PARA NABI       

           Dalam Alkitab Ibrani kitab-kitab Yesaya, Yeremia, Yehezkiel dan kedua belas nabi lainnya merupakan suatu kelompok yang disebur “Nabi-nabi kemudian”. Kitab-kitab tsb ditempatkan sesudah kitab-kitab Yosua, Hakim-hakim, Samuel, Raja-raja yang oleh Alkitab Ibrani disebut “Nabi-nabi terdahulu”. Alkitab Yunani, Septuaginta, menempatkan kitab-kitab para Nabi sesudah Ketubim (Hagiographa) dalam urutan berbeda dengan urutannya di dalam Alkitab Ibrani. Selain itu urutan kitab-kitab para Nabi dalam Alkitab Yunani kurang menentu. Alkitab Yunani menggabungkan kitab Ratapan dan Kitab Daniel pada kitab-kitab para nabi. Padahal Alkitab Ibrani menempatkan kedua kitab tsb pada akhir daftar kitab-kitab suci. Alkitab Yunani juga menambah beberapa tulisan lain yang tidak pernah dikarang ataupun terpelihara dalam bahasa Ibrani, mis. bagian-bagian tambahan Kitab Daniel. Kitab Barukh ditempatkan sesudah Kitab Yeremia, dan Surat Yeremia menyusul kitab Ratapan. Terjemahan Vulgata pada umumnya mengikuti urutan tsb, tetapi, sesuai dengan urutan Alkitab Ibrani, Vulgata menempatkan kedua belas nabi “kecil” sesudah kitab-kitab empat nabi “besar” serta menggabungkan Surat Yeremia pada Kitab Barukh yang ditempatkan olehnya sesudah Kitab Ratapan.

 

KENABIAN

Semua agama besar yang berkembang di zaman purba memilikinya, dengan perbedaan dalam tingkat dan bentuk orang-orang tertentu, yang telah menerima ilham dan menganggap diri wakil yang berbicara atas nama dewanya. Berhubungan dengan bangsa-bangsa yang bertetangga dengan Israel, perlu dicatat sebuah berita mengenal seseorang yang kerasukan roh kenabian pada abad ke-lI seb.Mas. di Byblos. Juga ada berita mengenai pelihat-pelihat dan nabi-nabi di Hama dekar sungai Orontos pada abad ke-8 seb.Mas. dan ada beberapa berita mengenai orang semacam yang tampil di Mari dekat sungai Efrat pada abad ke-18 seb.Mas. Ditinjau dari segi bentuk dan isi, pesan para pelihat itu yang ditujukan kepada penguasa menyerupai pesan nabi-nabi tertua di Israel yang disebut dalam Kitab Suci. Kitab Suci sendiri memberi kesaksian mengenai pelihat yang bernama Bileam, yang dipanggil dari Aram oleh raja Moab, Bil 22-24, dan mengenai 450 nabi dewa Baal yang dipanggil Izebel dan Tirus lalu dipermalukan nabi Elia di gunung Karmel, 1 Raj 18:19-40. Serupa dengan nabi-nabi Baal itu ialah 400 nabi lainnya yang diminta nasihatnya oleh raja Akhab, 1 Raj 22:5-12. Ke-400 nabi ini seperti juga 450 nabi Baal yang disebut sebelumnya, ialah sekelompok besar orang kerasukan roh yang rusuh dan kacau. Namun mereka berbicara atas nama Yahwe. Meskipun nabi-nabi itu kadang-kadang ternyata nabi palsu, namun pastilah sudah, bahwa agama Yahwe kuno mengenal dan mengakui lembaga kenabian. Kitab Suci menyebut juga rombongan-rombongan nabi yang mendampingi Samuel, 1 Sam 10:5;19:20. Di zaman kegiatan nabi Elia, 1 Raj 18:4. ada rombongan-rombongan nabi yang berhubungan dengan Elisa, 2 Raj 2:3-18; 4:38 dst; 6:1 dst; 9:1. Kemudian mereka tidak disebut lagi dalam Kitab Suci, kecuali dalam Am 7:14. Terangsang oleh musik, 1 Sam 10:5, nabi-nabi itu bersama-sama kerasukan roh masuk ekstase, lalu keadaan mereka menular kepada para hadirin, 1 Sam 10:10; 19:20-24. Ada kalanya nabi-nabi itu mengambil tindakan yang berupa lambang, 1 Raj 22:11.

Sekali terjadi, bahwa nabi Elisa, sebelum mulai bernubuat, membantu diri dengan musik, 2 Raj 3:15. Nabi-nabi kemudian lebih sering melakukan tindakan berupa lambang, mis, nabi Ahia dari Silo, 1 Raj 11:29 dst, dan juga nabi Yesaya, Yes 20:2-5, sering kali nabi Yeremia, Yer 13:1 dst; 19:1 dst; 27:2 dst, dan terutama nabi Yehezkiel, 4:1-5:4; 12:1-7,18; 21:18 dst; 37:15 dst. Baik dalam melakukan tindakan berupa lambang mau pun lepas dari itu, nabi-nabi kerap kali berkelakuan aneh. Mereka dapat mengalami pelbagai keadaan jiwa yang secara psikologis tidak normal. Akan tetapi gejala-gejala yang aneh-aneh itu tidak pernah menjadi inti-pokok karya para nabi yang kegiatan dan perkataan-perkataannya termaktub di dalam Kitab Suci. Mereka ini berbeda sekali dengan rombongan-rombongan nabi dan orang-orang kerasukan roh yang disebut di muka.

Walaupun demikian mereka semua, tanpa dibeda-bedakan, diberi nama yang sama yaitu nabi. Memang kadang-kadang kata-kerja yang berasal dari kata-benda nabi ini (bernubuat) mendapat arti “kerasukan” (mengigau), 1 Sam 18:10 (juga di tempat-tempat lain). Hal ini dikarenakan cara “nabi-nabi” tertentu berlaku sebagai nabi. Akan tetapi arti kata-kerja yang sampingan itu tidak merubah arti asli kata-bendanya. Kemungkinan besar, kata-benda itu berpautan dengan kata dasar yang berarti “memanggil-manggil, memaklumkan”. Menurut arti ini, nabi ialah orang yang terpanggil atau pun orang yang memaklumkan. Kedua arti kata ini menyatakan inti pokok karunia kenabian pada bangsa Israel. Nabi ialah seorang pembawa pesan serta seorang juru bicara Allah. Arti ini dengan jelas diungkapkan dalam dua kutipan yang serupa yaitu dalam Kel 4:15-16 dan Kel 7:1. Menurut Kel 4:15-16, Harun akan menjadi penyambung lidah Musa, seolah-olah ia adalah “mulutnya”, dan Musa akan menjadi “Allah yang memberi ilham kepadanya”. Menurut Kel 7:1 Musa akan menjadi “Allah bagi Firaun” dan Harun akan bertindak sebagai “nabinya”. Kedua keterangan ini bergema dalam firman Yahwe yang ditujukan kepada Yeremia ini: “Aku menaruh perkauaan-perkataanKu ke dalam mulutmu”, Yer 1:9. Para nabi menyadari, bahwa pesan mereka berasal dari Allah. Oleh karena itu mereka menyampaikan pesannya dengan terlebih dahulu berkata: “TUHAN berfirman” atau “Firman TUHAN” atau “Beginilah firman TUHAN”.

Firman yang diterima para nabi, memaksakan diri kepada mereka. Mereka tidak dapat mendiamkannya. Amos misalnya berseru: “Tuhan ALLAH telah berfirman, siapakah yang tidak bernubuat?”, Am 3:8. Percuma saja Yeremia melawan firman itu yang mendesaknya untuk bernubuat, Yer 20:7-9. Semua nabi, pada suatu hari dipanggil Allah dan mereka tidak dapat mengelakkan panggilan itu, Am 7:15; Yes 6, khususnya Yer 1:4-10. Mereka semua dipilih sebagai juru bicara Allah, Yes 6:8. Awal kisah Yunus menunjukkan, berapa mahalnya tebusan yang harus dibayar orang yang mau menghindari perutusan itu. Para nabi diutus sebagai saksi-saksi kehendak Allah. Mereka sendiri harus menjadi “alamat” kehendak Allah itu. Bukan saja perkataan-perkataan mereka, melainkan juga perbuatan-perbuatan mereka, bahkan seluruh kehidupan mereka menjadi nubuat. Inilah beberapa contohnya: Perkawinan riil Hosea yang malang adalah sebuah lambang, Hos 1-3; Yesaya harus berjalan dalam keadaan bugil untuk menjadi alamat malapetaka yang datang, Yes 20:3; Yesaya sendiri serta anak-anaknya telah menjadi “tanda dan alamat”; Yes 8:18; kehidupan Yeremia merupakan pengajaran, Yer 16; sewaktu Yehezkiel melaksanakan perintah-perintah aneh yang disampaikan kepadanya oleh Allah, maka ia menjadi “lambang bagi kaum Israel”, Yeh 4:3; 12:6,11; 24:24.

Pesan Allah diterima oleh nabi dengan pelbagai cara. Ada yang menerimanya melalui penglihatan seperti Yesaya, 6, atau Yehezkiel, 1; 2; 8, dll, Daniel, Dan 8-12, Zakharia, Za 1-6, jarang melalui penglihatan di malam hari, bdk Bil 12:6, seperti pada Dan 7; Za 1:8 dst. Ada juga yang menerimanya melalui pendengaran. Tetapi pada umumnya para nabi menerima pesan Allah itu melalui ilham batiniah. Ungkapan-ungkapan seperti “Firman TUHAN datang kepadaku” atau “Firman TUHAN kepada ......”, biasanya dapat diartikan sebagai ilham batiniah. Ilham itu datang kepada nabi entah dengan tiba-tiba, entah dengan alasan suatu peristiwa biasa saja, mis. sewaktu Yeremia melihat sebauang dahan pohon badam, Yer 1:11, dua keranjang buah ara, Yer 24, dan mengunjungi tukang periuk, Yer 18:1-4. Isi pesan yang telah diterima, disampaikan nabi kepada orang-orang lain dengan pelbagai cara, mis. dalam bentuk sajak liris atau ceritera, dengan memakai kiasan atau dengan jelas, dalam gaya bahasa singkat berupa “firman” ataupun dalam gaya bahasa yang biasanya dipakai dalam kecaman, perdebatan sengit, khotbah, perkara pengadilan, tulisan-tulisan hikmat atau mazmur-mazmur yang lazim dalam ibadat, lagu-lagu cinta, sindiran, ratapan, dsb.

Perbedaan dalam cara menerima dan menyampaikan pesan Allah itu pada umumnya tergantung dari watak pribadi dan kecakapan-kecakapan alamiah masing-masing nabi. Namun demikian dalam perbedaan itu terdapat suatu persamaan dasari. Setiap nabi selalu menyadari penuh, bahwa dia hanya sebuah alat; bahwa perkataan-perkataan yang diucapkannya sekaligus perkataannya sendiri dan perkataan pribadi lain. Setiap nabi yang benar sungguh-sungguh yakin, bahwa ia telah menerima firman Allah dan firman itu harus diteruskannya kepada orang lain. Keyakinannya itu bertumpu pada pengalaman luar biasa, katakanlah pengalaman mistik, bahwa antara dia dengan Allah terjalin suatu hubungan langsung. Sebagaimana telah dikatakan di muka, kadang-kadang terjadi, bahwa genggaman Ilahi yang dialami nabi nampak di luar dalam gejala-gejala yang kurang biasa. Tetapi seperti halnya dengan para mistikus ternama, hal ini terjadi jarang sekali. Sebaliknya, sesuai dengan pengalaman para mistikus besar, pengalaman akan Allah itu membawa nabi ke dalam suatu keadaan yang dengan tepat dapat disebut “adikodrati”. Berkata, bahwa nabi tidak mengalami keadaan semacam ini berarti menurunkan karunia kenabian menjadi “inspirasi” sastrawan biasa dan lamunan-lamunan orang yang pura-pura terilhamkan.

Jarang sekali pesan kenabian ditujukan kepada orang perorangan saja, Yes 22:15 dst, atau menyangkut hanya sebuah keluarga tertentu, Yer 20:6; Am 7:17. Dalam hal ini perlu dikecualikan raja, mengingat kedudukannya sebagai kepala bangsa (sebagai contoh dapat disebut pesan nabi Natan kepada raja Daud, pesan nabi Elia kepada raja Ahab, pesan nabi Yesaya kepada Ahas dan Hizkia serta pesan nabi Yeremia kepada raja Zedekia). Perlu juga mengecualikan nubuat yang ditujukan kepada imam besar yang bertindak sebagai kepala jemaat setelah bangsa Israel kembali dari pembuangan di Babel, Za 3. Dengan tidak memperhatikan bebenapa kekecualian tsb, dapat dikatakan, bahwa nabi-nabi besar, yang tulisannya terpelihara bagi kita, berbeda sekali dengan para nabi di Israel yang mendahului mereka dan dengan “nabi-nabi” yang pernah tampil di dunia Timur di zaman purba. Dan yang justru membedakan nabi-nabi besar dengan yang lain-lain itu ialah bahwa pesan mereka ditujukan kepada seluruh nakyat. Dalam setiap kisah panggilan nabi besar tercantum pula, bahwa ia diutus kepada seluruh rakyat, Am 7:15; Yes 6:9; Yeh, 2:3, malahan kepada segala bangsa, sebagai mana halnya dengan Yeremia, Yer 1:10.

Pesan para nabi menyangkut masa sekarang dan masa depan. Nabi diutus kepada orang-orang sezamannya. Ia memberitahu mereka tentang kehendak Allah. Namun sejauh bertindak sebagai juru bicara Allah, nabi tidak terikat pada waktu tertentu. Nubuat-nubuat yang diucapkan nabi tentang masa depan memperkuat serta melanjutkan wejangan-wejangan yang dibawakannya. Nabi dapat menubuatkan sesuatu yang akan terjadi dalam waktu dekat sebagai suatu tanda. Pelaksanaan nubuat itu akan membenarkan perkataan dan karyanya, 1 Sam 10:1 dst; Yes 7:14; Yer 28:15 dst; 44:29-30; nabi melihat hukuman yang akan menimpa bangsanya sebagai balasan atas kesalahan-kesalahan yang dikecamnya. Ia melihat juga keselamatan mendatang sebagai ganjaran atas bertobatnya bangsa Israel yang selalu diusahakan oleh nabi. Dalam ajaran para nabi yang berkarya di zaman kemudian, terdapat nubuat-nubuat yang menyangkut akhir zaman, malahan hari kemenangan terakhir Allah. Tetapi dari nubuat itu selalu diambil ajaran yang berpautan dengan waktu nubuat itu diucapkan. Perlu ditambah pula, bahwa justru oleh karena nabi hanya menjadi semacam alat saja, pesan yang dibawakannya dapat mempunyai arti dan makna jauh lebih luas. Ada kalanya pesan itu tidak terbatas pada keadaan kongkrit saja yang mendesak nabi untuk mengucapkannya dan ia malahan melampaui kesadaran nabi itu sendiri. Kalau demikian pesan itu diselubungi suatu tabir rahasia dan baru menjadi jelas setelah itu terlaksana di kemudian hari.

Nabi Yeremia diutus Allah “untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam”, Yer 1.10. Pesan para nabi memang mempunyai dua segi: mengecam dan menghibur. Sesungguhnya sering kali pesan itu kejam, penuh ancaman dan celaan. Nada keras itu bahkan dapat menjadi bukti, bahwa nubuat memang sejati, Yer 28:8-9, bdk Yer 26:16-19; 1 Raj 22:8. Nada keras disebabkan dosa, yang menjadi penghalang dilaksanakannya rencana Allah, menghantui hati nabi. Namun demikian di dalam pesan nabi selalu masih bergema harapan akan keselamatan. Bagian kitab Yesaya yang berjudul Kitab Penghiburan, Yes 40-55, adalah semacam puncak kurnia kenabian. Tidaklah tepat berkata, bahwa nabi-nabi yang berkarya di zaman dahulu tidak mengumandangkan berita-berita gembira penuh hiburan semacam ini. Nubuat keselamatan semacam itu sudah dapat dijumpai dalam kitab Am 9:8-15; Hos 2:13-22; 11:8-Il; 14:2-9. Dalam sikap dan tindakan Allah terhadap umatNya kerelaan dan hukuman saling melengkapi.

Nabi diutus Allah kepada bangsa Israel, tetapi pandangannya selalu lebih luas dan tidak terbatas pada bangsanya sendiri saja, sama seperti kuasa Allah yang karyaNya diberitakan nabi lebih luas dari Israel melulu. Dalam kitab nabi Yesaya, Yeremia, dan Yehezkiel terdapat beberapa kelompok nubuat melawan bangsa-bangsa lain, Yes 13- 23, Yer 46-51, Yeh 25-32. Kitab nabi Amos dimulai dengan hukuman-hukuman yang dijatuhkan atas bangsa-bangsa tetangga Israel. Kitab nabi Obaja memuat sebuah nubuat mengenai Edom. Dalam kitab nabi Nahum tercantum hanya satu nubuat semacam ini mengenai kota Niniwe, padahal nabi Yunus diutus Allah justru ke kota itu untuk mengajak penduduk-penduduknya, supaya mereka bertobat.

Nabi berkeyakinan, bahwa ia berbicara atas nama Allah. Tetapi dari manakah para pendengarnya dapat tahu, bahwa dia memanglah nabi yang sejati? Sebab sejarah Israel mengenal juga nabi-nabi palsu. Mereka sering disebut dalam Kitab Suci. Mungkin saja nabi-nabi palsu itu secara pribadi jujur, tetapi dalam kenyataannya mereka keliru. Mungkin juga mereka pura-pura berlagak nabi. Bagaimanapun juga tingkah-laku mereka yang dapat dilihat mata, tidak berbeda dengan tingkah-laku nabi-nabi yang sejati. Nabi-nabi palsu itu menipu rakyat dan nabi-nabi sejati terpaksa melawan dan berdebat dengan mereka. Demikianlah terjadi dengan Mikha bin Yimla yang melawan nabi-nabi raja Akhab, 1 Raj 22.8 dst. Nabi Yeremia melawan Hananya, Yer 28, atau nabi-nabi palsu pada umumnya, Yer 23. Juga Yehezkiel melawan sejumlah nabi dan nabiah palsu, Yeh 13. Dari mana dapat diketahui, bahwa pesan yang diberitakan nabi berasal dan Allah? Bagaimana membedakan nubuat benar dan yang palsu? Menurut Kitab Suci ada dua tanda pengenal bahwa nubuat itu benar:

1) nubuat itu terlaksana, Yer 28:9; Ul 18:22 (bdk juga 1 Sam 10:1; Yes 7:14; Yer 28:15; 44:29-30), dan terutama

2) isi nubuat itu sesuai dengan ajaran agama Yahwe, Yer 23:22; UI 13:2-6.

Nas-nas yang dikutip dari kitab Ul itu menunjukkan, bahwa kenabian diakui oleh agama resmi sebagai suatu lembaga tersendiri. Kadang-kadang para nabi tampil di samping para imam, Yer 8:1; 23:11; 26:7 dst, dll, Za 7:3, dll. Dalam kitab Yeremia dikatakan, bahwa di dalam Bait Allah di Yerusalem tersedia “sebuah kamar untuk Ben Yohanan, abdi Tuhan” yang agaknya seorang nabi. Berdasarkan keterangan tsb dan bertumpu pada keserupaan sejumlah nubuat para nabi dengan doa-doa liturgis, dewasa ini sementara ahli sampai pada kesimpulan, bahwa para nabi, termasuk nabi- nabi besar (Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel) adalah petugas-petugas Bait Allah dan memainkan suatu peranan dalam ibadat resmi. Kesimpulan ini terlalu berlebih-lebihan, jika dibandingkan dengan keterangan-keterangan dalam Kitab Suci yang menjadi landasan pendapat tsb. Cukuplah orang menerima, bahwa memang ada hubungan antara para nabi dengan pusat-pusat hidup keagamaan dan bahwa ada nubuat yang gaya bahasa dan susunannya terpengaruh oleh ibadat. Pengaruh ini nampak terutama dalam kitab Hab, Za dan Yl.

Gagasan pokok yang agaknya dapat disimpulkan dari keadaan nyata yang serba majemuk dan dari nas-nas yang berpautan dengan tugas para nabi ialah sbb: seorang nabi ialah seorang yang secara langsung mengalami Allah; ia telah menerima penyataan mengenai kekudusan dan kehendak Allah; ia menilai peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa hidupnya dan melihat masa depan dengan diterangi cahaya Ilahi; ia diutus Allah untuk mengingatkan orang-orang lain tuntutan-tuntutan Allah dan untuk membawa mereka kembali ke jalan ketaatan dan cinta kasih kepada Allah. Ditinjau demikian, maka karunia kenabian pada bangsa Israel nampak sebagai suatu gejala khusus, kendati kesamaan lahiriahnya dengan gejala-gejala keagamaan serupa yang ditemukan pada bangsa-bangsa yang bertetangga dengan Israel. Karunia kenabian merupakan suatu cara khas yang dipakai Penyelenggaraan Ilahi untuk membimbing umat terpilih.

Mengingat sifat-sifat dan peranan para nabi sebagaimana tadi diuraikan, maka tidak mengherankan, bahwa Kitab Suci memberi kepada Musa tempat yang paling depan dalam rangkaian para nabi, UI 18:15,18, dan menganggapnya sebagai nabi yang melebihi semua nabi lainnya, Bil 12:6-8; UI 34:10-12. Sebab Musa menghadap Yahwe muka dengan muka, ia langsung berbicara dengan Tuhan serta menyampaikan hukum Taurat kepada bangsa Israel. Di antara bangsa Israel selalu ada sejumlah orang yang mewarisi karunia-karunia istimewa itu, mulai dengan Yosua, pengganti Musa, “seorang yang penuh roh”, Bil 27:18, bdk UI 34:9. Di zaman para Hakim dikenal seorang nabiah yaitu Debora, Hak 4-5, dan seorang nabi yang tidak disebut namanya Hak 6:8. Kemudian tampillah nabi dan pelihat ternama, yaitu Samuel, 1 Sam 3:20; 9:9; bdk 2 Taw 35:18. Di masa itu roh kenabian memenuhi juga kelompok-kelompok orang ‘kerasukan” yang bertindak secara aneh-aneh, seperti sudah diuraikan di muka, 1 Sam 10:5; 19:20. Lalu Kitab Suci menyebut beberapa “rombongan nabi” yang membentuk semacam tarekat dan nampaknya kurang ekstatis, 2 Raj 2. dll. Dalam bagian-bagian berikut Kitab Suci tarekat-rarekat tsb tidak pernah disinggung lagi, namun sampai masa sesudah kembalinya orang-orang Yahudi dari pembuangan di Babel, kitab Suci menyebut nabi-nabi itu sebagai kelompok tersendiri, Za 7:3. Di samping tarekat-tarekat yang pengaruhnya atas hidup keagamaan bangsa Israel sukar ditentukan itu, terdapat juga beberapa tokoh yang menyolok: Gad, nabi raja Daud, 1 Sam 22:5; 2 Sam 24:11. Natan yang mendampingi raja yang sama, 2 Sam 7:2 dst; 12:1 dst; 1 Raj 1:11 dst; Ahia di masa pemerintahan raja Yerobeam, 1 Raj 11:29 dst; 14:2 dst; Yehu bin Hanani di masa pemerintahan raja Baesa, 1 Raj 16:7; Elia dan Elisa di masa pemerintahan raja Ahab dan pengganti-penggantinya, 1 Raj 17 – 2 Raj 13; Yunus di masa pemerintahan Yerobeam II, 2 Raj 14:25; nabiah Hulda di masa pemerintahan Yosia, 2 Raj 22:14 dst; Uria (bin Semaya) di masa pemerintahan Yoyakim, Yer 26:20. Daftar ini ditambahi oleh Taw dengan nabi Semaya di masa pemerintahan Rehabeam, 2 Taw 12:5 dst; Ido di masa raja Abia, 2 Taw 13:22; Azarya (bin Oded) di masa pemerintahan Asa, 2 Taw 15:1 dst; Oded di masa pemerintahan Ahas, 2 Taw 28:9 dst, dan beberapa nabi lain yang tidak disebut namanya.

Tentang kebanyakan nabi tsb kita tidak tahu banyak oleh karena dalam Kitab Suci hanya disinggung sedikit atau hanya disebut namanya saja. Tetapi ada beberapa yang tampil ke depan. Natan memberitakan kepada raja Daud, bahwa wangsanya yang berkenan kepada Allah akan berlangsung untuk seterusnya. Nubuat Natan ini merupakan mata rantai pertama dalam serangkaian nubuat yang semakin terperinci mengenai Mesias keturunan Daud, 2 Sam 7:1-17. Namun Natan ini juga menghardik keras raja Daud yang telah berzinah dengan Batsyeba. Setelah raja bertobat Natan menjamin kepadanya, bahwa Allah akan mengampuni dosanya itu, 2 Sam 12:1-26.

Dua nabi lain yaitu Elia dan Elisa lebih kita kenal berkat sejumlah cerita mengenai mereka yang tercantum dalam kedua kitab Raja-raja. Elia berperan sebagai pembela iman kepada Allah yang Esa dan secara gemilang mengalahkan nabi-nabi dewa Baal di puncak gunung Karmel, 1 Raj 18. Elia memang tampil di panggung sejarah Israel tepat pada waktu agama Yahwe terancam bahaya dari pihak kepercayaan serta ibadat kafir yang mulai berpengaruh pada orang-orang Yahudi. Pertemuan Elia dengan Allah di gunung Horeb, yaitu di tempat pernah diadakan Perjanjian suci, secara langsung menghubungkan diri Elia dengan Musa, 1 Raj 19. Elia adalah seorang pembela iman akan Yahwe dan sekaligus pembela keluhuran akhlak. Elia menyerukan hukuman Allah atas diri raja Ahab yang telah membunuh Nabot untuk merampas kebun anggurnya, 1 Raj 21. Akhir hidup Elia yang terselubung suatu rahasia, 2 Raj 2:1-18, menyemarakkan kepribadiannya, yang makin hari makin dimasyhurkan dalam tradisi Yahudi. Elia selalu berjuang sendirian. Bukan demikian halnya dengan Elisa yang melibatkan diri dalam kehidupan orang-orang sezamannya. Elisa turan tangan di waktu orang-orang Yahudi berperang melawan bangsa Moab, 2 Raj 3, dan bangsa Aram, 2 Raj 6-7. Elisa memainkan peranan dalam perebutan kuasa raja oleh Hazael di Damsyik, 2 Raj 8:7-14, dan oleh Yehu di kerajaan Utara (Israel), 2 Raj 9:1-3. Beberapa penguasa yaitu Yoas, raja Israel, 2 Raj 13:14-19, Benhadad, raja Damsyik, 2 Raj 8:7-8, dan Naaman, panglima raja Aram, 2 Raj 5, meminta nasihat kepada Elisa. Elisa berhubungan juga dengan tarekat-tarekat nabi. Mereka menceritakan pelbagai kisah ajaib mengenai Elisa, 2 Raj 4:1-7,38-44; 6:1-7.

Sudah barang tentu keterangan-kererangan paling lengkap diberi mengenai nabi nabi yang kitabnya termasuk daftar Kitab Suci. Keterangan-keterangan itu dapat dicari dalam pengantar kepada masing-masing kitab nabi. Di sini cukup menunjukkan kedudukan nabi itu dalam gerakan kenabian dan menggariskan segi-segi baru pada nabi ini dalam perbandingannya dengan zaman dahulu. Semua nabi yang kitabnya terdapat dalam Kitab Suci, tampil ke muka di zaman ketika bangsa Israel berada dalam keadaan gawat yang mendahului dan bertepatan dengan kejadian-kejadian penting yang menentukan sejarah bangsa Israel untuk selanjutnya. Kejadian-kejadian itu ialah: ancaman dan pihak kerajaan Asyur dan kemusnahan kerajaan Israel (Utara), runtuhnya kerajaan Yehuda (Selalan) dan pembuangan bangsa Israel ke Babel, akhir masa pembuangan dan kembalinya orang-orang Yahudi dari pembuangan. Para nabi menujukan pesannya bukan kepada raja melainkan kepada seluruh bangsa. Oleh karena pesan mereka bersifat umum, maka pesan itu terpelihara secara tertulis dan membawa pengaruh untuk selanjutnya. Yang paling dahulu dari nabi-nabi itu ialah Amos. Ia menunaikan tugasnya di pertengahan abad ke-8 seb. Mas., yaitu 1k. 50 th sesudah wafatnya nabi Elisa. Gerakan kenabian yang besar berlangsung sampai zaman pembuangan bangsa Israel, yaitu kurang dari dua abad lamanya. Dalam masa itu menonjollah peranan nabi Yesaya dan Yeremia. Tetapi di masa yang sama tampil juga nabi Hosea, Mikha, Nahum, Zefanya dan Habakuk. Akhir kegiatan nabi Yeremia bertepatan dengan awal kegiatan Yehezkiel. Namun bersamaan dengan Yehezkiel, yang berkarya di tengah-tengah bangsa Israel di pembuangan, berubahlah nada nubuat. Nubuat-nubuat menjadi kurang spontan dan kurang berapi-api; nubuat-nubuat kerap kali berupa penglihatan-penglihatan hebat namun berbelit-belit; dalam menggambarkan suatu nubuat sangat terperinci; perhatian terpusat pada peristiwa-peristiwa yang akan berlangsung di akhir zaman. Pendek kata, nubuat-nubuat makin sering bercorak kesusasteraan apokaliptik. Namun demikian aliran kenabian yang berpangkal pada nabi Yesaya juga diteruskan, bahkan diperkaya dalam kitab Penghiburan, Yes 40-55. Nabi-nabi yang berkarya di zaman kembalinya bangsa Israel dari Pembuangan, yaitu Hagai dan Zakharia, memusatkan perhatiannya pada pembangunan Bait Suci. Sesudah kedua nabi ini, maka Maleakhi mengemukakan kekurangan-kekurangan yang timbul dalam jemaat Israel baru. Lalu menyusul Kitab kecil Yunus. Dalam Kitab ini yang sudah mulai bercirikan jenis midrasy, ajaran yang dikemukakan dalam karangan-karangan kuno Alkitab menjadi landasan buat sebuah ajaran baru. Aliran apokaliptik yang bermula dalam kitab Yehezkiel, dapat dijumpai kembali dalam kitab Yoel dan dalam bagian kedua kitab Zakharia. Aliran itu menjiwai seluruh kitab Daniel. Kitab Dan menggabungkan penglihatan-penglihatan mengenai masa lampau dengan penglihatan-penglihatan yang menyangkut masa depan dan menyajikannya dalam suatu gambaran yang sama sekali lepas dari masa tententu. Dalam gambaran itu kejahatan dihancurkan dan Kerajaan Allah ditegakkan. Di masa itu inspirasi kenabian nampaknya sudah padam, sehingga orang berseru kepada “nabi-nabi di masa yang lampau”, Dan 9:6; bdk juga Za 7:7,12. Nabi Zakharia, 13:2-6, memang meramalkan bahwa karunia kenabian akan lenyap, oleh karena sudah dicemarkan nabi-nabi palsu. Tetapi kitab nabi Yoel, 3:1-5, menubuatkan, bahwa di zaman Mesias Roh Kudus, ialah roh kenabian, akan dicurahkan lagi. Nubuat Yoel itu terlaksana pada hari Pentakosta, lih Kis 2:16, yang merupakan permulaan zaman baru. Zaman itu sudah diberitakan Yohanes Pembaptis yang menjadi nabi terakhir dan Perjanjian Lama, “seorang nabi, bahkan lebih daripada nabi”, Mat 11:9; Luk 7:26.

 

AJARAN PARA NABI

Para nabi berperanan penting dalam perkembangan agama bangsa Israel. Mereka bukan hanya mempertahankan dan membimbing bangsanya dalam kepercayaan murni kepada Yahwe, Allahnya. Mereka memegang juga peranan utama dalam memperkembangkan penyataan Ilahi. Dalam peranan rangkap ini masing-masing nabi mengambil bagiannya sendiri dan masing-masing nabi memberi sumbangan khasnya bagi ajaran keagamaan. Sumbangan mereka masing-masing saling bertemu dan bergabung menurut 3 tema pokok, tepatnya menurut tema-tema khas dalam agama Perjanjian Lama, yaitu: monoteisme, ajaran kesusilaan dan penantian akan keselamatan.

 

Monoteisme. Secara falsafiah, monoteisme dapat dirumuskan begini: mengaku adanya satu Allah saja dan menolak adanya ilah-ilah lain. Bangsa Israel sampai kepada pengertian monoteisme sedemikian lambat sekali dan tahap demi tahap. Berabad-abad lamanya orang-orang Israel menganut paham, bahwa bangsa-bangsa lain boleh saja mempunyai ilah-ilah lain, tetapi mereka sendiri tidak perduli akan ilah-ilah itu. Orang-orang Israel hanya menerima Yahwe saja. Di antara ilah-ilah lain Yahwelah yang paling berkuasa. Yahwe menuntut, supaya orang-orang Israel berbakti kepada Dia saja. Peralihan dari paham dan praktek monoteis semacam ini kepada suatu perumusan abstrak terjadi berkat pewartaan para nabi. Ketika Amos, nabi pertama dalam urutan waktu, menggambarkan Yahwe sebagai Allah yang menguasai kekuatan-kekuatan alam dan bertindak sebagai Penguasa manusia dan segala kejadian, maka nabi itu hanya mengingatkan kebenaran yang sudah lama diketahui untuk mendukung ancaman-ancaman yang dilonrarkannya. Namun kepercayaan lama itu makin hari makin jelas dipahami. Demikianpun kesimpulan praktis dari kepercayaan itu semakin nyata dan terasa. Penyataan Allah di gunung Sinai dahulu berhubungan erat dengan terpilihnya bangsa Israel sebagai umat Allah dan dengan diikatnya Penjanjian. Setelah itu Yahwe nampak sebagai Allah Israel, Allah yang berkediaman di Tanah dan tempat-tempat suci Israel. Meskipun tetap menekankan ikatan-ikatan khas antara Yahwe dengan umatNya, namun para nabi menegaskan, bahwa Yahwe menentukan hal-ihwal bangsa-bangsa lain juga, Am 9:7. Yahwe menghakimi bangsa-bangsa kecil maupun yang besar, Am 1-2 (lih juga semua nubuat melawan bangsa-bangsa kafir). Yahwe memberi mereka kekuasaannya dan mengambilnya kembali, Yer 27:5-8. Yahwe memakai negara-negara lain sebagai alat penghukumanNya, Am 6.11; Yes 7:18-19; 10:6; Yer 5:15-17, tetapi Iapun menahan negara-negara itu sesuai dengan kehendakNya, Yes 10:12. Walaupun para nabi memaklumkan, bahwa Tanah Israel adalah milik Yahwe, Yer 7:7, dan Bait Suci adalah tempat kediamanNya, Yes 6; Yer 7:10-11, namun mereka menubuatkan juga kehancuran Bait Allah itu, Mi 3:12; Yer 7:12-14; 26, dan nabi Yehezkiel melihat “kemuliaan Yahwe” meninggalkan kota Yerusalem, Yeh 10:18-22; 11:22-23.

Di samping Yahwe, Penguasa semesta alam, tidak ada tempat bagi ilah-ilah lain. Dengan melawan pengaruh dari upacara-upacara kafir dan gejala-gejala sinkretisme yang membahayakan kepercayaan bangsa Israel. Para nabi menandaskan, bahwa dewa-dewa tidak berkuasa sama sekali dan bahwa berhala-berhala mereka hampa belaka, Hos 2:7-15; Yer 2:5-13,27-28; 5:7; 16:20. Lenyapnya segenap pengharapan nasional yang selama ini menjiwai bangsa Israel oleh karena pembuangan ke Babel dapat menimbulkan kesangsian mengenai kekuasaan Yahwe. Maka justru di masa itu nabi Deutero-Yesaya, Yes 40:19-20; 41:6-7,21-24; 44:9-20; 46:1-7; bdk Yer 10:1-16, dan kemudian surat Yeremia, Bar 6, dan Dan 14 (Yun) mempertajam dan menasionalisasikan serangan atas berhala-berhala. Imbalan kecaman atas berhala itu ialah pengungkapan monoteisme mutlak yang jaya seperti tercantum dalam Yes 44.6-8; 46:1-7,9.

Allah itu adalah Allah yang transenden yang mengatasi dan melampaui segala ciptaan. Transendensi Allah terutama diungkapkan oleh para nabi dengan berkata, bahwa Alloh adalah “kudus”. Ungkapan ini sangat digemari oleh Yesaya, Yes 6 dan di banyak tempat lain: mis. 1:4; 5:19,24; 10:17,20, dll; tetapi juga terdapat dalam Hos 11:9; Yes 40:25; 41:14,16.20, dll; Yer 50:29; 51:5; Hab 1:12; 3:3. Allah diselubungi tabir nahasma, Yes 6; Yeh 1. Allah berada jauh di atas “anak-anak manusia” sebagaimana berulang kali dikatakan nabi Yehezkiel yang dengan ungkapan itu menegaskan jarak pemisah yang terbentang antara dia dengan Pembicara Ilahinya. Namun demikian Allah digambarkan sebagai Tuhan yang berada dekat melalui kebaikan bahkan cinta mesra yang dinyatakanNya kepada umat-milikNya. Kasih dan kebaikan Allah itu secara khusus ditegaskan nabi Hosea dan Yeremia serta diibaratkan dengan perkawinan yang diadakan Yahwe dengan Israel, Hos 2; Yer 2:2-7; 3:6-8. Ibarat ini diuraikan dengan panjang lebar dalam Kitab Yehezkiel, Yeh 16 dan 23.

 

Ajaran kesusilaan. Melalui renungan mengenai perbedaan antara kekudusan Allah dan kedosaan manusia, Yes 6:5, para nabi mengerti dengan jelas arti dan hakekat dosa. Sama seperti halnya dengan monoteisme, demikianpun ajaran kesusilaan para nabi bukan sesuatu yang baru. Ajaran itu sudah tersurat dalam ke-10 Perintah Allah (Dekalog). Berlandaskan ajaran Dekalog itu nabi Natan menghardik raja Daud, 2 Sam 12, dan nabi Elia berani mengecam raja Akhab, 1 Raj 21. Dalam kitab-kitab para nabi yang terpelihara dalam Alkitab, berulang kali ditegaskan, bahwa dosa memisahkan manusia dari Allah, Yes 59:2. Dosa, pada hakekatnya adalah pemberontakan terhadap Allah yang adil (Amos), terhadap Allah yang penuh kasih (Hosea), terhadap Allah yang kudus (Yesaya). Dosa menjadi pusat perhatian nabi Yeremia: dosa itu menjalar kepada seluruh bangsa yang tampaknya sudah termakan olehnya dan tidak dapat ditobatkan lagi, Yer 13.23. Kejahatan membanjiri seluruh umat dan menuntut hukuman Allah, penghakiman yang akan dijatuhkan pada “Hari TUHAN”, Yes 2:6-22; 5:18-20; Hos 5:9-14; Yl 2:1-2; Zef 1:14-18. Nubuat mengenai mala petaka yang akan datang itu dianggap oleh nabi Yeremia sebagai tanda nubuat yang sejati, Yer 28.8-9. Dosa yang dilakukan oleh seluruh bangsa menuntut hukuman umum itu. Di tengah renungan mengenai dosa dan hukuman kolektip itu mulai juga timbul gagasan baru mengenai ganjaran pribadi, Yer 31:29-30 (bdk Ul 24:16). Gagasan itu diperkuat dalam Yeh 18, bdk 33:10-20.

“Monoteisme etis” para nabi ini tidak berlawanan dengan hukum. Ajaran kesusilaan para nabi justru bertumpu pada hukum yang pernah dimaklumkan Allah. Hukum itu terus dilanggar atau / dan diremehkan, lih. wejangan Yer 7:5-10 dan hubungannya dengan Dekalog.

Bersamaan dengan berkembangnya ajaran kesusilaan itu, pengertian mengenai hidup keagamaan makin diperdalam. Manusia dapat luput dari hukuman Allah, bilamana ia “mencari TUHAN”, Am 5:4,’ Yer 50:4; Zef 2:3, yaitu bilamana, sesuai dengan kata Zefanya, manusia melaksanakan perintah-perintah Allah, memenuhi hukum dan bersifat rendah hati, bdk Yes 1:17; Am 5:24; Hos 10:12; Mi 6:8. Allah menghendaki, supaya manusia beragama secara batiniah. Menurut nabi Yeremia, agama batiniah itu adalah syarat bagi sebuah Perjanjian baru, Yer 31:31-34. Seluruh hidup keagamaan serta tanda-tanda lahiriah ibadat harus dijiwai semangat batiniah itu. Para nabi mengecam upacara-upacara meriah kaku yang tidak menghiraukan akhlak manusia yang beribadat, Yes 1:11-17; Yer 6:20; Hos 6:6; Mi 6:6-8. Tetapi kelirulah orang yang berpendapat, bahwa para nabi memusuhi ibadat pada umumnya. Malahan nabi Yehezkiel, Hagai dan Zakharia, menaruh perhatian istimewa pada peribadatan dan Bait Suci.

 

Penantian akan keselamatan. Hukuman yang akan menimpa bangsa Israel bukan babak terakhir dalam drama hubungan antara Allah dengan umatNya. Allah tidak menghendaki, bahwa umatNya musnah seluruhnya. Walaupun umat itu terus-menerus mengingkariNya, namun Allah tetap mengusahakan janji-janjiNya dipenuhi. Allah akan menyayangi suatu “sisa Israel”, Yes 4:3*. Istilah “sisa” ini untuk pertama kalinya disebut dalam kitab Amos, 5:15. Dalam kitab nabi-nabi berikut istilah ini diulang-ulangi dan diberi arti lebih mendalam. Dalam pandangan para nabi gambaran mengenai hukuman yang sudah dekat bercampur-baur dengan gambaran mengenai penghakiman Allah pada akhir zaman. “Sisa Israel” akan luput dari hukuman yang sudah dekat itu, dan akan dikaruniai keselamatan pada akhir zaman. Dengan majunya sejarah menjadi jelas, bahwa hukuman yang mendekat itu bukanlah penghakiman terakhir. Tetapi sesudah setiap malapetaka justru “sisa” itulah yang selamat: para penduduk negeri yang masih tersisa setelah Samaria musnah dan Sanherib merebut negeri Yehuda, Am 5:15; Yes 37:31-32; mereka yang terbuang ke negeri Babel setelah Yerusalem hancur, Yer 24:8; jemaat yang dari pembuangan kembali ke Palestina, Za 8:6,11,12; Ezr 9:8,13,15. Dan tiap-tiap kali “sisa” yang selamat itu sekaligus menjadi pangkal suatu umat yang suci yang diberi janji mengenai masa depan, Yes 11:10; 37:31; Mi 4:7; 5:6-7; Yeh 37:12-14; Za 8:11-13.

Kebahagiaan di masa mendatang itu tiada taranya; orang-orang Yahudi dari Kerajaan Israel dan Yehuda yang terserak-serak itu, Yes 11:12-13; Yer 30-31, akan kembali ke Tanah Suci. Di situ mereka akan hidup sejahtera dan tidak berkekurangan apapun, Yes 30:23-26; 32:15-17. Umat Allah akan membalas dendam kepada para musuhnya, Mi 4:11-13; 5:6-8, Namun demikian kesejahteraan dan kekuasaan materiil dan politik ini bukannya inti pokok kebahagiaan itu. Kesejahteraan itu hanya menyertai Allah yang berkuasa sebagai Raja dan mengandaikan suatu suasana spirituil yaitu: keadilan dan kesucian, Yes 29:19-24, pertobatan batiniah dan pengampunan Ilahi, Yer 31:31-34 pengenalan akan Allah, Yes 2:3; 11:9; Yer 31:34, kedamaian dan suka-cita, Yes 2:4; 9:6; 11:6-8; 29:19.

Untuk mendirikan dan memimpin kerajaanNya di bumi, TUHAN selaku Raja akan memilih seorang wakil, Wakil itu akan diurapi dan ia akan mengabdi kepada Allah dengan taat. Ia akan disebut “yang diurapi” oleh Yahwe, yaitu Sang Mesias. Pengharapan akan Mesias-Raja (Mesianisme) untuk pertama kalinya diungkapkan nabi Natan, ketika ia berjanji kepada raja Daud, bahwa wangsanya akan berlangsung untuk seterusnya. Nubuat itu berkumandang juga dalam beberapa mazmur, bdk Pengantar Kitab mazmur. Namun ketidak-berhasilan dan buruknya tingkah-laku kebanyakan pengganti raja Daud nampaknya membatalkan janji yang melekat pada wangsa Daud. Maka seluruh harapan terarah akhirnya pada seorang raja saja, yang kedatangannya dinantikan, entah di waktu dekat entah di waktu yang masih lama. Para nabi, khususnya Yesaya dan juga Mikha dan Yeremia, secara samar-samar menantikan penyelamat sedemikian. Mesias itu, menurut mereka, akan berasal dari wangsa raja Daud, Yes 11:1; Yer 23:5 = 33:15. Ia akan lahir di Betlehem-Efrata, tempat asal raja Daud, Mi 5:1. Ia akan diberi gelar-gelar yang paling agung, Yes 9:5. Tuhan serta segala karuniaNya ada padanya, Yes 11:1-5, Yesaya menyebut Mesias itu dengan nama Imanuel (“Allah beserta kita”), Yes 7:14. Yeremia memberi kepadanya nama “Yahwe zidqenu” (“Tuhan-keadilan kita”), Yer 23:6. Kedua nama ini meringkaskan pandangan yang murni bersih tentang Mesias.

Harapan akan datangnya Mesias tetap hidup di tengah-tengah bangsa Israel, kendati mereka melihat, bahwa hasrat mereka untuk menguasai seluruh bumi, adalah suatu mimpi belaka yang tidak mungkin terwujud. Mereka tetap berharap, kendati mereka mengalami pahitnya hidup dalam pembuangan di Babel. Hanya harapan itu diberi wujud dan sorotan baru. Untuk sementara wakru harapan itu oleh nabi Hagai dan Zakharia dianggap terwujud dalam diri Zerubabel, keturunan raja Daud. Kemudian harapan akan kedatangan Mesias-Raja semakin menipis dan menghilang, Sebab tidak seorang keturunan Daud pun naik takhta, Israel dijajah dan diperintah oleh penguasa asing. Nabi Yehezkiel memang menantikan kedatangan seorang Daud baru. Tetapi ia tidak menyebutnya “raja” lagi melainkan “pangeran”. Ia menggambarkan Mesias itu lebih-lebih sebagai seorang pengantara dan gembala dari pada seorang penguasa, Yeh 34:23-24; 37:24-25, Nabi Zakharia memang berbicara mengenai seorang raja yang akan datang, tetapi nabi itu lemah-lembut dan seorang pencinta damai, Za 9:9-10. Dalam bagian kedua Kitab Yesaya (Deutero-Yesaya), “orang yang diurapi Yahwe” itu bukan lagi seorang raja yang berasal dari wangsa Daud, melainkan raja Persia yaitu Koresy, Yes 45:1. Dia itu dipakai Allah sebagai alat untuk membebaskan umat Israel. Namun Deutero-Yesaya yang sama ini menampilkan juga seorang tokoh keselamatan lain yaitu Hamba TUHAN. Hamba itu adalah guru bagi bangsa Israel dan cahaya bagi bangsa-bangsa lain. Dengan lembut hati ía mengajarkan hukum Allah. Rupa Hamba Yahwe itu tidak semarak. Ia ditolak oleh saudara-saudara sebangsanya, namun menyelamatkan mereka dengan mengorbankan hidupnya sendiri, Yes 42:1-7; 49:1-9; 50:4-9, khususnya 52:13-53:12, Akhirnya nabi Daniel melihat dalam penglihatan, bahwa di atas awan-awan akan datang seorang yang menyerupai Anak Manusia. Allah akan memberi kepadanya kekuasaan atas segala bangsa, dan sebuah kerajaan yang tidak akan berkesudahan, Dan 7. Akan tetapi pengharapan yang lama kemudian tampil kembali. Menjelang tarikh Masehi bagian besar bangsa Israel dijiwai harapan akan kedatangan Mesias-Raja. Tetapi juga ada golongan-golongan tertentu yang menantikan seorang Mesias-imam dan ada pula golongan-golongan lain yang mengharapkan kedatangan seorang Mesias yang tidak berasal dari dunia ini.

Jemaat kristen purba menghubungkan semua nubuat para nabi mengenai Mesias itu dengan diri Yesus, yang mempersatukan di dalam diriNya nubuat-nubuat yang berbeda-beda nadanya itu. Dalam pandangan jemaat purba itu Yesus adalah Penyelamat, Kristus artinya Mesias, keturunan Daud: ía lahir di Betlehem; ía Raja pencinta damai, yang dinubuatkan nabi Zakharia; Dialah Hamba yang bersengsara, sesuai dengan nubuat yang tercantum dalam bagian kedua kitab Yesaya; Yesus adalah kanak-kanak yang bernama Imanuel yang dinubuatkan nabi Yesaya dan juga Anak Manusia yang berasal dari surga, sesuai dengan kitab Daniel. Akan tetapi penggunaan nubuat-nubuat yang lama itu tidak boleh mengaburkan pandangan khas kristen mengenai Mesias. Pandangan kristen memancari diri pribadi dan karya Yesus. Nubuat-nubuat itu digenapi Yesus, tetapi dengan melampauinya. Yesus memang menolak dengan tegas pengertian tradisionil mengenai Mesias-Raja dengan arti politik.

 

KITAB-KITAB PARA NABI

Para nabi yang kitabnya tercantum dalam Alkitab, biasanya disebut “nabi-nabi penulis”. Tetapi sesuai dengan yang diuraikan di muka mengenai cara kerja para nabi, sebutan ini kurang tepat. Seorang nabi itu bukan seorang penulis. Nabi adalah pengkhotbah, seorang pembicara. Pesan para nabi itu disampaikan secara lisan. Hanya perlu dijelaskan, bagaimana wejangan-wejangan para nabi yang lisan itu akhirnya diberi bentuk tertulis.

Dalam kitab-kitab para nabi terdapat 3 unsur yang berbeda satu sama lain, yaitu:

1. “kata-kata kenabian” yang berupa “firman”. Yang berbicara ialah Allah sendiri atau nabi atas nama Allah. Kadang-kadang firman itu berupa sajak yang berisikan suatu ajaran, suatu berita, suatu ancaman atau janji ........;

2. cerita-cerita di mana nabi sendiri angkat bicara dan mengisahkan pengalamannya sendiri, khususnya panggilan nya;

3. cerita-cerita di mana orang lain menceritakan kejadian-kejadian dan kehidupan nabi atau hal-ihwal yang berpautan dengan karyanya. Ketiga unsur ini kadang-kadang tercampur. Sering kali firman Ilahi atau wejangan disisipkan ke dalam cerita.

Bagian-bagian di mana orang lain angkat bicara menunjukkan, bahwa bagian-bagian itu ditulis orang lain dari nabi sendiri. Paling jelas hal itu terungkap dalam kitab Yeremia. Nabi Yeremia mendiktekan kepada Barukh, 36:2-3, segala sesuatu yang telah diucapkan nabi atas nama Yahwe selama 23 tahun, Yer 36:4, bdk Yer 25:3. Kumpulan wejangan nabi Yeremia itu lalu dibakar oleh raja Yoyakim, Yer 36:2-3. Maka Barukh kembali menulis kitab itu, Yer 36:32. Cerita mengenai kejadian-kejadian itu hanya dapat berasal dari Barukh. I agaknya juga menulis cerita-cerita berikut mengenai riwayat hidup Yeremia, Yer 37-44. Cerira-cerita itu berakhir dengan sebuah kata penghibur yang ditujukan nabi Yeremia kepada Barukh sendiri, 45:1-5. Sepintas lalu dikatakan, bahwa gubahan kedua yang dikerjakan Barukh “ditambahi dengan banyak perkataan seperti itu”, entahlah oleh Barukh sendiri atau oleh orang lain, Yer 36:32.

Hal-hal yang serupa dapat menjelaskan susunan kirab-kitab lain pula. Para nabi sendiri agaknya mencatat atau mendiktekan sebagian nubuat maupun cerita yang mengisahkan pengalaman mereka, bdk Yes 8:1; 30:8; Yer 30:2; 51:60; Yeh 43:11; Hab 2:2. Sebagian warisan para nabi itu kiranya hanya dipelihara dengan setia dalam tradisi lisan saja oleh orang-orang yang mendampingi atau berguru kepada mereka. Agaknya dapat dipastikan, bahwa nabi Yesaya mempunyai sekelompok murid, Yes 8:16. Kejadian-kejadian dari riwayat hidup para nabi kiranya juga terpelihara dalam ingatan kelompok-kelompok tsb dan termasuk ke dalamnya beberapa firman kenabian pula. Contohnya ialah tradisi mengenai nabi Yesaya yang tercantum dalam kitab Raja-raja, 2 Rj 18-20, yang kemudian disisipkan ke dalam kitab Yesaya. 36-39. Sama halnya dengan kisah mengenai bentrokan nabi Amos dengan imam Amazia, Am 7:10-17.

Berpangkal pada ketiga unsur yang disebut di muka dibuat kumpulan-kumpulan yang menghimpunkan nubuat-nubuat yang bernada sama atau berita-berita mengenai hal yang sama (mis. kumpulan-kumpulan nubuat melawan bangsa-bangsa lain yang terdapat dalam kitab Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel); ataupun disusun kumpulan nubuat-nubuat yang mengancamkan malapetaka yang diimbangi kumpulan nuhuat-nubuat mengenai keselamatan (mis. kitab nabi Mikha). Tulisan-tulisan ini dibacakan dan direnungkan, dan begitu mengabadikan cita-cita dan gagasan-gagasan yang dicetuskan para nabi. Orang-orang yang hidup sezaman dengan nabi Yeremia mengutip suatu nubuat nabi Mikha, Yer 26.17-18. Nabi-nabi terdahulu sering kali disebut, Yer 28:8. Penyebutan nabi-nabi tendahulu ini berupa ulangan yang muncul dalam Yer 7:25; 25:4; 26:5, dll, dan juga dalam Za 1:4-6; 7:7,12; Dan 9:6,10; Ezr 9:11. Dalam lingkungan orang-orang bersemangat yang memupuk iman dan kesalehannya dengan tulisan-tulisan itu, kitab-kitab para nabi tetap hidup dan selalu aktual. Sebagaimana halnya dengan gulungan yang digubah Barukh, Yer 36:32, tulisan-tulisan nabi-nabi lainpun “masih ditambahi dengan banyak perkataan seperti itu”. Tambahan-tambahan itupun diilhamkan Allah dan bertujuan menyesuaikan tulisan-tulisan para nabi dengan keadaan konkrit bangsa Israel ataupun memperkaya tulisan-tulisan itu. Kadang-kadang tambahan-tambahan itu banyak dan luas (hal ini berlaku untuk kitab Yesaya dan kitab Zakharia seperti akan diuraikan lebih lanjut pada tempatnya). Orang-orang yang menerima warisan berupa tulisan-talisan para nabi itu yakin, bahwa dengan berbuat demikian mereka memelihara dan memanfaatkan harta yang mereka warisi.

Dalam Alkitab keempat nabi besar diurutkan sesuai dengan urutan mereka dalam waktu. Urutan kitab-kitab kedua belas nabi “kecil” agak kebetulan saja. Sedapat-dapatnya kita akan membahas kitab-kitab ini sesuai dengan urutannya dalam waktu.

 

YESAYA

Nabi Yesaya lahir di sekitar th 765 seb.Mas. Ia dipanggil Allah untuk menjadi nabiNya pada th mangkatnya raja Uzia, yaitu pada th 740. Yesaya menerima panggilannya di dalam Bait Suci di Yerusalem. Ia ditugaskan Allah untuk memaklumkan kemusnahan kerajaan Israel dan Yehuda sebagai hukuman atas ketidak-setiaan umat kepada Yahwe, 6:1-13. Nabi menanaikan tugasnya selama 40 th Selama masa itu bertambah ancaman dari pihak kerajaan Asyur yang semakin mendesak kerajaan Israel dan Yehuda. Masa 40 th ini dapat dibagi atas empat satuan waktu. Segala nubuat nabi dengan lebih atau kurang pasti dapat ditempatkan dalam masing-masing satuan wakru itu.

1. Nubuat-nubuat pertama diucapkan Yesaya antara hari panggilannya, th 740 dan permulaan pemerintahan raja Ahas, th 736. Di masa itu Yesaya pada umumnya mengecam kemerosotan akhlak yang merajalela dalam kerajaan Israel (Utara) dan disebabkan kemakmuran materiil, 1-5 (bagian besar).

2. Rezin, raja Damsyik dan Pekah, raja Israel berusaha membujuk raja Ahas yang masih muda untuk bersekutu dengan mereka guna melawan Tiglat Pileser III, raja Asyur. Karena usul mereka ditolak Ahas, maka mereka menyerang Ahas yang mohon bantuan Asyur. Dalam keadaan ini tampillah lagi Yesaya. Dengan sia-sia ia mencoba menggagalkan politik raja Ahas yang tidak memperhitungkan bantuan Allah dan terlalu percaya kepada percaturan politik. Bagian kitab Yesaya yang boleh diberi judul “Kitab Imanuel” berasal dari masa ini, yaitu sebagian besar 7:1-11:9 dan juga 5:26-29 (?); 17:1-6; 28:1-4. Karena gagal meyakinkan raja Ahas, maka Yesaya mengundurkan diri dari kegiatan umum, bdk 8:16-18.

3. Akibat permohonan raja Ahas kepada Tiglat Pileser, kerajaan Yehuda menjadi negeri taklukan Asyur. Permohonan ini mempercepat juga jatuhnya kerajaan Israel (Utara). Pada th 734 sebagian wilayah kerajaan itu dijadikan bagian kerajaan Asyur. Lalu tekanan Asyur semakin menjadi dan pada th 721 Samaria jatuh ke dalam tangannya. Sesudah Ahas mangkat, takhta kerajaan Yehuda diduduki raja Hizkia. Hizkia adalah raja yang saleh. Ia dijiwai semangat pembaharuan. Tetapi percaturan politik mulai kembali dan kali ini kerajaan Yehuda minta bantuan pada Mesir guna melawan kerajaan Asyur. Yesaya yang selalu teguh dalam pendiriannya menghendaki, supaya bangsanya menolak setiap persekutuan militer dan mengharapkan bantuan dari pada Allah melulu. Bagian-bagian berikut kitab Yesaya, yakni: 14:28-32; 18; 20; 28:7-22; 29:1-14; 30:8-17, berhubungan erat dengan awal pemerintahan raja Hizkia. Sesudah Sargon, panglima Asyur, berhasil merebut Asdod dan menindas keras pemberontakan Yehuda, nabi Yesaya lagi menghentikan kegiatannya.

4. Nabi Yesaya tampil ke muka kembali pada th 705, ketika raja Hizkia ikut terlibat dalam pemberontakan terhadap kerajaan Asyur. Pada th 701 Sanherib menghancurkan negeri Palestina, tetapi raja Yehuda bertekad mempertahankan kota Yerusalem. Yesaya menyokong raja dalam tekadnya itu dan berjanji kepadanya bantuan Allah. Dan memang kota itu akhirnya selamat. Dari masa terakhir kegiatan nabi Yesaya ini sekurang-kurangnya berasal nubuat-nubuat berikut ini: 1:4-9; 10:5-15.27b-32; 14:24-27 dan bagian-bagian dari 28-32 yang tidak dihubungkan dengan satuan waktu ketiga tadi.

Tentang hal-ihwal nabi Yesaya sesudah th 700 tidak diketahui apa-apa. Menurut suatu tradisi Yahudi, nabi Yesaya dibunuh di masa pemerintahan raja Manasye.

Oleh karena terlibat langsung dalam nasib bangsanya, maka Yesaya tampil sebagai pahlawan nasional. Akan tetapi Yesaya adalah juga seorang penyair yang berbakat istimewa. Gaya bahasa yang semarak dan gambaran-gambaran baru yang terdapat dalam kitabnya menjadikan Yesaya seorang sastrawan yang unggul dalam Kitab Suci. Tulisan-tulisannya sungguh-sungguh bernilai seni sastra gemilang yang ringkas namun padat-berisi, yang luhur dan seimbang. Seni sasteranya kemudian tidak pernah tercapai lagi. Namun kebesaran Yesaya terutama terletak di bidang agama. Panggilannya yang diterimanya di dalam Bait Suci membentuk pribadi Yesaya untuk seterusnya. Pada saat panggilannya itu nabi memperoleh penyataan mengenai Allah yang transenden dan mengenai manusia yang rapuh tidak berdaya. Pandangan Yesaya mengenai Allah adalah jaya dan mendahsyatkan. Allah adalah Kudus, Perkasa, Berkuasa dan Raja. Manusia adalah ciptaan yang dinodai dosa. Allah menuntut, supaya dosa itu disilih. Sebab Allah menuntut, supaya hubungan-hubungan sosial dijiwai keadilan dan supaya ibadat kepadaNya dilaksanakan dengan jujur dan tulus hati. Allah menghendaki kesetiaan.

Yesaya adalah nabi yang menekankan pentingnya iman-kepercayaan. Dalam keadaan gawat bangsanya, ia berseru, supaya mereka percaya kepada Allah saja, sebab Dialah satu-satunya jaminan keselamatan. Nabi Yesaya insaf, bahwa percobaan berat akan menimpa bangsanya, tetapi ia yakin, bahwa suatu “sisa” akan disayangi dan selamat dan raja “sisa” itu ialah Mesias. Yesaya adalah nabi terbesar dalam memupuk pengharapan akan kedatangan Mesias. Menurut dia, Mesias yang akan datang itu adalah keturunan Daud. Mesias akan menegakkan di bumi sebuah kerajaan kedamaian dan keadilan dan ía akan menyebarkan pengetahuan akan Allah, 2:1-5; 7:10-17; 9:1-6; 11:1-9; 28:16-17.

Tidak mengherankan, bahwa bakat keagamaan Yesaya yang sungguh luar biasa itu membawa pengaruh besar pada seluruh zamannya dan mendapat sejumlah pengikut. Orang menyimpan di hati perkataan-perkataan Yesaya dan menambahinya. Kitab yang diberi nama Yesaya adalah hasil kerja penggubahan yang diusahakan lama sekali. Tidak mungkin menentukan segala tahap penggubahannya. Susunan terakhir kitab Yesaya ini mengingatkan bagan yang dipakai dalam kitab Yeremia (menurut terjemahan Yunani), dan kitab Yehezkiel: nubuat-nubuat melawan Yerusalem dan Yehuda, 1-12; nubuat-nubuat melawan bangsa-bangsa lain, 13-23; janji-janji, 24-35.

Tetapi rangka umum ini tidak terlalu ketat. Selain itu, seperti diuraikan di muka, kitab Yesaya tidak disusun secara tegas menurut urutan dalam waktu yang sejalan dengan kehidupan Yesaya. Kitab Yesaya terbentuk berdasarkan sejumlah kumpulan pelbagai nubuat. Ada beberapa kumpulan yang berasal dari nabi sendiri, bdk 8:16; 30:8. Para murid Yesaya, baik yang sezaman maupun yang hidup kemudian menyusun kumpulan-kumpulan lain dan kadang-kadang menerangkan atau malahan menambah kata gurunya. Nubuat-nubuat melawan bangsa-bangsa lain yang terkumpul dalam 13-23, ditambahi dengan beberapa bagian yang dikarang di kemudian hari, khususnya 13-14 dengan nubuat melawan Babel (Bab 13-14 ini berasal dari zaman pembuangan bangsa Israel ke Babel). Tambahan lebih luas ialah “Apokalipsis Yesaya”, 24-27. Mengingat gaya kesusasteraan dan ajarannya, harus dikatakan, bahwa bagian ini dikarang baru pada abad ke-5 seb.Mas. Tambahan-tambahan lain ialah: bab 33, sebuah liturgi kenabian yang berasal dari zaman sesudah pembuangan; bab 34-36, sebuah “Apokalipsis kecil” yang bengantung pada Deutero-Yesaya. Ke dalam bagian-bagian tambahan ini perlu dimasukkan pula kisah kegiatan Yesaya selama penyerbuan tentara Sanherib, 36-39, yang diambil dari 2 Raj 18-19, dan sebuah mazmur yang disusun di masa sesudah pembuangan, tetapi diletakkan di mulut raja Hizkia, 38:9-20.

Selain tambahan-tambahan kecil yang disebut tadi, dalam kitab Yesaya terdapat juga beberapa tambahan yang lebih besar. Bab-bab 40-55 pasti bukanlah karya nabi Yesaya yang hidup dalam abad ke-8 seb.Mas. Dalam bagian kitab ini, nama Yesaya tidak disebut sama sekali. Tetapi yang lebih penting lagi ialah, bahwa latar belakang historis bab-bab ini ialah peristiwa-peristiwa yang terjadi dua abad sesudah nabi Yesaya, yaitu: kota Yerusalem sudah jatuh ke tangan Babel; bangsa Israel sudah diangkut ke Babel; raja Koresy mulai tampil di panggung sejarah dan ia akan membebaskan bangsa Israel. Memang benar, Allah itu mahakuasa. Allah dapat membuka kepada nabi rahasia mengenai masa depan yang masih jauh. Allah dapat “memindahkan” nabi ke zaman lain serta mempengaruhi angan-angan dan pikirannya. Akan tetapi semuanya itu mengandaikan semacam adanya dua pribadi yang berbeda dalam satu diri nabi. “Berpindahnya” nabi ke dalam zaman lain mengandaikan pula, bahwa nabi itu dengan sendirinya kehilangan hubungan dengan orang-orang sezamannya, padahal ia justru diutus kepada mereka. Dan Kitab Sucipun tidak tahu-menahu tentang hal-hal semacam itu, sehingga sukar diterima, bahwa itu ada dalam Yes 40-55. Selebihnya hal semacam itu berlawanan dengan tugas sebenarnya seorang nabi, yang hanya mengikut-sertakan masa depan dalam nubuat-nubuatnya buat menasihati orang sezamannya. Maka boleh disimpulkan. bahwa Yes 40-55 berisikan nubuat-nubuat seorang nabi yang tidak dikenal namanya, seorang penerus karya Yesaya yang sama besarnya dengan nabi itu sendiri. Nabi itu lazimnya disebut “Yesaya Kedua” atau “Deutero-Yesaya”, Dia berkarya di Babel dan menunaikan tugasnya pada waktu antara kemenangan-kemenangan pertama raja Koresy, th 550 seb.Mas. yang membuat orang memfirasatkan, bahwa kerajaan Babel akan hancur di masa mendatang dan dikeluarkannya maklumat raja pada th 538, yang memberi kepada orang-orang Yahudi izin kembali ke tanah-airnya. Meskipun tidak disusun secara rapih teratur, namun kumpulan nubuat-nubuat ini, 40-55, memberi kesan sebuah kesatuan yang lebih padat daripada bagian pertama kitab ini, Yes 1-39. Kumpulan ini dimulai dengan semacam kisah mengenai panggilan nabi, 40:1-11 dan diakhiri dengan sebuah kata penutup, 55:6-13, Oleh kanena dibuka dengan kata-kata: “Hiburkanlah, hiburkanlah umatKu”, 40:1, maka kumpulan nubuat-nubuat ini disebut “Kitab Penghiburan Israel”.

Sebenarnya tema hiburan adalah tema utama kumpulan ini. Nubuat-nubuat dalam bab 1-39 pada umumnya bernada ancaman dan sering menyinggung peristiwa-peristiwa sedih yang terjadi di masa pemerintahan raja Ahas dan Hizkia, Sebaliknya nubuat-nubuat dalam bab 40-55 bertemakan hiburan dan isinya sama sekali tidak menyinggung peristiwa-peristiwa di zaman Ahas dan Hizkia. Hukuman Allah sudah terlaksana, sebab kota Yerusalem telah jatuh. Sekarang dekatlah sudah masa pemulihan. Di masa yang akan datang itu segala-galanya akan diperbaharui. Tema pembaharuan itu tampaknya sangat penting bagi pengarang bagian kitab ini, Hal ini jelas dari dua tema, yang diberi tempat utama dalam Deutero-Yesaya ini, yaitu: Allah adalah pencipta. Allah adalah penyelamat. Bangsa Israel akan mengalami suatu peristiwa keluaran baru, yang lebih ajaib daripada keluaran dari negeri Mesir. Umat akan diantar kembali ke kota Yerusalem yang sama sekali baru, dan jauh lebih indah daripada yang dahulu. Pembedaan antara dua masa yaitu “masa lampau” dan “masa mendatang” ini menunjukkan awal pemikiran eskatologis. Kalau bagian kitab ini dibandingkan dengan bab 1-39, maka jelas sekali, bahwa pemikiran teologis bagian kedua (40-55) lebih matang. Dalam bagian ini suatu ajaran mengenai monoteisme dirumuskan. Mengenai dewa-dewa dikatakan, bahwa mereka itu sia-sia oleh karena tidak berdaya sama sekali. Pengarang kitab Deutero-Yesaya menekankan kebijaksanaan dan pemeliharaan Ilahi yang tidak terselami. Untuk pertama kalinya dengan tegas terungkap, bahwa agama sejati teruntuk bagi dunia semesta. Semua kebenaran ini diungkapkan dengan gaya yang berapi-api dan dalam irama kalimat-kalimat pendek yang dipakai guna menegaskan. betapa dekatnya keselamatan.

Kitab Deutero-Yesaya memuat 4 bagian liris yang disebut “nyanyian Hamba TUHAN”, yaitu: 42:1-4 (5-9); 49:1-6; 50:4-9 (10-11); 52:13-53:12. Nyanyian-nyanyian ini menggambarkan seorang Hamba TUHAN yang sempurna. Hamba itu mengumpulkan umat Israel dan menjadi cahaya bagi bangsa-bangsa lain. Ia inemberitakan iman yang sejati. Dengan kematiannya ia menebus dosa-dosa umat lalu dimuliakan Allah.

Nyanyian-nyanyian ini merupakan bagian Perjanjian Lama yang paling banyak dipelajari. Para ahli tidak sepaham mengenai asal dan arti nyanyian-nyanyian tsb. Agaknya dapat dipastikan, bahwa ketiga nyanyian pertama digubah oleh Yesaya Kedua. Nyanyian keempat mungkin disusun oleh seorang murid dari Yesaya Kedua. Yang paling diperdebatkan ialah persoalan: Siapa yang dimaksudkan sebagai Hamba TUHAN itu? Kerap kali Hamba itu dianggap sebagai suatu lambang jemaat Israel, seldab di bagian-bagian lain kitabnya pengarang memberi Israel gelar “hamba”. Akan tetapi Hamba Tuhan dalam nyanyian-nyanyian tsb digambarkan sebagai seorang pribadi. Oleh karena itu ahli-ahli Kitab lain berpendapat, bahwa Hamba itu ialah seorang tokoh sejarah dan zaman lampau atau yang hidup sezaman dengan pengarang kitab itu sendiri. Kalau demikian maka yang paling menarik ialah pendapat yang menganggap Hamba itu sama dengan Yesaya Kedua sendiri. Nyanyian keempat agaknya ditambah pada ketiga nyanyian pertama itu sesudah wafat Yesaya Kedua. Ada juga beberapa ahli yang menggabungkan kedua pendapat tsb dan berkata, bahwa Hamba itu ialah seorang pribadi yang menjadi penjelmaan nasib bangsanya.

Bagaimanapun juga, tafsiran-tafsiran yang hanya menghubungkan Hamba Tuhan dengan masa yang lampau atau dengan masa nabi sendiri tidak cukup memperhatikan apa yang dikatakan mengenai Hamba itu. Ia nampak sebagai pengantara keselamatan di masa mendatang juga. Dan ini membenarkan tafsiran sebagian tradisi Yahudi yang mengartikan Hamba Tuhan itu sebagai Mesias. Hanya tafsiran Yahudi itu tidak mengikut-sertakan penderitaan Hamba. Sebaliknya Yesus justru menonjolkan apa yang dikatakan mengenai penderitaan Hamba Tuhan itu serta mengenai kematiannya yang menyilih dosa banyak orang. Yesus menerapkan itu pada diriNya sendiri serta karyaNya, Luk 22:19-20,37; Mrk 10:45. Maka pemberitaan Kristen semula menegaskan, bahwa Hamba Tuhan yang sempurna, yang dinubuatkan Deutero-Yesaya tidak lain dari Yesus Kristus, Mat 12:17-21; Yoh 1:29.

Bagian terakhir kitab Yesaya, 55-56, kadang-kadang dipandang sebagai sebuah karya seorang nabi lain lagi, yang disebut Trito-Yesaya, yaitu Yesaya ketiga. Tetapi dewasa ini pada umumnya diterima, bahwa bagian ini adalah sebuah kumpulan yang majeinuk. Mazmur yang tercantum dalam 63:7 - 64:12 agaknya dikarang sebelum masa berakhirnya pembuangan Israel di Babel. Nubuat dalam 66:1-4 berasal dari masa pembangunan Bait Suci di sekitar th 520 seb.Mas. Gagasan-gagasan dan gaya bahasa bab-bab 60-62 sangat serupa dengan pikiran dan gaya bahasa Deutero-Yesaya. Bab bab 56-59, seluruhnya dapat ditanggalkan pada abad ke-5 seb.Mas. Bab-bab 65-66 (kecuali 66:1-4) yang menunjukkan ciri-ciri jenis apokaliptik, menurut sejumlah ahli Kitab Suci dikarang di zaman penjajahan Israel oleh bangsa Yunani. Namun sementara ahli lain berpendapat, bahwa bab-bab ini dikarang tidak lama sesudah Israel kembali dari pembuangan. Pendek kata, bagian ketiga kitab Yesaya ini tampaknya sebuah karya para penerus Yesaya Kedua. Bagian ini adalah hasil terakhir sebuah tradisi yang berpangkal pada pribadi Yesaya. Tradisi ini melanjutkan karya nabi Yesaya yang tampil pada abad ke-8 seb. Mas.

Dalam sebuah gua di tepi Laut Mati (Qumran) ditemukan sebuah naskah lengkap kitab Yesaya. Naskah ini barangkali berasal dan abad ke-2 seb.Mas. Naskah ini berbeda dari naskah yang ditetapkan oleh para Masoret. Ia ditulis dalam ejaan khusus dan memuat sejumlah varian yang sebagian berguna dalam menentukan bunyi naskah asli.

 

YEREMIA

Nabi Yeremia lahir di sekitar th 650 seb. Mas., lebih kurang seabad lebih sedikit sesudah nabi Yesaya. Yeremia berasal dari sebuah keluarga imam yang berkediaman dekat kota Yerusalem. Kehidupan dan watak Yeremia dikenal secara lebih terperinci daripada kehidupan nabi-nabi lain. Sebab riwayat Yeremia diceritakan dalam beberapa kisah yang ditulis orang lain dan tersebar di seluruh kitabnya. Urutan kisah-kisah tsb. dalam waktu adalah sbb.: 19:1-20:6; 26; 36; 45; 28-29; 51:59-64; 34:8-22; 37-44. “Pengakuan-pengakuan Yeremia” yaitu 11:18-12:6; 15:10-21; 17:4-18; 18:18-23; 20:7-18, berasal dari nabi sendiri. “Pengakuan-pengakuan” nabi itu bukanlah sebuah autobiografi dalam arti sebenarnya, melainkan lebih-lebih semacam kesaksian yang mengharukan hati mengenai kemelut-kemelut yang dialami nabi. Pengakuan-pengakuan itu ditulis berupa mazmur-mazmur ratapan.

Yeremia dipanggil Allah sebagai nabiNya pada th 626 yaitu pada th ke-13 pemerintahan raja Yosia. Pada waktu itu Yeremia masih muda.