di mana-mana melawan dan menghalangi Paulus, Kis 13:45.50; 14:2.19; 17:5,13; 18:6; 19:9; 21:27, ataupun orang-orang Kristen ke-Yahudian yang ingin membebankan kuk hukum Taurat pada mereka yang oleh Paulus direbut bagi Kristus, Gal 1:7; 2:4; 6:12 dst. Terhadap golongan-golongan itu Paulus tidak kenal ampun, 1 Tes 2:15 dst; Gal 5:12; Flp 3:2. Gairah mereka yang sombong dan “kedagingan” dihadapi Paulus dengan daya rohani sejati yang menyatakan diri melalui kepribadiannya yang lemah, 2 Kor 10:1 – 12:2, dan dengan sikap jujurnya yang membuktikan Paulus tidak mencari keuntungan sendiri, Kis 18:3+. Ada sementara orang yang berkata bahwa para lawan Paulus ialah para rasul di Yerusalem. Tetapi pendapat itu tidak dapat dibuktikan. Terlebih-lebih lawan Paulus itu ialah orang-orang Yahudi yang masuk Kristen dan ingin memaksakan adat-kebiasaan sendiri kepada orang-orang lain. Mereka menyalah-gunakan nama Petrus, 1 Kor 1:12, dan Yakobus, Gal 2:12 untuk menurunkan kewibawaan Paulus. Sebaliknya, Paulus sendiri selalu menghormati wewenang para rasul sejati, Gal 1:18: 2:2, walaupun mempertahankan bahwa sebagai saksi Kristus setara dengan mereka, Gal 1:11 dst; 1 Kor 9:1; 15:8-11. Kalaupun terjadi bahwa sehubungan dengan perkara tertentu Paulus menentang Petrus, Gal 2:11-14, namun Paulus selalu menyatakan dirinya orang yang suka berdamai, Kis 21:18-26. Dengan seksama ia mengorganisasi pengumpulan dana untuk orang-orang Kristen yang miskin di Yerusalem, Gal 2:10, karena ia beranggapan ini jaminan paling baik bagi persatuan antara orang-orang Kristen bekas kafir dengan Jemaat Induk di Yerusalem, 2 Kor 8:14; 9:12-13; Rom 15:26 dst. Paulus
sebagai Pewarta Injil Pewartaan Paulus pertama-tama kerigma rasuli, Kis
2:22+. Kerigma itu ialah: pemberitaan tentang Yesus yang telah disalibkan tapi
dibangkitkan dan alami maut, sesuai dengan Kitab Suci, 1 Kor 2:2; 5:3-4; Gal
3:1. Apa yang disebutkan Paulus sebagai “Injilku”. Rom 2:16; 16:25,
sesungguhnya bukanlah lnjilnya sendiri, melainkan Injil yang umum dipercaya, Gal
1:6-9; 2:2; Kol 1:5-7, tetapi khususnya disesuaikan dengan dan diterapkan pada
pertobatan orang-orang bukan Yahudi, Gal 1:16; 2:7-9, sehaluan dengan
kebijaksanaan universalis yang sudah dimulai di Antiokhia. Paulus setia pada
tradisi rasuli yang ada kalanya dikutip olehnya, 1 Kor 12:23-25; 15:3-7, dan
selalu diandaikannya; sudah barang tentu tradisi rasuli itu sangat berjasa bagi
Paulus. Meskipun kiranya tidak pernah melihat Yesus selama hidupNya di dunia ini,
bdk 2 Kor 5:16+, namun Paulus sangat mengenal ajaranNya, 1 Tes 4:15; 1 Kor 7:10
dst; Kis 20:35. Selebihnya ia juga seorang saksi langsung dari keyakinannya yang
tak tergoncangkan itu berdasar sebuah pengalaman pribadi: sebab iapun “melihat”
Kristus, mula-mula di dekat Damsyik, Kis 9:17; 22:14 dst; 26:16; 1 Kor 9:1;
15:8, dan selanjutnya masih beberapa kali juga, Kis 26:16; 22:17-21. Ia telah
mengalami penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan Tuhan. 2 Kor 12:1-4.
Maka apa yang diterimanya dari tradisi itu sungguh-sungguh dapat dianggapnya
sebagai pemberitahuan langsung oleh Tuhan, Gal 1:12; 1 Kor 12:23. Ada kalanya orang berkata bahwa pengalaman-pengalaman
mistik tersebut disebabkan oleh temperamen yang berlebih-lebihan dan
sakit-sakitan. Tetapi dugaan itu tidak mempunyai dasar sedikitpun. Memanglah
Paulus kena penyakit di Galatia, Gal 4:13-15, tetapi penyakit itu kiranya tidak
lain kecuali serangan malaria, sedangkan “duri dalam daging”, 2 Kor 12:7,
boleh jadi permusuhan terus-menerus dari pihak orang-orang Yahudi, kaum
sebangsanya “secara jasmani”, Rom 9:3. Paulus ternyata tidak mempunyai daya
khayal yang berlebih-lebihan mengingat sedikitnya gambaran-gambaran lazim yang
ia pakai: gelanggang pentandingan, 1 Kor 9:24-27; Flp 3:12-14; 2 Tim 4:7 dst; laut,
Ef 4:14, pertanian, 1 Kor 3:6-8, dan bangunan,
1 Kor 3:10-17; Rom 15:20; Ef 2: 20-22; kedua gambar terakhir suka digabungkan
serta dicampur-adukannya 1 Kor 3:9; Kol 2:7; Ef 3:17; bdk Kol 2:19; Ef 4:16.
Paulus nampaknya lebih-lebih seorang intelektuil. Hati yang berapi-api
bersatu-padu dengan akal jernih dan tidak segera puas: akal yang dengan teliti
membentangkan kepercayaan Kristen sesuai dengan kebutuhan para pendengar. Berkat
sifat Paulus itulah kita mendapat ulasan-ulasan yang mengagumkan sekitar kerigma
dan yang bersesuaian dengan keadaan nyata. Sudah barang tentu jalan pikiran
Paulus itu bukanlah jalan pikiran manusia dewasa mi. Ada kalanya Paulus
mengemukakan dalil-dalilnya seperti para rabi mengemukakannya dan sesuai dengan
metode penafsiran yang diterima Paulus dari lingkungan serta pendidikannya (misalnya
Gal 3:16; 4:21-31). Tetapi bakat Paulus mendobrak warisan tradisionil yang
terbatas itu. Dan melalui saluran-saluran yang bagi kita kurang lebih
ketinggalan zaman Paulus mengalirkan suatu pengajaran yang mendalam. Memanglah Paulus adalah seorang Yahudi, tetapi seorang
Yahudi yang memiliki bagian kebudayaan Yunani cukup besar. Ini mungkin mulai
diperolehnya semasa mudanya di Tarsus dan kemudian diperkaya karena Paulus
sering berjumpa dengan dunia Yunani-Romawi. Pengaruh dari kebudayaan Yunani itu
tercermin baik dalam jalan pikiran Paulus maupun dalam bahasa serta gaya
bahasanya. Ada kalanya Paulus rnengutip penulis-penulis Yunani, 1 Kor 15:33; Tit
1:12; Kis 17:28, dan ia pasti mengenal filsafat populer yang berdasar atas
mazhab Stoa: dari padanya ia meminjam gagasan-gagasan (misalnya: perginya jiwa
yang terpisah dari badan ke dunia ilahi, 2 Kor 5:6-8; “pleroma” kosmis, Kol
dan Ef) dan rumus-rumus tertentu (1 Kor 8:6; Rom 11:36; Ef 4:6). Dari mazhab
Stoa yang berhaluan sinis Paulus mengambil alih apa yang disebutkan sebagai “diatribe”,
yaitu suatu metode argumentasi yang terdiri atas pertanyaan dan jawaban pendek,
Rom 3:1-9, 27-31, dan dari situpun berasal ulasan-ulasannya, di mana kata demi
kata beruntun, sebagaimana lazim dalam seni pidato. Mana kala menggunakan
kalimat panjang dan padat, di mana anak-anak kalimat bergelombang-gelombang
desak-mendesak, Ef 1:3-14; Kol 1:9-20, maka Paulus masih juga dapat menemukan
contoh-contohnya dalam kesusasteraan keagamaan di dunia Yunani. Biasanya Paulus
memakai bahasa Yunani sebagai bahasa ibu yang kedua, Kis 21:40, dan dengan
mahirnya, sehingga hanya sedikit semitisme terdapat. Bahasa Yunani yang dipakai
ialah bahasa Yunani yang lazim di zamannya, yakni bahasa “koine”, yang baik tanpa peniruan bahasa kuno. Paulus memang
tidak suka akan kehalusan yang dibuat-buat seperti lazim dalam seni pidato
insani, sebab kekuatannya untuk meyakinkan hanya mau diambilnya dari daya Firman
kepercayaan yang didukung “tanda-tanda” yang dikerjakan Roh Kudus, 1 Tes
1:5; 1 Kor 2:4 dst; 2 Kor 11:6; Rom 15:18. Bahkan terjadi pula bahwa
pengungkapannya kurang tepat dan tidak diselesaikan, 1 Kor 9:15. Acuan bahasa
tidak mampu menampung pemikiran yang meluap-luap dan perasaan yang terlalu hebat.
Dengan kekecualian yang jarang terjadi, bdk Flm 10, Paulus biasanya mendikte
surat-suratnya, Rom 16:22, sebagaimana lazim di zaman dahulu dan hanya salam
terakhir ditulisnya dengan tangan sendiri, 2 Tes 3:17; Gal 6:11; 1 Kor 16:21;
Kol 4:18. Ada bagian-bagian dalam surat-suratnya yang memberi kesan bahwa
masak-masak dipikirkan (misalnya: Kol 1:15-20), tetapi kebanyakan dituliskan
sekali jadi dan secara spontan tanpa dikoreksi. Kendati kekurangan-kekurangan
itu, bahkan mungkin karena kekurangan-kekurangannya, gaya bahasa cekatan itu
berisi secara luar biasa. Sudah barang tentu pemikiran yang begitu mendalam dan
yang terungkap dengan bahasa yang menyata-nyala itu tidak mudah dibaca (2 Ptr
3:16). Namun demikian pemikiran Paulus menyajikan beberapa nas yang daya
keagamaannya dan bahkan gaya sastranya barangkali tidak ada tara bandingannya
dalam sejarah kesusasteraan manusia. Surat-surat yang diwariskan Paulus itu semuanya
ditulis dengan alasan khusus. Ini tak pernah boleh dilupakan. Surat-surat itu
bukan risalah ilmu ketuhanan, melainkan merupakan tanggapan terhadap keadaan
tertentu. Surat-surat itu sungguh-sungguh surat yang sesuai dengan cara
surat-menyurat yang lazim di zaman itu, Rom 1:1+. Namun demikian tulisan-tulisan
Paulus bukan surat pribadi belaka dan bukan pula “surat” yang hanya
nampaknya surat saja, sedangkan pada kenyataannya adalab karya sastra.
Surat-surat Paulus berupa uraian-uraian yang ditujukan kepada pembaca-pembaca
tertentu dan melalui mereka kepada semua kaum beriman. Maka dalam surat-surat
itu jangan dicari kupasan-kupasan teratur dan lengkap yang mengungkapkan seluruh
pemikiran Paulus. Di belakang tulisan-tulisan itu tetap membayang perkataan yang
secara lisan dibawakan dan surat-surat itu seolah-olah memberi komentar atas
beberapa pokok khusus. Namun demikian, nilai surat-surat Paulus tidak teratasi,
apa lagi karena isi serta perbedaan-perbedaannya memungkinkan orang menemukan
apa yang pokok dalam pewartaan Paulus. Tidak peduli mengapa ia menulis atau
kepada siapa ia menulis, karya Paulus berdasarkan ajaran yang pada pokoknya
sama. Ajaran itu berpusatkan Kristus yang wafat dan dibangkitkan. Hanya ajaran
pokok itu disesuaikan, berkembang dan menjadi semakin berisi selama kehidupan
Paulus yang menjadi segala-galanya untuk semua orang, 1 Kor 9:19-22. Ada
sementara penafsir yang mengatakan bahwa Paulus sesungguhnya seorang “peramu”
yang sesuai dengan keperluan memungut pandangan-pandangan yang berlain-lainan
dan ada kalanya bertentangan satu sama lain; Paulus sendiri tidak menilai
pandangan-padangan itu seolah-olah mutlak tepat dan benar; ia hanya
menggunakannya saja untuk menarik hati orang kepada Kristus. Langsung
bertentangan dengan pendapat tersebut ada orang yang berkata tentang “kekakuan”
Paulus. Menurut pendapat ini maka pemikiran Paulus sejak awal mula ditetapkan
dan selanjutnya tidak mengalami perkembangan lagi. Semua sudah tetap dan selesai
akibat pengalaman Paulus waktu bertobat. Kebenaran terletak di tengah kedua
ujung itu: teologi Paulus memang berkembang menurut suatu garis bersinambung,
tetapi sungguh ada perkembangan di bawah dorongan Roh Kudus yang membimbing
karya kerasulan Paulus. Dan perkembangan benar tapi lurus akhirnya sampai kepada
kepenuhan sebagaimana memuncak dalam surat kepada jemaat di Efesus. Dengan
membaca surat-surat itu sesuai dengan urutannya dalam waktu, orang dapat
mengenali tahap-tahap perkembangan pemikiran Paulus. Memanglah urutan dalam
waktu itu bukanlah urutan surat-surat Paulus dalam daftar kitab-kitab Perjanjian
Baru. Dalam daftar itu surat-surat itu dideretkan sesuai dengan panjangnya surat,
dari yang paling panjang ke yang pendek. 1
dan 2 Tes; th. 50-51 Surat-surat Paulus yang pertama ditujukan kepada
jemaat Kristen di kota Tesalonika.
Di musim panas th. 50 Paulus mewartakan Injil di kota itu waktu perjalanannya
yang kedua, Kis 17:1-10. Terpaksa oleh permusuhan dari pihak orang-orang Yahudi
Paulus pergi ke Berea dan dari sana ke Atena dan Korintus. Di kota terakhir
inilah kiranya 1 Tes ditulis selama musim dingin th 50-51. Silas dan Timotius
menemani Paulus di Korintus. Timotius untuk kedua kalinya pergi ke Tesalonika
dan dari situ membawa berita-berita yang menggembirakan. Ini menyebabkan
peluapan hati yang terungkap dalam 1 Tes 1-3. Kemudian menyusullah dalam surat
ini serentetan anjuran praktis, 4:1-12: 5:12-28. Di antara kedua bagian itu
disisipkan suatu jawaban atas soal tentang nasib orang-orang yang sudah
meninggal dan Parusia Kristus. 4:13 – 5:11. Surat 2 Tes kiranya ditulis di
kota Korintus juga beberapa bulan kemudian. Surat ini berisikan beberapa
petunjuk praktis, 1; 2:13 – 3:15, dan sebuah instruksi lagi mengenai kapan
Parusia akan terjadi dan mengenai “tanda-tanda” yang mesti mendahului
kedatangan Tuhan. 2:1-12. Ditinjau dari segi sastra maka antara 2 Tes dan 1 Tes
ada kesamaan yang menyolok, sehingga ada sejumlah ahli yang menganggap 2 Tes
sebagai pemalsuan oleh seseorang yang mencuri gagasan-gagasan Paulus, sementara
juga meniru gaya bahasanya. Tetapi sukar sekali melihat mengapa seseorang
membuat pemalsuan itu. Keterangan lain lebih sederhana dan lebih masuk akal,
yaitu Paulus sendirilah yang ingin lebih jauh menjelaskan dan meluruskan
pengajarannya mengenai akhir zaman, lalu menulis surat ini dengan mengulangi
beberapa keterangan dari surat pertama. Memanglah kedua tulisan itu tidak
bertentangan satu sama lain, tetapi malahan saling melengkapi. Dan tradisi
Gereja dahulu juga jelas mengatakan bahwa kedua surat itu ditulis oleh Paulus. Kedua surat ini tidak hanya penting oleh karena sudah memperkenalkan pangkal beberapa pikiran Paulus yang dalam surat-surat lain diperkembangkan, tetapi terutama karena ajarannya mengenai Parusia. Ternyatalah bahwa dalam tahap permulaan karya kerasulanNya pemikiran Sang Rasul berpusatkan kebangkitan Kristus dan kedatanganNya yang mulia yang membawa keselamatan bagi mereka yang percaya kepadaNya, biar sudah mati sekalipun, 1 Tes 4:13-18. Kedatangan Kristus yang mulia itu dilukiskan Paulus sesuai dengan apa yang lazim dalam sastra apokaliptik Yahudi dan dalam agama Kristen purba (bdk wejangan Yesus tentang akhir zaman yang termuat dalam injil-injil sinoptik, khususnya dalam injil Mat). Sama seperti Yesus demikianpun Paulus ada kalanya begitu menekankan dekatnya kedatangan Tuhan yang tidak mungkin diketahui kapannya dan yang menuntut bahwa orang bersiap-siaga, 1 Tes 5:1-11, sehingga memberikan kesan bahwa ia sendiri serta sidang pembacanya akan mengalaminya selama masih hidup, 1 Tes 4:17; tetapi ada kalanya iapun mencoba meredakan rasa cemas kaum beriman yang digelisahkan oleh pandangan semacam itu. Maka ia mengingatkan mereka bahwa hari Tuhan belum juga tiba dan mesti didahului beberapa tanda tertentu, 2 Tes 2:1-12. Bagaimana ujud tanda-tanda itu bagi kita maupun bagi para pembaca dahulu tidak jelas. Rupanya Paulus memikirkan Si Antikrist sebagai seorang pribadi yang baru akan tampil pada akhir zaman. Ungkapan “apa yang menahan dia”, 2 Tes 2:6, menurut sementara ahli mengenai kerajaan Romawi dan menurut sementara ahli lain pewartaan Injil, sehingga maksud keterangan itu tetap kabur juga. 1
dan 2 Kor: th. 57 Selama delapan belas bulan lebih, Kis 18:1-16,
mewartakan Injil di Korintus,
dari akhir th. 50 sampai pertengahan th. 52, Paulus menulis kedua suratnya
kepada jemaat di Tesalonika. Sesuai dengan kebijaksanaannya yang lazim, ialah
menanamkan kepercayaan Kristen di pusat-pusat besar, Paulus ingin menanamkan
kepercayaan kepada Kristus di kota pelabuhan ternama yang banyak penduduknya itu
juga. Dari situ kepercayaan itu dapat merambat ke seluruh Akhaia, 2 Kor 1:1;
9:2. Pada kenyataannya ia berhasil mendirikan sebuah jemaat kuat di sana,
terutama di kalangan masyarakat rendahan, 1 Kor 1:26-28. Tetapi kota besar itu
adalah sebuah sarang kebudayaan Yunani, di mana berhadap-hadapan macam-macam
aliran filsafah dan agama, sedangkan kebejatan susila memberinya nama yang buruk. Perjumpaan agama Kristen dengan pusat kekafiran itu tidak dapat tidak
menimbulkan banyak persoalan bagi mereka yang baru masuk Kristen. Dalam kedua
surat yang ditulisnya kepada jemaat itu, Paulus berusaha memecahkan soal-soal
itu. Bagaimana kedua surat itu lahir sudah cukup jelas,
kendati keraguan yang masih ada mengenai beberapa hal kecil. Sebelum surat
pertama yang tercantum dalam Kitab Suci telah ada surat yang mendahului, 1 Kor
5:9-13. Tetapi surat, yang waktunya ditulis tidak diketahui ini tidak tersimpan.
Kemudian. menjelang akhir dua setengah tahun tinggal di Efesus (th. 54-57) dalam
perjalanannya yang ketiga, Kis 19:1-20, datanglah dari Korintus suatu utusan
yang menyodorkan beberapa masalah, 1 Kor 16:17, dan di samping itu Paulus
menerima berita mengenai jemaat di Korintus melalui Apolos, Kis 18:27 dst; 1 Kor
16:12, dan beberapa orang dari keluarga Khloe, 1 Kor 1:11. Maka Paulus merasa
terdorong menulis sepucuk surat lagi, yakni surat 1 Kor kita. Ia menuliskannya
sekitar Paskah th. 57 (1 Kor 5:7 dst; 16:5-9 dibandingkan dengan Kis 19:21). Selang
beberapa waktu muncullah di Korintus semacam krisis dan terpaksa Paulus
mengunjungi jemaat sebentar dan kunjungan itu tidak menyenangkan, Kor 1:23-2:1;
12:14; 13:1-2. Selama kunjungan itu Paulus berjanji tidak lama lagi akan kembali
untuk beberapa lamanya 2 Kor 1:15-16. Tetapi terjadi sesuatu dan rupanya
kewibawaan Paulus dalam diri seorang utusannya dirongrong, 2 Kor 5:10; 7:12.
Maka sebabagai pengganti kunjungan yang dijanjikan dahulu itu Paulus mengirim
sepucuk surat tajam yang ditulisnya dengan mencucurkan “banyak air mata”, 2
Kor 2:3 dst. 9. Surat ini membawa hasil yang menyenangkan, 2 Kor 7:8-13. Kabar
gembira tentang hasil itu diterimanya dari Titus, 2 Kor 2:12 dst: 7:5-16 di
Makedonia, setelah Paulus terpaksa meninggalkan Efesus akibat krisis hebat di
sana yang tidak kita ketahui ujudnya, 1 Kor 15:32; 2 Kor 1:8-10; Kis 19:23-40.
Maka menjelang akhir th. 57 ia menulis 2 Kor. Kemudian ia mengadakan perjalanan
kiranya melalui Korintus. Kis 20:1 dst; bdk 2 Kor 9:5; 12:14; 13:1, 10, menuju
Yerusalem, tempat ia ditahan dan dipenjarakan. Ada yang berpendapat bahwa 2 Kor 6:14 – 7:1
merupakan kepingan dari surat pertama yang hilang itu, dan 2 Kor 10–13 bagian
dari surat yang ditulis dengan “mencucurkan banyak air mata”. Hanya sukar
dibuktikan, meskipun mesti diakui, bahwa bagian-bagian tersebut kurang cocok
dengan konteksnya sekarang, 2 Kor sesungguhnya melanjutkan 6:13; sementara kesan
bahwa 6:14 – 7:1 berupa sisipan dikuatkan oleh kesamaan menyolok antara bagian
ini dengan naskah-naskah kaum Eseni yang ditemukan di Qumran. Dan juga nada
keras dalam 2 Kor 10–13 kurang sesuai dengan nada ramah yang meresap ke dalam
sembilan bab dahulu. Akhirnya 9:1 mengherankan sedikit sesudah apa yang
dikatakan dalam bab 8, sehingga orang menduga bahwa aslinya adalah dua surat
kecil tersendiri mengenai pengumpulan dana. Dengan demikian tidak dikatakan
bahwa bagian-bagian itu tidak berasal dari Paulus. Tetapi sangat mungkin bahwa
bagian-bagian tersebut ada macam-macam asal-usulnya. Baru kemudian kiranya
dikumpulkan. yakni waktu kumpulan tulisan-tulisan Paulus dibuat. Surat-surat kepada jemaat di Korintus itu dengan bagus dan tepat menyoroti watak dan semangat Paulus, tetapi juga menyajikan suatu ajaran yang penting sekali. Di dalamnya ditemukan, khususnya dalam 1 Kor, informasi dan keputusan-keputusan mengenai beberapa soal yang membingungkan jemaat Kristen purba dan tentang cara hidup jemaat itu, baik sehubungan dengan keadaan umat sendiri, seperti kemurnian akhlak, 1 Kor 5:1-13; 6:12-20, perkawinan dan hidup wadat, 7:1-40, pertemuan keagamaan dan perayaan Ekaristi, 11-12, penggunaan karunia-karunia Rob Kudus (kharismata), 12:1 – 14:40, maupun sehubungan dengan relasi jemaat dengan dunia luar seperti naik banding ke pengadilan negeri, 6:1-11, dan memakan makanan yang dipersembahkan kepada berhala, 8-10. Kesemuanya itu hanya berupa pemecahan soal suara hati atau pengaturan ibadat, kalau bakat Paulus tidak merobahnya menjadi ksempatan baik untuk mengemukakan pandangan mendalam mengenal kebebasan hidup Kristen, pengudusan tubuh, keunggulan kasih dan persatuan dengan Kristus. Sewaktu terpaksa membela jabatannya sebagai rasul sejati, 2 Kor 10–13, Paulus mengemukakan pikiran-pikiran unggul mengenai karya kerasulan pada umumnya, 2 Kor 2:12 – 6:10; dan pembicaraan konkrit mengenai pengumpulan dana, 2 Kor 8–9, disinari cahaya persatuan antar-jemaat yang diidam-idamkan. Seluruh ulasan mengenai kebangkitan badan, 1 Kor 15, berlatar-belakang eskatologi yang menjadi landasannya. Hanya penggambaran apokaliptis seperti terdapat dalam 1 Tes dan 2 Tes diganti dengan pembahasan yang lebih rasionil yang dapat membenarkan harapan yang sukar dicernakan orang-orang Yunani itu. Penyesuaian Injil dengan dunia baru yang dimasukinya itu terutama nyata dalam cara Paulus mempertentangkan kebodohan Salib dengan hikmat Yunani. Kepada orang-orang Korintus yang terpecah-belah menjadi kelompok yang masing-masing membanggakan gurunya serta bakat-bakatnya, Paulus mengingatkan bahwa hanya ada satu Guru saja, ialah Kristus, dan hanya satu Kabar Gembira yaitu: hanya Salib saja yang menyelamatkan; dan itulah hikmat sejati, 1 Kor 1:10 – 4:13. Dengan jalan itu maka terpaksa oleh keadaan dan tanpa meniadakan pandangan akhir zaman, Paulus sampai menekankan hidup Kristen sekarang yang merupakan persekutuan dengan Kristus yang terwujud oleh pengetahuan sejati ialah kepercayaan. Nanti sebagai akibat krisis di Galatia dan sehuban dengan agama Yahudi, Paulus masih lebih memperdalam hidup Kristen sekarang itu. Gal
dan Rom; th. 57-58 Adapun surat kepada jemaat-jemaat di Galatia
dan surat kepada jemaat di Roma
perlu dibicarakan bersama-sama, sebab keduanya mengupas persoalan yang sama.
Surat kepada jemaat-jemaat di Galatia berupa tanggapan langsung terhadap keadaan
tertentu, sedangkan surat kepada jemaat di Roma berupa sebuah risalah lebih
lengkap yang dengan tenang dikarang dan mengatur gagasan-gagasan yang
ditimbulkan oleh pertikaian di Galatia itu. Hubungan erat kedua surat itu adalah
argumen paling kuat melawan pendapat sementara yang mengemukakan bahwa surat
kepada jemaat-jemaat di Galatia itu ditulis pada permulaan karya Paulus, bahkan
sebelum Konsili Yerusalem dalam th. 49. Menurut pendapat tersebut kunjungan
kedua Paulus ke Yerusalem, yang diceritakan dalam Gal 2:1-10, adalah sama dengan
kunjungan kedua yang disebut dalam Kis 11:30 dan 12:25; tetapi berbeda dengan
kunjungan ketiga yang dikisahkan Kis 15:2-30 (ini memang cukup berbeda dengan
cerita Paulus dalam Gal). Selebihnya rupanya Paulus tidak tahu-menahu tentang
keputusan Konsili Yerusalem (Kis 15:20, 29; bdk Gal 2:6), sehingga suratnya
kepada jemaat-jemaat di Galatia harus sudah ditulis sebelum Konsili Yerusalem.
Untuk menyetujui pendapat itu cukuplah diandaikan bahwa “orang-orang
Galatia” itu tidak lain kecuali orang-orang Likaonia dan Pisidia, yang
kepadanya Injil diwartakan oleh Paulus sewaktu perjalanannya yang pertama.
Pergi-pulangnya Paulus dapat juga menerangkan kedua kunjungan yang kiranya
diandaikan dalam Gal 4:13. Namun demikian pendapat itu kurang berdasar. Meskipun
benar bahwa sejak th. 36-25 seb. Mas. daerah Likaonia dan Pisidia dalam
administrasi negara tergabung dengan daerah Galatia, namun dalam bahasa
sehari-hari selama abad I Mas. daerah Galatia yang sebenarnya terus disebut
demikian. Daerah Galatia terletak lebih ke utara. Khususnya sukar diterima bahwa
penduduk Likaonia dan Pisidia dikatakan “orang-orang Galatia”, Gal 3:1.
Kecuali itu pengandaian yang sukar diterima itu tidak perlu sama sekali.
Kunjungan kedua yang disebut dalam Gal 2:1-10, lebih mudah dapat disamakan
dengan kunjungan ketiga yang diceritakan dalam Kis 15 (memanglah ada kesamaan
yang menyolok juga) dari pada dengan yang kedua, Kis 11:30; 12:25. Kunjungan
yang kedua itu nampaknya begitu kurang penting, sehingga didiamkan oleh Paulus
dalam argumentasinya (Gal). Dan bahkan boleh jadi bahwa sama sekali tidak ada
kunjungan kedua dalam Kis, oleh karena Lukas barangkali menggarap dua sumber
berbeda-beda mengenai peristiwa yang. Maka surat kepada jemaat-jernaat di
Galatia ditulis sesudah Konsili Yerusalem. Memang Paulus tidak berkata-kata
tentang keputusan yang diambil Konsili itu, tetapi boleh jadi keputusan itu
sesungguhnya diambil kemudian dari itu (bdk Kis 15:1 +). Kalau demikian maka
mudah juga dipahami sikap Petrus yang ditegur oleh Paulus menurut Gal 2:11-14.
Maka orang-orang yang dialamati surat itu benar-benar penduduk daerah
“Galatia” yang ditempuh Paulus dalam perjalanannya yang kedua dan yang
ketiga, Kis 16:6; 18:23. Boleh jadi surat itu ditulis di kota Efesus, atau
barangkali di Makedonia sekitar th. 57. Tidak lama berselang menyusullah surat kepada jemaat
di Roma. Paulus sedang berada di Korintus (musim dingin th. 57/58) dan
mempersiapkan diri untuk pergi ke Yerusalem. Dari sana ia mau singgah di Roma
dalam perjalanan ke Spanyol, Rom 15:22-32; bdk 1 Kor 16:3-6; Kis 19:21; 20:3.
Paulus tidak mendirikan jemaat di Roma dan informasi-informasi yang diperolehnya
tentang jemaat itu, boleh jadi melalui orang seperti Akwila, Kis 18:2, tidak
lengkap tetapi separuh-separuh saja. Dari keterangan-keterangan yang tercantum
dalam surat itu hanya dapat disimpulkan bahwa jemaat itu terdiri dari
orang-orang bekas Yahudi dan bekas kafir dan kedua golongan itu condong saling
meremehkan. Karena demikian keadaan jemaat di Roma, maka Paulus menganggap baik
mempersiapkan kunjungannya dengan mengirimkan sepucuk surat melalui diakones
Febe, Rom 16:1. Di dalamnya ia mengemukakan pendapatnya bagaimana mesti
dipecahkan masalah hubungan antara agama bangsa Yahudi dan agama Kristen:
pikirannya di bidang itu menjadi masak akibat krisis di Galatia. Dengan maksud
tersebut Paulus mengatur dan memungut secara saksama dan dengan halus
gagasan-gagasan yang sudah terungkap dalam Gal. Surat Gal ini berupa luapan hati, di mana pernbelaan
diri, 1:11 – 2:21, disusul sebuah pembuktian berupa ajaran, 3:1 – 4:31 dan peringatan-peringatan
keras, 5:1 – 6:18. Sebaliknya,
Rom berupa sebuah ulasan teratur, di mana bagian-bagiannya susul-menyusul secara
tertib dengan berpedoman beberapa pokok yang terlebih dahulu diperkenalkan, lalu
diuraikan. Sama seperti halnya dengan surat-surat kepada jemaat
di Korintus, demikianpun tidak ada seorangpun yang sungguh-sungguh meragukan
bahwa Rom ditulis oleh Paulus. Paling-paling orang menanyakan apakah bab 15 dan
16 barangkali kemudian ditambahkan. Terutama bab 16 yang berisikan banyak salam
kepada macam-macam orang, barangkali aslinya sebuah surat kecil kepada jemaat di
Efesus. Tetapi bab 15 tidak dapat dipisahkan dari surat Rom itu, meskipun
beberapa naskah menaruh Rom 16:25-27 pada akhir bab 14 sebagai kata penutup. Ada
sejumlah ahli yang mempertahankan bahwa juga bab 16 karangan Paulus yang asli.
Mereka mencatat bahwa Paulus dapat berkenalan dengan banyak saudara dari Roma
yang dahulu diusir oleh Kaisar Klaudius, lalu kembali ke Roma. Dan bagi Sang
Rasul memang penting menggaris-bawahi hubungan dengan jemaat yang belum mengenal
Paulus itu. Adapun doksologi dalam 16:25-27 memang mempunyai ciri-ciri khas
dalam gaya bahasanya. Tetapi ini tidak cukup untuk menolak keasliannya, walaupun
barangkali ditulis kemudian dari Rom. Sedangkan surat-surat kepada jemaat di Korintus
memperlawankan Kristus sebagai Hikmat Allah dengan hikmat dunia yang sia-sia,
maka surat-surat kepada jemaat-jemaat di Galatia dan Roma mempertentangkan
Kristus sebagai Pembenaran dari Allah dengan pembenaran yang oleh manusia
dikirakan dapat diperoleh dengan usahanya sendiri. Di Korintus semangat
Yunanilah yang membahayakan pendirian tepat karena terlalu membanggakan
akal-budi manusia sendiri. Di Galatia orang-orang ke-Yahudian datang mengatakan
bahwa kaum beriman harus bersunat dan menaklukkan diri kepada hukum Taurat,
kalau mau diselamatkan. Paulus sekuat tenaga melawan propaganda dan ajaran itu
oleh karena berarti mundur selangkah dan menyia-nyiakan karya Kristus, Gal 5:4.
Dengan tidak menyangkal nilai tata penyelamatan lama, Paulus menentukan
batasnya, oleh karena hanya tahap sementara dalam seluruh rencana penyelamatan
Allah, Gal 3:23-25. Hukum Musa pada dirinya baik dan suci, Rom 7:12, dan
sungguh-sungguh menyatakan kehendak Allah. Tetapi hukum Taurat tidak memberi
manusia daya batiniah untuk menepatinya; dengan jalan itu hukum Taurat tidak
hanya membuat manusia menjadi sadar akan dosanya dan kebutuhannya akan
pertolongan dari pihak Allah, Gal 3:19-22; Rom 3:20; 7:7-13. Adapun pertolongan
yang berupa karunia belaka itu dahulu dijanjikan kepada Abraham sebelum hukum
Taurat diberikan, Gal 3:16-18; Rom 4, dan dianugerahkan oleh Yesus Kristus:
kematian dan kebangkitanNya sudah menghancurkan kemanusiaan lama yang diracuni
dosa Adam dan menciptakan kemanusiaan baru Yesus yang menjadi prototipnya, Rom
5:12-21. Setelah bergabung dengan Kristus melalui kepercayaan dan dijiwai oleh
Roh Kudus, maka manusia selanjutnya dengan cuma-cuma menerima pembenaran sejati
dan dapat hidup sesuai dengan kehendak Allah, Rom 8:1-4. Memanglah kepercayaan
manusia harus menjadi nyata dalam pekerjaan, tetapi pekerjaan yang dilaksanakan
berkat daya Roh Kudus, Gal 5:22-25; Rom 8:5-13, itu bukan lagi pekerjaan hukum
Taurat yang padanya orang-orang Yahudi dengan angkuhnya menaruh kepercayaannya.
Pekerjaan-pekerjaan itu dapat dilaksanakan oleh semua yang percaya kepada
Kristus, meski datang dari kekafiran sekalipun, Gal 3:6-9, 14; Rom 4:11. Maka
tata penyelamatan Musa yang bernilai sebagai persiapan sekarang sudah
ketinggalan zaman. Orang-orang Yahudi yang mau terus berpegang padanya
sesungguhnya menempatkan diri di luar keselamatan yang sebenarnya. Allah
mengizinkan mereka menjadi “buta”, supaya kaum kafir dapat memperoleh
keselamatan. Namun demikian orang-orang Yahudi tidak untuk selama-lamanya
kehilangan kepilihannya dahulu, sebab Allah memang setia: ada sementara
orang-orang Yahudi, yaitu “sisa kecil” yang dinubuatkan para nabi, sudah
sampai percaya; dan nanti yang lain-lainpun akan bertobat, Rom 9-11. Sementara
itu semua kaum beriman, entah orang-orang Yahudi entah bukan Yahudi, harus
menjadi satu karena kasih dan saling menolong, Rom 12:1 – 15:13. Demikianlah
pandangan luas yang sudah dirintis dalam Gal dan dikembangkan dalam Rom. Dan
berkat pandangan itulah maka kita mempunyai ulasan yang mengagumkan tentang masa
lampau umat manusia yang berdosa, Rom 1:18-3:20, dan tentang pergumulan yang
berlangsung dalam diri setiap orang, Rom 7:14-25; tentang keselamatan yang
dengan cuma-cuma dikaruniakan, Rom 3:24 dll, daya yang terkandung dalam kematian
dan kebangkitan Kristus, Rom 4:24 dst; 5:6-11, yang di dalamnya orang turut
serta oleh karena iman dan baptisan, Gal 3:26 dst; Rom 6:3-11; penguraian
mengenai panggilan bangsa manusia menjadi anak-anak Allah, Gal 4:1-7; Rom
8:14-17, mengenai kasih Allah yang berhikmat, yang adil dan setia dalam
menyelenggarakan rencana penyelamatanNya yang terlaksana tahap demi tahap, Rom
3:21-26; 8:31-39. Pandangan akhir zaman tetap tinggal; sebab kita memang
diselamatkan dalam pengharapan, Rom 5:1-11; 8:24. Tetapi sama seperti dalam
surat-surat kepada jemaat di Korintus, tekanan terletak pada keselamatan yang
sudah dimulai sekarang; Roh yang dijanjikan sudah dimiliki
sebagai”karunia-sulung”, Rom 8:23, sekarang orang-orang Kristen sudah hidup
dalam Kristus, Rom 6:11, dan Kristus hidup di dalam mereka, Gal 2:20. Dengan demikian maka surat kepada jemaat di Roma
menyajikan sebuah sintesa pemikiran teologis Paulus yang mengesankan, sebuah
sintesa yang ada di antara yang sangat bagus. Namun demikian sintesa itu
bukanlah sintesa sempurna dan lengkap dan bukan pula seluruh ajaran Paulus.
Pertikaian yang dilancarkan oleh Luther mengakibatkan bahwa surat Rom ini
terlalu diutamakan, hal mana sungguh merugikan, kalau surat-surat lain tidak
diikut-sertakan sebagai pelengkap, sehingga surat Rom ditempatkan dalam sebuah
sintesa yang lebih luas. Filipi;
th. 56-57 Kota Filipi adalah sebuah kota penting di Makedonia dan didiami oleh
orang-orang Roma yang merantau. Dalam perjalanannya yang kedua dalam th. 50
Paulus mewartakan Injil di situ. Kis 16:12-40. Selama perjalanannya yang ketiga,
Paulus masih dua kali singgah di kota Filipi, yaitu di musim rontok th. 57, Kis
20:1-2, dan sekitar Paskah th. 58, Kis 20:3-6. Kaum beriman yang oleh Paulus
direbut bagi Kristus di Filipi menyatakan kasih yang mengharukan hati kepada
Rasul mereka dengan mengirimkan bantuan kepadanya di Tesalonika, Flp 4:16, dan
kemudian di Korintus, 2 Kor 11:9. Dengan menulis surat ini kepada jemaat itu
Paulus justru bermaksud mengucapkan terima kasih karena bantuan yang diterimanya
melalui Epafroditus, utusan jemaat di Filipi, yang membawa sumbangan yang haru,
Fil 4:10-20. Paulus yang pada umumnya takut-takut kalau-kalau memberi kesan
seolah-olah mencari untungnya sendiri, Kis 8:3+, dengan rela hati menyambut
bantuan dari jemaat Filipi. Dengan jalan itu ia menyatakan menaruh kepercayaan
luar biasa kepada jemaat itu. Waktu menulis surat itu Paulus sedang dalam tahanan,
Flp 1:7.12-17. Lama sekali orang beranggapan bahwa ini penahanan pertama di
Roma. Tetapi hubungan yang begitu mudah dan demikian kerap kelihatannya,
2:25-30, antara jemaat Filipi dan Paulus, sedang Paulus ditemani Epafrodirus,
mengherankan, seandainya Paulus sungguh di Roma yang terlalu jauh letaknya.
Seandainya Paulus berada di Roma (atau di Kaisarea di Palestina, tempat ia juga
pernah ditahan sebagaimana diketahui), maka sukar dipahami bahwa bantuan berupa
uang yang dikirim jemaat di Filipi melalui Epafroditus itu merupakan kesempatan
pertama yang mereka peroleh untuk menolong Sang Rasul setelah mengamalkan
kasihnya waktu perjalanan Paulus yang kedua, 4:10, 16. Sebab memanglah Paulus
masih singgah dua kali pada mereka dalam perjalanannya yang ketiga. Halnya lebih
mudah dimengerti kalau Paulus menulis surat itu sebelum kedua kunjungan
tersebut. Kiranya Paulus berada di Efesus selama th. 56/57 sementara
mengharapkan dapat pergi ke Makedonia sesudah dilepaskan (bdk Flp 1:26; 2:19-24
dan Kis 19:21 dst; 20:1; 1 Kor 16:5). Kenyataan bahwa Paulus berkata tentang
“Pretonium” (terj.: istana) dalam Flp 1:13 dan tentang “rumah/keluarga
Kaisar” (terj.: istana Kaisar) dalam 4:22, tidak perlu menjadi kesulitan.
Sebab di kota-kota besar, khususnya di Efesus, ada pasukan pengawal pribadi,
sama seperti di Roma sendiri, yang mengawal wali negeri. Memanglah kita tidak
tahu apa-apa tentang penahanan Paulus di Efesus. Tetapi inipun tak perlu menjadi
kesulitan yang tak teratasi. Sebab Lukas hanya menceritakan sedikit saja tentang
ketiga tahun Paulus tinggal di kota itu, sedangkan Paulus sendiri menyiratkan
bahwa di sana menghadapi kesulitan berat, 1 Kor 15:32; 2 Kor 1:8-10. Kalau hipotesa tersebut diterima maka Flp perlu dipisahkan dari Kol, Ef, dan Flm dan didekatkan pada “surat-surat besar”, khususnya pada 1 Kor. Kedua surat itu tidak bertentangan satu sama lain, tetapi sebaliknya sangat berdekatan baik dari segi sastra maupun dari segi ajaran. Hanya Flp kurang berupa ajaran, ini lebih-lebih berupa peluapan hati, tukar berita dan peringatan terhadap “pekerja-pekerja jahat”, yang di mana-mana merongrong karya Sang Rasul, sehingga boleh jadi juga menyerang jemaat terkasih di Filipi; terutama Flp berupa seruan supaya kaum beriman bersatu dalam kerendahan hati. Seruan itulah yang bagi kita menghasilkan 2:6-11 mengenai perendahan Kristus. Boleh jadi madah yang mengharukan hati itu dikutip oleh Paulus atau merupakan ciptaan Paulus sendiri. Tetapi bagaimanapun juga lagu itu memberikan kesaksian yang berharga mengenai kepercayaan umat Kristen purba akan kepra-adaan ilahi Yesus. Tidak ada orang yang meragukan bahwa Flp benar-benar dikarang oleh Paulus. Hanya dapat dipersoalkan apakah surat itu barangkali penggabungan beberapa surat kecil yang aslinya tersendiri. Tetapi ini berupa dugaan belaka. Ef,
Kol, Flm; th. 61-63. Surat kepada jemaat di Efesus,
kepada jemaat di Kolose dan kepada Filemon ternyata sebuah kelompok tersendiri.
Ketiga karangan itu sangat erat hubungannya: baik Kol 4:9 maupun Flm 12 berkata
tentang Onesimus yang mau dikirim Paulus; Tikhikus disebut dalam Kol 4:7 dst dan
dalam Ef 6:21 dst; teman-teman Paulus yang sama tampil dalam Kol 4:10-14 dan
dalam Flm 23-24; ditinjau dari segi sastra dan dari segi ajaran ada banyak
kesamaan antara Ef dan Kol; Paulus masih di pen jara, Flm 1:9 dst; 13, 23; Kol
4:3, 10, 18; Ef 3:1; 4:1; 6:20, dan tentu saja di Roma (antara th. 61 dan 63).
dan bukan di Kaisarea atau di Efesus. Kalau di Kaisarea sukar menerangkan bahwa
Markus dan Onesimus ada pada Paulus, sedangkan tentang kehadiran Lukas di Efesus
bersama Paulus tidak ada berita apapun. Kecuali itu perbedaan gaya bahasa dan
kemajuan dalam ajaran mengandaikan jangka waktu cukup lama antara “surar-surat
besar” (Kor, Gal, Rom) dan Ef serta Kol. Dalam jangka waktu itu timbullah
sebuah krisis. Dari Kolose, di mana Paulus sendiri tidak mewartakan Injil, 1:4;
2:1, datanglah wakilnya Epafras, 1:7, membawa berita yang mengkhawatirkan,
Paulus menjadi prihatin dan segera menanggapi berita itu dengan sepucuk surat
kepada jemaat di Kolose; surat itu dibawa ke sana oleh Tikhikus. Tetapi
reaksinya terhadap bahaya yang baru itu memperdalam pikiran Sang Rasul. Sama
seperti Rom dipakai untuk mengatur pikiran-pikiran yang tercetus dalam Gal,
demikianpun sekarang Paulus menulis sepucuk surat lain lagi, di sana ia menyusun
ajarannya dengan berpedoman sebuah titik pandangan yang dipaksakan kepadanya
oleh pertikaian di Kolose. Sintesa yang mengagumkan itu tidak lain kecuali
“surat kepada jemaat di Efesus”. Hanya judul semacam itu (yang dalam surat
sendiri tidak pasti juga, bdk Ef 1:1+) dapat menipu. Paulus sesungguhnya tidak
menulis kepada orang-orang Efesus, tempat ia tinggal selama tiga tahun,
melainkan kepada kaum beriman pada umumnya, bdk Ef 1:15; 3:2-4, khususnya kepada
jemaat-jemaat di lembah-lembah pengunungan Lisia tempat surat itu diedarkan, Kol
4:16. Sementara ahli pernah menolak keaslian kedua surat
tersebut. Tetapi Kol dewasa ini lebih umum diterima sebagai karangan Paulus dan
pendapat itu memang cukup berdasar. Gagasan-gagasan utama Paulus terdapat dalam
Kol, dan kalau ada juga pikiran-pikiran baru maka halnya mudah dijelaskan dengan
menunjuk kepada keadaan baru yang harus dihadapi Paulus. Hal yang sama dapat
dikatakan tentang Ef juga, tetapi surat ini tetap sangat diragukan keasliannya.
Namun demikian karena surat itu ternyata hasil seorang pemikir yang berbakat,
maka sukar diterima bahwa dikarang oleh seorang murid Paulus. Sudah barang tentu
gaya bahasa Kol dan Ef yang bertutur panjang, ada kalanya berlebih-lebihan, itu
berbeda sekali dengan pemikiran pendek, padat dan tegang seperti yang terdapat
dalam surat-surat yang dahulu. Tetapi hal itu cukup dapat diterangkan juga, oleh
karena Paulus kini mengamati ufuk baru yang jauh lebih luas. Selebihnya Paulus
menggunakan macam-macam gaya bahasa dan dalam 2 Kor 9:8-14 atau Rom 3:23-26 dll
sudah terdapat contoh-contoh gaya bahasa kontemplatip dan lebih kurang liturgis
yang sepenuh-penuhnya berkembang dalam Kol dan Ef. Satu-satunya kesulitan yang
sesungguhnya berasal dari kenyataan bahwa beberapa bagian dari Ef lebih kurang
secara harafiah dan ada kalanya secara salah memungut pengungkapan-pengungkapan
dari Kol. Hanya Paulus tidak pernah menulis surat-suratnya dengan tangannya
sendiri dari awal sampai akhir. Maka gejala tersebut dapat diterangkan dengan
berkata bahwa seorang murid memainkan peranan besar dalam menyusun Ef. Adapun bahaya yang mengancam di Kolose
berasal dari pemikiran berlebih-lebihan berdasarkan pandangan-pandangan Yahudi,
Kol 2:16, yang bercampur-baur dengan filsafah ke-Yunanian. Pemikiran-pemikiran
berlebih-lebihan tersebut memberi kepada daya-daya sorgawi yang memimpin
jalannya jagat raya sebuah peranan begitu penting sehingga menurunkan kedudukan
utama Kristus. Paulus menerima saja adanya daya-daya semacam itu tanpa meragukan
kegiatannya; ia hahkan menyamakannya dengan malaikat-malaikat yang terdapat
dalam tradisi Yahudi, bdk 2:15. Hanya ia menerimanya untuk menempatkannya di
tempatnya yang wajar dalam rencana penyelamatan Allah. Mereka telah berperan
sebagai pengantara dan pengurus hukum Taurat. Tetapi kini peranannya sudah habis
sama sekali. Dengan menciptakan suatu dunia baru maka Kristus Kirios sendiri
menangani pemerintahan dunia semesta. PeninggianNya di sorga sudah menempatkan
Kristus di atas daya-daya kosmis yang telah dilucuti kekuasaannya dahulu, 2:15.
Memanglah sejak awal penciptaan Kristus sudah menguasai kekuasaan-kekuasaan itu,
sebab Dialah Anak dan Gambar Bapa. Tetapi dalam ciptaan baru Kristus menguasai
daya-daya itu sebagai Kepalanya dan secara definitip, oleh karena telah
mempersatukan di dalam diriNya segenap “Pleroma”, artinya kepenuhan
beradanya, baik beradanya Allah maupun beradanya dunia di dalam Allah, 1:13-20.
Oleh karena sudah dibebaskan dari “unsur-unsur dunia” (terj.: roh-roh
dunia), 2:8, 20, berkat persatuannya dengan Kepala dan oleh karena mengambil
bagian dalam KepenuhanNya, 2:10, maka orang-orang Kristen tidak perlu
menaklukkan diri kepada kekuasaan lalim “unsur-unsur dunia” itu dengan
menepati macam-macam aturan yang sudah ketinggalan zaman dan tidak berguna lagi,
2:16-23. Melalui baptisan mereka sudah dipersatukan dengan Kristus yang wafat
dan bangkit, 2:11-13, dan menjadi anggota TubuhNya. Dan hidup baru hanya mereka
terima dari Kristus yang menjadi Kepala yang menghidupkan, 2:19. Memanglah
Paulus tetap menaruh minat utamanya pada keselamatan Kristen, tetapi karena
pertikaian itu ia memperluas karya Kristus sampai merangkum seluruh dunia dan
jagat raya. Di samping bangsa manusia yang diselamatkan itu seluruh jagat raya
yang menjadi latar belakang dan rangka umat manusia dimasukkan Paulus ke dalam
karya Kristus. Maka jagat raya secara tak langsung ditempatkan juga di bawah
kekuasaan satu-satunya Tuhan, ialah Kristus. Pemikiran semacam itulah
mengakibatkan bahwa gagasan “Tubuh Kristus” yang dirintis dahulu, 1 Kor
12:12+, diperkembangkan lebih jauh dengan menekankan Kristus sebagai kepala
Tubuh-Nya; bahwa karya penyelamatan diperluas sampai merangkum dunia semesta;
bahwa pemandangan diperlebar, sehingga Kristus terutama dilihat sebagai pemenang
sorgawi, sedangkan Gereja sebagai persatuan menyeluruh dibangun menuju Kristus
sorgawi: bahwa eskatologi yang sudah terwujud lebih ditekankan, bdk Ef 2:6+. Pemandangan seperti di atas terulang dalam Ef. Tetapi
usaha untuk menaruh daya-daya sorgawi yang terlalu dinilai itu pada tempatnya
yang wajar sudah menghasilkan buahnya, Ef 1:20-22. Maka perhatian terutama
diarahkan kepada Gereja. Ia merupakan Tuhuh Kristus yang meluas sampai menjadi
jagat raya baru. Kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan segala sesuatu, 1:23 +.
Dalam pemandangan yang paling tinggi yang merupakan puncak segenap karyanya ini
Paulus memungut beberapa pikiran dari masa dahulu untuk menempatkannya di dalam
sintesa yang dicapainya. Teristimewa ia memikirkan kembali persoalan yang
dibahasnya dalam surat kepada jemaat di Roma, yang berupa puncak dalam tahap
pemikirannya dahulu. Ia tidak hanya dengan sepintas lalu meningkatkan
pandangannya mengenai keadaan lampau bangsa manusia yang berdosa dan keselamatan
yang dengan cuma-cuma dianugerahkan melalui Kristus, 2:1-10, tetapi juga
memikirkan kembali masalah hubungan antara bangsa-agama Yahudi dan jemaat
Kristen yang dahulu menggelisahkannya, Rom 9 – 11. Dan kini persoalan itu
dilihatnya dengan berlatar belakang eskatologis yang sudah terlaksana: kini
kedua kelompok itu nampak baginya sebagai bersatu karena diperdamaikan di dalam
satu orang Manusia baru, sehingga bersama-sama di perjalanan menuju Bapa, Ef
2:11-22. Dan justru kenyataan bahwa kaum kafir juga dapat memperoleh keselamatan
Israel dalam diri Kristus itu adalah “rahasia kehendak Allah’, 1:9; 3:3-6,
9; 6:19; Kol 1:27; 2:2; 4:3. Dan menrgingat rahasia itulah Paulus pada akhir
hidupnya dapat mengemukakan pikiran yang tidak ada bandingnya: mengenai Hikmat
Allah tak berbatas yang menyatakan diri dalam rahasia itu, 3:9 dst; Kol 2:3;
mengenai kasih Kristus yang tak terselami, yang nampak pula dalam rahasia itu,
Ef 3:18 dst; tentang dirinya sendiri, yang terhina di antara para rasul namun
oleh Allah dengan cuma-cuma dipilih menjadi pelayan rahasiaNya itu, 1:3-14. Dan
akhir-tujuan rahasia itu tidak lain kecuali pernikahan Kristus dengan bangsa
manusia yang selamat, ialah Gereja, 5:22-23. Surat kepada Filemon ditulis pada waktu yang sama dengan ditulisnya Kol dan
Ef. Ia dialamatkan kepada seorang Kristen yang oleh Paulus sendiri ditobatkan,
ay 9. Di dalam surat kecil itu Paulus memberitahukan bahwa seorang budak bernama
Onesimus yang melarikan diri dan oleh Paulus direbut bagi Kristus akan kembali
kepada majikannya, ay 10. Dengan tangannya sendiri, ay 19, Paulus menulis surat
kecil ini yang dengan bagusnya menyoroti kehalusan hati Paulus, ini juga penting
oleh karena memberitakan kepada kita bagaimana Paulus memecahkan masalah
perbudakan, Rom 6:15 + ; meskipun hubungan sosial antara majikan dan budak tetap
sama seperti dahulu, namun seorang majikan Kristen dan seorang budak Kristen
selanjutnya harus hidup sebagai bersaudara untuk mengabdi Majikan yang sama. ay
16 bdk Kol 3:22 – 4:1. 1
Tim, Tit, 2 Tim ; th. 65-67 Surat-surat kepada Timotius
dan surat kepada Titus
sangat berdekatan satu sama lain karena isi, latar belakang historis dan
bentuknya. Dua di antaranya rupanya ditulis di Makedonia; yang satu dialamatkan
kepada Timotius, yang waktu itu di
Efesus, 1 Tim 1:3, di mana Paulus berharap tidak lama lagi dapat bertemu
dengannya, 3:14; 4:13, sedangkan yang lain dialamatkan kepada Titus yang oleh Paulus ditinggalkan di pulau Kreta, Tit 1:5. Paulus
merencanakan tinggal di Nikopolis (di Epirus) selama musim dingin dan Titus
hendaknya berkumpul dengannya di situ, Tit 3:12. Waktu menulis 2 Tim Paulus
sedang di penjara di Roma, 1:8. 16 dst; 2:9, setelah singgah di Troas, 4:13 dan
Miletus. 4:20. Keadaan Paulus gawat sekali, 4:16, dan ia merasa bahwa ajalnya
sudah dekat, 4:6-8. 18. Ia seorang diri
dan mendesak supaya Timotius secepat mungkin datang, 4:16, 21. Meskipun ada
kesamaan kecil namun keadaan itu tidak bersesuaian dengan penahanan Paulus di
Roma selama th. 61-63 dan tidak pula dengan perjalanan yang mendahuluinya. Ada
cukup banyak ahli yang mengambil kesimpulan bahwa ketiga surat itu bukan
karangan Paulus. Seorang lain mau menjiplak Paulus dan mengkhayalkan
catatan-catatan mengenai hal-ihwal Paulus supaya karangan-karangannya nampaknya
bersifat historis dan dapat disebar-luaskan dengan nama dan kewibawaan Paulus.
Tetapi hipotesa semacam itu tidak perlu sama sekali. Tidak ada bukti satupun
bahwa Paulus mati selama penahanannya yang pertama; sebaliknya Kis 28:30
menyarankan bahwa ia dibebaskan. Jadi Paulus dapat mengadakan
perjalanan-perjalanan lain lagi, barangkali lebih dahulu di negeri Spanyol
sebagaimana ia merencanakannya, Rom 15:24.28, dan kemudian di sebelah timur,
sebagai mana juga direncanakan, Flm 22. Mudah saja 1 Tim dan Tit ditanggalkan
sekitar th. 65 selama suatu perjalanan melalui pulau Kreta, Asia Kecil,
Makedonia dan Yunani. Keadaan yang tampil dalam 2 Tim adalah situasi penahanan
baru yang kali ini berakhir dengan sial. Surat yang merupakan nasehat Paulus ini
kiranya ditulis tidak lama sebelum kemartiran Paulus dalam th. 67. Ketiga surat tersebut dialamatkan kepada dua murid Paulus yang paling
setiawan, Kis 16:1+; 2 Kor 2:13+. Di dalamnya termuat sejumlah petunjuk
bagaimana mengorganisasikan jemaat-jemaat Kristen yang oleh Paulus dipercayakan
kepada mereka. Itulah sebabnya maka sejak abad XVIII surat-surat itu biasanya
disebut “Surat-surat Pastoral (Gembala)”. Beberapa ahli berpendapat bahwa
surat-surat itu mengandaikan tahap perkembangan dalam tata pemerintahan umat
yang baru terjadi sesudah Paulus mati. Tetapi pendapat ini kurang tepat. Sebab
surat-surat itu sebenarnya mengandaikan sebuah tahap perkembangan umat yang
sangat mungkin sudah tercapai menjelang akhir hidup Paulus. Sebutan
“episkopos” (penilik) masih searti dengan sebutan “presbiter” (terj.:
penatua), Tit 1:5-7, seperti juga dahulu, Kis 20:17 dan 28, sesuai dengan
susunan jemaat-jemaat dahulu yang dipimpin oleh sebuah dewan penatua, Tit 1:5+.
Belum ada sama sekali seorang “uskup” yang seorang diri
menjadi pemimpin tertinggi jemaat. Tokoh semacam itu baru tampil dalam
surat-surat lgnasius dari
Antiokhia. Hanya perkembangan ke jurusan itu sudah dirintiskan meskipun beberapa
jemaat dipercayakan kepada Timotius dan Titus yang tidak terikat pada satu di
antaranya, Tit 1:5, namun kedua wakil Paulus itu memegang kewibawaan rasuli,
yang tidak lama lagi harus diserahkan kepada orang-orang lain oleh karena para
rasul menghilang. Dan tidak lama kemudian kewibawaan rasuli itu diberi kepada
ketua sebuah dewan penatua, dan ketua itu tidak lain kecuali uskup. Tahap
peralihan sebagaimana tampil dalam surat-surat pastoral justru menjadi bukti
bahwa surat-surat itu benar-benar karangan Paulus. Sebab dengan maksud apa
seorang pemalsu dapat mengkhayalkan tahap semacam itu? Perlu diperhatikan juga
bahwa “penilik” dan “penatua” itu bukan hanya pengurus harta-benda dan
perkara materiil lain, tetapi juga dan terutama bertugas mengajar dan memimpin,
1 Tim 3:2,5; 5:17; Tit 1:7.9. Dengan demikian maka “penilik” dan
“penatua” itu sungguh-sungguh moyang dari
uskup dan imam dalam Gereja Katolik sekarang. Sementara ahli berpendapat bahwa desakan untuk berpegang teguh pada
“ajaran sehat”, 1 Tim 1:10 dll, dan memelihara “depositum fidei” (terj.:
apa yang dipercayakan kepadamu), 1 Tim 6:20: 2 Tim 1:14, tidak layak bagi
Paulus, seorang pemikir teologis yang berani dan orisinil. Tetapi keterangan dan
desakan semacam itu nampaknya sesuai sekali dengan Sang Rasul yang dekat pada
ajalnya dan memperingati pembantu-pembantunya yang masih muda berhubung dengan
pemikiran-pemikiran yang membahayakan. Sebab Paulus sudah mengamati bahwa pada
jemaat-jemaat itu ada selera untuk pembaharuan-pembaharuan yang dapat
menghancurkan iman, 1 Tim 1:19. Dan ini tentu saja bukan ajaran dari
gnostik dalam abad II yang mau ditentang oleh seorang pemalsu yang menyamar
sebagai Paulus. “Soal-soal yang dicari-cari”, 1 Tim 6:4, “dongeng-dongeng
dan silsilah yang tiada putus-putusnya”, 1 Tim 1:4, “dongeng-dongeng
Yahudi”, Tit 1:14. dan “percekcokan dan pertengkaran mengenai hukum
Taurat”, Tit 3:9, yang bercampur dengan aturan-aturan askese yang keras, 1 Tim
4:3, kiranya berasal dari
orang-orang Yahudi yang berkebudayaan Yunani dan suka mencampurkan segala
sesuatunya. Paulus terpaksa sudah menghadapi mereka waktu krisis dalam jemaat di
Kolose. Sudah barang tentu bahasa yang dipakai dalam surat-surat ini tidak mempunyai
ciri-ciri bahasa Paulus. Gaya bahasanya sangat lancar, berbeda sekali dengan
gaya yang berapi-api dan yang kekayaannya melimpah-limpah, seperti yang dipakai
oleh Paulus dalam surat-suratnya dahulu. Bahkan perbendaharaan kata pun berbeda
dengan perbendaharaan kata yang lazim pada Paulus. Ada orang yang berkata, bahwa
usia lanjut Paulus dan keadaannya sebagai orang tahanan dapat menjelaskan gejala
semacam itu. Tetapi antara Kol, Ef dan Tim, Tit hanya ada jangka waktu
paling-paling empat-lima tahun, sedangkan 1 Tim dan Tit tidak ditulis dalam
penjara. Juga usaha untuk membeda-bedakan dalam surat-surat pastoral beberapa
surat-surat kecil baik yang berasal dari
Paulus maupun yang bukan karangannya tidak sampai meyakinkan. Dan sebab itu
sebaik-baiknya diandaikan bahwa seorang murid-penulis Sang Rasul berperan dalam
menyusun surat-surat pastoral, sama seperti halnya dengan Ef. Kepada penulis itu
Paulus memberikan kebebasan lebih besar dari yang lazim. Memang Lukas menyertai Paulus, 2 Tim 4:11, dan ada orang yang
mengira dapat menemukan kesamaan khusus antara gaya bahasa Lukas dan gaya bahasa
surat-surat pastoral. Ibr
th. 67 Berbeda dengan semua surat lain, surat kepada orang-orang Ibrani sejak
dahulu diragukan keasliannya. Bahwasanya surat ini termasuk Kitab Suci jarang
dipersoalkan, tetapi dalam Gereja barat sampai akhir abad IV tidak
diterima sebagai karangan Paulus. Meskipun diterima oleh Gereja timur
sebagai karangan Paulus, namun bentuk literer surat itu dipersoalkan (Klemens dari
Aleksandria, Origenes). Memanglah bahasa dan gaya bahasa surat kepada
orang-orang Ibrani adalah murni dan lancar dan pasti bukan bahasa atau gaya
bahasa Paulus. Caranya surat ini mengutip dan menggunakan Penjanjian Lama
bukanlah cara Paulus. Alamat dan kata pembuka yang lazim dalam surat-surat
Paulus tidak ada sama sekali. Ajaran yang termuat dalam karangan itu mempunyai
keserupaan dengan ajaran Paulus, tetapi sekaligus ajaran itu cukup asli, sehingga sukar diterima bahwa langsung berasal dari
Paulus sendiri. Maka banyak ahli katolik dan bukan katolik dewasa ini sependapat
dalam mengakui bahwa surat ini bukan karangan Paulus seperti surat-surat lain
adalah karangannya, walaupun secara langsung atau tidak langsung Paulus
mempengaruhi Ibr. Dan pengaruh itu begitu rupa sehingga dapat
dipertanggung-jawabkan bahwa secara tradisionil surat ini dikelompokkan bersama
dengan surat-surat Paulus. Tetapi perbedaan pendapat muncul kalau dipersoalkan siapa sesungguhnya penulis
Ibr yang tidak bernama itu. Segala macam nama sudah dikemukakan, misalnya
Barnabas, Silas, Aristion, dll. Yang kiranya paling kena ialah Apolos,
seorang Yahudi dari Aleksandria, yang kefasihan, semangat kerasulan dan kemahirannya dalam
Alkitab dipuji oleh Lukas, Kis 18:24-28. Bakat-bakat itu ternyata tampil jelas
dalam surat kepada orang-orang Ibrani; bahasa dan pemikirannya berbau bahasa dan
pemikiran Aleksandnia (Filo); kefasihannya dalam membela agama Kristen
meyakinkan, sedangkan seluruh argumentasinya berdasar penafsiran Perjanjian
Lama. Seperti nama pengarangnya tidak dikenal dengan pasti,
demikianpun halnya dengan tempat ditulisnya surat ini dan orang-orang yang
dialamati. Rupanya pengarang tinggal di Italia, 13:24, dan menulis suratnya
sebelum Bait Allah di Yerusalem dihancurkan (th. 70). Sebab itu ía berkata
tentang ibadat dalam Bait Allah seolah-olah sesuatu yang masih terus
berlangsung, 8:4 dst, dan ia menasehati pembacanya sehubungan dengan godaan
untuk kembali ke ibadat itu. Tentu saja pengarang menekankan bahwa ibadat Musa
mempunyai ciri sementara saja, tetapi sama sekali tidak berkata tentang bencana
yang terjadi dalam th. 70, meskipun kejadian itu memang sangat mendukung
pendapatnya. Selebihnya pengarang pasti menggunakan surat-surat yang dituhis
Paulus dalam penjara (Ef, Flp, Kol). Maka surat kepada orang-orang Ibrani boleh
diberi bertanggal sesudah th. 63, kiranya sekitar th. 67, kalau orang menerima
bahwa apa yang dikatakan tentang krisis yang mendekat, sebagaimana dapat
dirasakan dalam seruannya supaya sidang pembaca berpegang teguh pada
kepercayaannya, 10:25 dll, mengenai gejala yang mendahului perang Yahudi. Meskipun judul surat ini, ialah: “Kepada orang-orang Ibrani” baru muncul
selama abad II, namun sangat cocok dengan isi karangan itu. Surat ini tidak
hanya mengandaikan bahwa para pembaca berkenalan baik dengan Perjanjian Lama,
tetapi juga bahwa mereka bekas Yahudi. Oleh karena Ibr begitu menekankan ibadat
dan liturgi, maka orang bahkan berpikir kepada bekas imam-imam Yahudi, bdk Kis
6:7. Setelah masuk Kristen imam-imam itu terpaksa meninggalkan kota suci dan
mengungsi ke tempat lain. barangkali ke salah satu kota di pantai, misalnya
Kaisarea atau Antiokhia. Tetapi pengasingan itu memberati mereka. sehingga
dengan rindu mengenangkan ibadat bersemarak yang diselenggarakan oleh kaum Lewi
dan yang merekapun melayaninya dahulu. Kepercayaannya yang baru, yang masih
kurang kuat dan kurang terdidik, mengecewakan mereka, apa lagi oleh karena
terganggu oleh penganiayaan akibat kepercayaan itu. Maka timbullah godaan hebat
untuk mengundurkan diri. Surat kepada orang-orang Ibrani sekuat tenaga berusaha mencegah mereka dari menjadi murtad, 10: 19:39. Untuk mengobarkan semangat kaum buangan yang menjadi lesu dan kendor itu, maka Ibr menyajikan pandangan unggul mengenai hidup Kristen, yang dipikirkan sebagai sebuah ziarah, suatu perjalanan menuju istirahat yang dijanjikan, sebuah perjalanan ke Tanah Air dengan dibimbing oleh Kristus yang melebihi Musa, 3:1-6, dan dengan disinari cahaya iman-kepercayaan yang sudah memimpin para bapa bangsanya, orang-orang Yahudi waktu keluaran dan semua orang suci dari Perjanjian Lama, 3:7 – 4:11; 11. Dengan imamat lama dan ibadat kaum Lewi yang dirindukan sidang pembaca, si pengarang memperlawankan diri Kristus yang menjadi Imam menurut peraturan Melkisedek dan melebihi imamat Harun, 4:14 – 5:10; 7, dan korbanNya yang tunggal, satu-satunya yang bernilai dan mengganti semua persembahan tak berdaya yang dipersembahkan selama Perjanjian Lama, 8:1 – 10:18. Dan hendak mendasarkan kesemuanya itu maka si pengarang membuktikan keunggulan Pemimpin dan Imam itu ialah Yesus Kristus, Anak Allah yang menjelma, Raja alam semesta dan bahkan lehih tinggi dari para malaikat, 1-2. Ulasan-ulasan teologis yang berisikan penafsiran Kitab Suci berselang-seling dengan ajakan hangat. Garis-garis pokok-pokok utama karangannya berjalin begitu rupa sehingga membingungkan logika kita: demikianpun caranya pengarang menggunakan Kitab Suci kadang-kadang juga membingungkan. Tetapi justru itulah sebuah pengajaran tentang tipologi yang secara luar biasa menyatakan bagaimana umat Kristen purba memikirkan keselarasan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dan bagaimana mereka memahaini karya Kristus sehubungan dengan seluruh tata penyelamatan. Dan bersama dengan catatan yang tinggi mutunya mengenai pokok-pokok utama dari kepercayaan Kristen justru ajaran tersebut membuat karangan yang tak bernama itu, di mana roh Paulus masih berembus, menjadi sebuah dokumen hakiki dalam pewahyuan Perjanjian Baru.
|