|
PARA NABI
Dalam Alkitab Ibrani kitab-kitab Yesaya, Yeremia,
Yehezkiel dan kedua belas nabi lainnya merupakan suatu kelompok yang disebur “Nabi-nabi kemudian”. Kitab-kitab tsb ditempatkan sesudah
kitab-kitab Yosua, Hakim-hakim, Samuel, Raja-raja yang oleh Alkitab Ibrani
disebut “Nabi-nabi terdahulu”.
Alkitab Yunani, Septuaginta, menempatkan kitab-kitab para Nabi sesudah Ketubim (Hagiographa)
dalam urutan berbeda dengan urutannya di dalam Alkitab Ibrani. Selain itu urutan
kitab-kitab para Nabi dalam Alkitab Yunani kurang menentu. Alkitab Yunani
menggabungkan kitab Ratapan dan Kitab Daniel pada kitab-kitab para nabi. Padahal
Alkitab Ibrani menempatkan kedua kitab tsb pada akhir daftar kitab-kitab suci.
Alkitab Yunani juga menambah beberapa tulisan lain yang tidak pernah dikarang
ataupun terpelihara dalam bahasa Ibrani, mis. bagian-bagian tambahan Kitab
Daniel. Kitab Barukh ditempatkan sesudah Kitab Yeremia, dan Surat Yeremia
menyusul kitab Ratapan. Terjemahan Vulgata pada umumnya mengikuti urutan tsb,
tetapi, sesuai dengan urutan Alkitab Ibrani, Vulgata menempatkan kedua belas nabi “kecil” sesudah kitab-kitab empat nabi “besar” serta menggabungkan Surat Yeremia pada Kitab
Barukh yang ditempatkan olehnya sesudah Kitab Ratapan. KENABIAN Semua
agama besar yang berkembang di zaman purba memilikinya, dengan perbedaan dalam
tingkat dan bentuk orang-orang tertentu, yang telah menerima ilham dan
menganggap diri wakil yang berbicara atas nama dewanya. Berhubungan dengan
bangsa-bangsa yang bertetangga dengan Israel, perlu dicatat sebuah berita
mengenal seseorang yang kerasukan roh kenabian pada abad ke-lI seb.Mas. di
Byblos. Juga ada berita mengenai pelihat-pelihat dan nabi-nabi di Hama dekar
sungai Orontos pada abad ke-8 seb.Mas. dan ada beberapa berita mengenai orang
semacam yang tampil di Mari dekat sungai Efrat pada abad ke-18 seb.Mas. Ditinjau
dari segi bentuk dan isi, pesan para pelihat itu yang ditujukan kepada penguasa
menyerupai pesan nabi-nabi tertua di Israel yang disebut dalam Kitab Suci. Kitab
Suci sendiri memberi kesaksian mengenai pelihat yang bernama Bileam, yang
dipanggil dari Aram oleh raja Moab, Bil 22-24, dan mengenai 450 nabi dewa Baal
yang dipanggil Izebel dan Tirus lalu dipermalukan nabi Elia di gunung Karmel, 1
Raj 18:19-40. Serupa dengan nabi-nabi Baal itu ialah 400 nabi lainnya yang
diminta nasihatnya oleh raja Akhab, 1 Raj 22:5-12. Ke-400 nabi ini seperti juga
450 nabi Baal yang disebut sebelumnya, ialah sekelompok besar orang kerasukan
roh yang rusuh dan kacau. Namun mereka berbicara atas nama Yahwe. Meskipun
nabi-nabi itu kadang-kadang ternyata nabi palsu, namun pastilah sudah, bahwa
agama Yahwe kuno mengenal dan mengakui lembaga kenabian. Kitab Suci menyebut
juga rombongan-rombongan nabi yang mendampingi Samuel, 1 Sam 10:5;19:20. Di
zaman kegiatan nabi Elia, 1 Raj 18:4. ada rombongan-rombongan nabi yang
berhubungan dengan Elisa, 2 Raj 2:3-18; 4:38 dst; 6:1 dst; 9:1. Kemudian mereka
tidak disebut lagi dalam Kitab Suci, kecuali dalam Am 7:14. Terangsang oleh
musik, 1 Sam 10:5, nabi-nabi itu bersama-sama kerasukan roh masuk ekstase, lalu
keadaan mereka menular kepada para hadirin, 1 Sam 10:10; 19:20-24. Ada kalanya
nabi-nabi itu mengambil tindakan yang berupa lambang, 1 Raj 22:11. Sekali terjadi, bahwa nabi Elisa, sebelum mulai
bernubuat, membantu diri dengan musik, 2 Raj 3:15. Nabi-nabi kemudian lebih
sering melakukan tindakan berupa lambang, mis, nabi Ahia dari Silo, 1 Raj 11:29
dst, dan juga nabi Yesaya, Yes 20:2-5, sering kali nabi Yeremia, Yer 13:1 dst;
19:1 dst; 27:2 dst, dan terutama nabi Yehezkiel, 4:1-5:4; 12:1-7,18; 21:18 dst;
37:15 dst. Baik dalam melakukan tindakan berupa lambang mau pun lepas dari itu,
nabi-nabi kerap kali berkelakuan aneh. Mereka dapat mengalami pelbagai keadaan
jiwa yang secara psikologis tidak normal. Akan tetapi gejala-gejala yang
aneh-aneh itu tidak pernah menjadi inti-pokok karya para nabi yang kegiatan dan
perkataan-perkataannya termaktub di dalam Kitab Suci. Mereka ini berbeda sekali
dengan rombongan-rombongan nabi dan orang-orang kerasukan roh yang disebut di
muka. Walaupun demikian mereka semua, tanpa dibeda-bedakan,
diberi nama yang sama yaitu nabi. Memang kadang-kadang kata-kerja yang berasal dari
kata-benda nabi ini (bernubuat) mendapat arti “kerasukan” (mengigau), 1 Sam
18:10 (juga di tempat-tempat lain). Hal ini dikarenakan cara “nabi-nabi”
tertentu berlaku sebagai nabi. Akan tetapi arti kata-kerja yang sampingan itu
tidak merubah arti asli kata-bendanya. Kemungkinan besar, kata-benda itu
berpautan dengan kata dasar yang berarti “memanggil-manggil, memaklumkan”.
Menurut arti ini, nabi
ialah orang yang terpanggil atau pun orang yang memaklumkan. Kedua arti kata ini
menyatakan inti pokok karunia kenabian pada bangsa Israel. Nabi ialah seorang
pembawa pesan serta seorang juru bicara Allah. Arti ini dengan jelas diungkapkan
dalam dua kutipan yang serupa yaitu dalam Kel 4:15-16 dan Kel 7:1. Menurut Kel
4:15-16, Harun akan menjadi penyambung lidah Musa, seolah-olah ia adalah “mulutnya”,
dan Musa akan menjadi “Allah yang memberi ilham kepadanya”. Menurut Kel 7:1
Musa akan menjadi “Allah bagi Firaun” dan Harun akan bertindak sebagai “nabinya”.
Kedua keterangan ini bergema dalam firman Yahwe yang ditujukan kepada Yeremia
ini: “Aku menaruh perkauaan-perkataanKu ke dalam mulutmu”, Yer 1:9. Para
nabi menyadari, bahwa pesan mereka berasal dari Allah. Oleh karena itu mereka
menyampaikan pesannya dengan terlebih dahulu berkata: “TUHAN berfirman” atau
“Firman TUHAN” atau “Beginilah firman TUHAN”. Firman yang diterima para nabi, memaksakan diri kepada
mereka. Mereka tidak dapat mendiamkannya. Amos misalnya berseru: “Tuhan ALLAH
telah berfirman, siapakah yang tidak bernubuat?”, Am 3:8. Percuma saja Yeremia
melawan firman itu yang mendesaknya untuk bernubuat, Yer 20:7-9. Semua nabi,
pada suatu hari dipanggil Allah dan mereka tidak dapat mengelakkan panggilan itu,
Am 7:15; Yes 6, khususnya Yer 1:4-10. Mereka semua dipilih sebagai juru bicara
Allah, Yes 6:8. Awal kisah Yunus menunjukkan, berapa mahalnya tebusan yang harus
dibayar orang yang mau menghindari perutusan itu. Para nabi diutus sebagai
saksi-saksi kehendak Allah. Mereka sendiri harus menjadi “alamat” kehendak
Allah itu. Bukan saja perkataan-perkataan mereka, melainkan juga
perbuatan-perbuatan mereka, bahkan seluruh kehidupan mereka menjadi nubuat.
Inilah beberapa contohnya: Perkawinan riil Hosea yang malang adalah sebuah
lambang, Hos 1-3; Yesaya harus berjalan dalam keadaan bugil untuk menjadi alamat
malapetaka yang datang, Yes 20:3; Yesaya sendiri serta anak-anaknya telah
menjadi “tanda dan alamat”; Yes 8:18; kehidupan Yeremia merupakan pengajaran,
Yer 16; sewaktu Yehezkiel melaksanakan perintah-perintah aneh yang disampaikan
kepadanya oleh Allah, maka ia menjadi “lambang bagi kaum Israel”, Yeh 4:3;
12:6,11; 24:24. Pesan Allah diterima oleh nabi dengan pelbagai cara.
Ada yang menerimanya melalui penglihatan seperti Yesaya, 6, atau Yehezkiel, 1;
2; 8, dll, Daniel, Dan 8-12, Zakharia, Za 1-6, jarang melalui penglihatan di
malam hari, bdk Bil 12:6, seperti pada Dan 7; Za 1:8 dst. Ada juga yang
menerimanya melalui pendengaran. Tetapi pada umumnya para nabi menerima pesan
Allah itu melalui ilham batiniah. Ungkapan-ungkapan seperti “Firman TUHAN
datang kepadaku” atau “Firman TUHAN kepada ......”, biasanya dapat
diartikan sebagai ilham batiniah. Ilham itu datang kepada nabi entah dengan
tiba-tiba, entah dengan alasan suatu peristiwa biasa saja, mis. sewaktu Yeremia
melihat sebauang dahan pohon badam, Yer 1:11, dua keranjang buah ara, Yer 24,
dan mengunjungi tukang periuk, Yer 18:1-4. Isi pesan yang telah diterima,
disampaikan nabi kepada orang-orang lain dengan pelbagai cara, mis. dalam bentuk
sajak liris atau ceritera, dengan memakai kiasan atau dengan jelas, dalam gaya
bahasa singkat berupa “firman” ataupun dalam gaya bahasa yang biasanya
dipakai dalam kecaman, perdebatan sengit, khotbah, perkara pengadilan,
tulisan-tulisan hikmat atau mazmur-mazmur yang lazim dalam ibadat, lagu-lagu
cinta, sindiran, ratapan, dsb. Perbedaan dalam cara menerima dan menyampaikan pesan
Allah itu pada umumnya tergantung dari watak pribadi dan kecakapan-kecakapan
alamiah masing-masing nabi. Namun demikian dalam perbedaan itu terdapat suatu
persamaan dasari. Setiap nabi selalu menyadari penuh, bahwa dia hanya sebuah
alat; bahwa perkataan-perkataan yang diucapkannya sekaligus perkataannya sendiri
dan perkataan pribadi lain. Setiap nabi yang benar sungguh-sungguh yakin, bahwa
ia telah menerima firman Allah dan firman itu harus diteruskannya kepada orang
lain. Keyakinannya itu bertumpu pada pengalaman luar biasa, katakanlah pengalaman mistik, bahwa antara dia dengan Allah terjalin suatu
hubungan langsung. Sebagaimana telah dikatakan di muka, kadang-kadang terjadi,
bahwa genggaman Ilahi yang dialami nabi nampak di luar dalam gejala-gejala yang
kurang biasa. Tetapi seperti halnya dengan para mistikus ternama, hal ini
terjadi jarang sekali. Sebaliknya, sesuai dengan pengalaman para mistikus besar,
pengalaman akan Allah itu membawa nabi ke dalam suatu keadaan yang dengan tepat
dapat disebut “adikodrati”.
Berkata, bahwa nabi tidak mengalami keadaan semacam ini berarti menurunkan
karunia kenabian menjadi “inspirasi” sastrawan biasa dan lamunan-lamunan
orang yang pura-pura terilhamkan. Jarang sekali pesan kenabian ditujukan kepada orang perorangan saja, Yes 22:15 dst, atau menyangkut hanya sebuah keluarga tertentu, Yer 20:6; Am 7:17. Dalam hal ini perlu dikecualikan raja, mengingat kedudukannya sebagai kepala bangsa (sebagai contoh dapat disebut pesan nabi Natan kepada raja Daud, pesan nabi Elia kepada raja Ahab, pesan nabi Yesaya kepada Ahas dan Hizkia serta pesan nabi Yeremia kepada raja Zedekia). Perlu juga mengecualikan nubuat yang ditujukan kepada imam besar yang bertindak sebagai kepala jemaat setelah bangsa Israel kembali dari pembuangan di Babel, Za 3. Dengan tidak memperhatikan bebenapa kekecualian tsb, dapat dikatakan, bahwa nabi-nabi besar, yang tulisannya terpelihara bagi kita, berbeda sekali dengan para nabi di Israel yang mendahului mereka dan dengan “nabi-nabi” yang pernah tampil di dunia Timur di zaman purba. Dan yang justru membedakan nabi-nabi besar dengan yang lain-lain itu ialah bahwa pesan mereka ditujukan kepada seluruh nakyat. Dalam setiap kisah panggilan nabi besar tercantum pula, bahwa ia diutus kepada seluruh rakyat, Am 7:15; Yes 6:9; Yeh, 2:3, malahan kepada segala bangsa, sebagai mana halnya dengan Yeremia, Yer 1:10. Pesan para nabi menyangkut masa sekarang dan masa
depan. Nabi diutus kepada orang-orang sezamannya. Ia memberitahu mereka tentang
kehendak Allah. Namun sejauh bertindak sebagai juru bicara Allah, nabi tidak
terikat pada waktu tertentu. Nubuat-nubuat yang diucapkan nabi tentang masa
depan memperkuat serta melanjutkan wejangan-wejangan yang dibawakannya. Nabi
dapat menubuatkan sesuatu yang akan terjadi dalam waktu dekat sebagai suatu
tanda. Pelaksanaan nubuat itu akan membenarkan perkataan dan karyanya, 1 Sam
10:1 dst; Yes 7:14; Yer 28:15 dst; 44:29-30; nabi melihat hukuman yang akan
menimpa bangsanya sebagai balasan atas kesalahan-kesalahan yang dikecamnya. Ia
melihat juga keselamatan mendatang sebagai ganjaran atas bertobatnya bangsa
Israel yang selalu diusahakan oleh nabi. Dalam ajaran para nabi yang berkarya di
zaman kemudian, terdapat nubuat-nubuat yang menyangkut akhir zaman, malahan hari
kemenangan terakhir Allah. Tetapi dari nubuat itu selalu diambil ajaran yang
berpautan dengan waktu nubuat itu diucapkan. Perlu ditambah pula, bahwa justru
oleh karena nabi hanya menjadi semacam alat saja, pesan yang dibawakannya dapat
mempunyai arti dan makna jauh lebih luas. Ada kalanya pesan itu tidak terbatas
pada keadaan kongkrit saja yang mendesak nabi untuk mengucapkannya dan ia
malahan melampaui kesadaran nabi itu sendiri. Kalau demikian pesan itu
diselubungi suatu tabir rahasia dan baru menjadi jelas setelah itu terlaksana di
kemudian hari. Nabi Yeremia diutus
Allah “untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam”, Yer
1.10. Pesan para nabi memang mempunyai dua
segi: mengecam dan menghibur.
Sesungguhnya sering kali pesan itu kejam, penuh ancaman dan celaan. Nada keras
itu bahkan dapat menjadi bukti, bahwa nubuat memang sejati, Yer 28:8-9, bdk Yer
26:16-19; 1 Raj 22:8. Nada keras disebabkan dosa, yang menjadi penghalang
dilaksanakannya rencana Allah, menghantui hati nabi. Namun demikian di dalam
pesan nabi selalu masih bergema harapan akan keselamatan. Bagian kitab Yesaya
yang berjudul Kitab Penghiburan, Yes 40-55, adalah semacam puncak kurnia
kenabian. Tidaklah tepat berkata, bahwa nabi-nabi yang berkarya di zaman dahulu
tidak mengumandangkan berita-berita gembira penuh hiburan semacam ini. Nubuat
keselamatan semacam itu sudah dapat dijumpai dalam kitab Am 9:8-15; Hos 2:13-22;
11:8-Il; 14:2-9. Dalam sikap dan tindakan Allah terhadap umatNya kerelaan dan
hukuman saling melengkapi. Nabi diutus Allah kepada bangsa Israel, tetapi
pandangannya selalu lebih luas dan tidak terbatas pada bangsanya sendiri saja,
sama seperti kuasa Allah yang karyaNya diberitakan nabi lebih luas dari Israel
melulu. Dalam kitab nabi Yesaya, Yeremia, dan Yehezkiel terdapat beberapa
kelompok nubuat melawan bangsa-bangsa lain, Yes 13- 23, Yer 46-51, Yeh 25-32.
Kitab nabi Amos dimulai dengan hukuman-hukuman yang dijatuhkan atas
bangsa-bangsa tetangga Israel. Kitab nabi Obaja memuat sebuah nubuat mengenai
Edom. Dalam kitab nabi Nahum tercantum hanya satu nubuat semacam ini mengenai
kota Niniwe, padahal nabi Yunus diutus Allah justru ke kota itu untuk mengajak
penduduk-penduduknya, supaya mereka bertobat. Nabi berkeyakinan, bahwa ia berbicara atas nama Allah.
Tetapi dari manakah para pendengarnya dapat tahu, bahwa dia memanglah nabi yang
sejati? Sebab sejarah Israel mengenal juga nabi-nabi
palsu. Mereka sering disebut dalam Kitab Suci. Mungkin saja nabi-nabi palsu
itu secara pribadi jujur, tetapi dalam kenyataannya mereka keliru. Mungkin juga
mereka pura-pura berlagak nabi. Bagaimanapun juga tingkah-laku mereka yang dapat
dilihat mata, tidak berbeda dengan tingkah-laku nabi-nabi yang sejati. Nabi-nabi
palsu itu menipu rakyat dan nabi-nabi sejati terpaksa melawan dan berdebat
dengan mereka. Demikianlah terjadi dengan Mikha bin Yimla yang melawan nabi-nabi
raja Akhab, 1 Raj 22.8 dst. Nabi Yeremia melawan Hananya, Yer 28, atau nabi-nabi
palsu pada umumnya, Yer 23. Juga Yehezkiel melawan sejumlah nabi dan nabiah
palsu, Yeh 13. Dari mana dapat diketahui, bahwa pesan yang diberitakan nabi
berasal dan Allah? Bagaimana membedakan nubuat benar dan yang palsu? Menurut
Kitab Suci ada dua tanda pengenal
bahwa nubuat itu benar: 1)
nubuat itu terlaksana, Yer 28:9; Ul 18:22 (bdk juga 1 Sam 10:1; Yes 7:14; Yer
28:15; 44:29-30), dan terutama 2)
isi nubuat itu sesuai dengan ajaran agama Yahwe, Yer 23:22; UI 13:2-6. Nas-nas
yang dikutip dari kitab Ul itu menunjukkan, bahwa kenabian diakui oleh agama
resmi sebagai suatu lembaga tersendiri. Kadang-kadang para nabi tampil di
samping para imam, Yer 8:1; 23:11; 26:7 dst, dll, Za 7:3, dll. Dalam kitab
Yeremia dikatakan, bahwa di dalam Bait Allah di Yerusalem tersedia “sebuah
kamar untuk Ben Yohanan, abdi Tuhan” yang agaknya seorang nabi. Berdasarkan
keterangan tsb dan bertumpu pada keserupaan sejumlah nubuat para nabi dengan
doa-doa liturgis, dewasa ini sementara ahli sampai pada kesimpulan, bahwa
para nabi, termasuk nabi- nabi besar (Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel) adalah
petugas-petugas Bait Allah dan memainkan suatu peranan dalam ibadat resmi.
Kesimpulan ini terlalu berlebih-lebihan, jika dibandingkan dengan
keterangan-keterangan dalam Kitab Suci yang menjadi landasan pendapat tsb.
Cukuplah orang menerima, bahwa memang ada hubungan antara para nabi dengan
pusat-pusat hidup keagamaan dan bahwa ada nubuat yang gaya bahasa dan susunannya
terpengaruh oleh ibadat. Pengaruh ini nampak terutama dalam kitab Hab, Za dan Yl. Gagasan pokok yang agaknya dapat disimpulkan dari
keadaan nyata yang serba majemuk dan dari nas-nas yang berpautan dengan tugas
para nabi ialah sbb: seorang nabi ialah seorang yang secara langsung mengalami
Allah; ia telah menerima penyataan mengenai kekudusan dan kehendak Allah; ia
menilai peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa hidupnya dan melihat masa depan
dengan diterangi cahaya Ilahi; ia diutus Allah untuk mengingatkan orang-orang
lain tuntutan-tuntutan Allah dan untuk membawa mereka kembali ke jalan ketaatan
dan cinta kasih kepada Allah. Ditinjau demikian, maka karunia kenabian pada
bangsa Israel nampak sebagai suatu gejala khusus, kendati kesamaan lahiriahnya
dengan gejala-gejala keagamaan serupa yang ditemukan pada bangsa-bangsa yang
bertetangga dengan Israel. Karunia kenabian merupakan suatu cara khas yang
dipakai Penyelenggaraan Ilahi untuk membimbing umat terpilih. Mengingat sifat-sifat dan peranan para nabi
sebagaimana tadi diuraikan, maka tidak mengherankan, bahwa Kitab Suci memberi
kepada Musa tempat yang paling
depan dalam rangkaian para nabi, UI 18:15,18, dan menganggapnya sebagai nabi
yang melebihi semua nabi lainnya, Bil 12:6-8; UI 34:10-12. Sebab Musa menghadap
Yahwe muka dengan muka, ia langsung berbicara dengan Tuhan serta menyampaikan
hukum Taurat kepada bangsa Israel. Di antara bangsa Israel selalu ada sejumlah
orang yang mewarisi karunia-karunia istimewa itu, mulai dengan Yosua,
pengganti Musa, “seorang yang penuh roh”, Bil 27:18, bdk UI 34:9. Di zaman
para Hakim dikenal seorang nabiah yaitu Debora,
Hak 4-5, dan seorang nabi yang tidak disebut namanya Hak 6:8. Kemudian tampillah
nabi dan pelihat ternama, yaitu Samuel, 1 Sam 3:20; 9:9; bdk 2 Taw 35:18. Di
masa itu roh kenabian memenuhi juga kelompok-kelompok orang ‘kerasukan” yang
bertindak secara aneh-aneh, seperti sudah diuraikan di muka, 1 Sam 10:5; 19:20.
Lalu Kitab Suci menyebut beberapa “rombongan nabi” yang membentuk semacam
tarekat dan nampaknya kurang ekstatis, 2 Raj 2. dll. Dalam bagian-bagian berikut
Kitab Suci tarekat-rarekat tsb tidak pernah disinggung lagi, namun sampai masa
sesudah kembalinya orang-orang Yahudi dari pembuangan di Babel, kitab Suci
menyebut nabi-nabi itu sebagai kelompok tersendiri, Za 7:3. Di samping
tarekat-tarekat yang pengaruhnya atas hidup keagamaan bangsa Israel sukar
ditentukan itu, terdapat juga beberapa tokoh yang menyolok: Gad,
nabi raja Daud, 1 Sam 22:5; 2 Sam 24:11. Natan
yang mendampingi raja yang sama, 2 Sam 7:2 dst; 12:1 dst; 1 Raj 1:11 dst; Ahia
di masa pemerintahan raja Yerobeam, 1 Raj 11:29 dst; 14:2 dst; Yehu
bin Hanani di masa pemerintahan raja Baesa, 1 Raj 16:7; Elia dan Elisa di masa
pemerintahan raja Ahab dan pengganti-penggantinya, 1 Raj 17 – 2 Raj 13; Yunus
di masa pemerintahan Yerobeam II, 2 Raj 14:25; nabiah Hulda
di masa pemerintahan Yosia, 2 Raj 22:14 dst; Uria
(bin Semaya) di masa pemerintahan Yoyakim, Yer 26:20. Daftar ini ditambahi oleh
Taw dengan nabi Semaya di masa
pemerintahan Rehabeam, 2 Taw 12:5 dst; Ido
di masa raja Abia, 2 Taw 13:22; Azarya
(bin Oded) di masa pemerintahan Asa, 2 Taw 15:1 dst; Oded di masa pemerintahan Ahas, 2 Taw 28:9 dst, dan beberapa nabi
lain yang tidak disebut namanya. Tentang kebanyakan nabi tsb kita tidak tahu banyak
oleh karena dalam Kitab Suci hanya disinggung sedikit atau hanya disebut namanya
saja. Tetapi ada beberapa yang tampil ke depan. Natan
memberitakan kepada raja Daud, bahwa wangsanya yang berkenan kepada Allah akan
berlangsung untuk seterusnya. Nubuat Natan ini merupakan mata rantai pertama
dalam serangkaian nubuat yang semakin terperinci mengenai Mesias keturunan Daud,
2 Sam 7:1-17. Namun Natan ini juga menghardik keras raja Daud yang telah
berzinah dengan Batsyeba. Setelah raja bertobat Natan menjamin kepadanya, bahwa
Allah akan mengampuni dosanya itu, 2 Sam 12:1-26. Dua nabi lain yaitu Elia
dan Elisa lebih kita kenal berkat
sejumlah cerita mengenai mereka yang tercantum dalam kedua kitab Raja-raja. Elia
berperan sebagai pembela iman kepada Allah yang Esa dan secara gemilang
mengalahkan nabi-nabi dewa Baal di puncak gunung Karmel, 1 Raj 18. Elia memang
tampil di panggung sejarah Israel tepat pada waktu agama Yahwe terancam bahaya
dari pihak kepercayaan serta ibadat kafir yang mulai berpengaruh pada
orang-orang Yahudi. Pertemuan Elia dengan Allah di gunung Horeb, yaitu di tempat
pernah diadakan Perjanjian suci, secara langsung menghubungkan diri Elia dengan
Musa, 1 Raj 19. Elia adalah seorang pembela iman akan Yahwe dan sekaligus
pembela keluhuran akhlak. Elia menyerukan hukuman Allah atas diri raja Ahab yang
telah membunuh Nabot untuk merampas kebun anggurnya, 1 Raj 21. Akhir hidup Elia
yang terselubung suatu rahasia, 2 Raj 2:1-18, menyemarakkan kepribadiannya, yang
makin hari makin dimasyhurkan dalam tradisi Yahudi. Elia selalu berjuang
sendirian. Bukan demikian halnya dengan Elisa yang melibatkan diri dalam
kehidupan orang-orang sezamannya. Elisa turan tangan di waktu orang-orang Yahudi
berperang melawan bangsa Moab, 2 Raj 3, dan bangsa Aram, 2 Raj 6-7. Elisa
memainkan peranan dalam perebutan kuasa raja oleh Hazael di Damsyik, 2 Raj
8:7-14, dan oleh Yehu di kerajaan Utara (Israel), 2 Raj 9:1-3. Beberapa penguasa
yaitu Yoas, raja Israel, 2 Raj 13:14-19, Benhadad, raja Damsyik, 2 Raj 8:7-8,
dan Naaman, panglima raja Aram, 2 Raj 5, meminta nasihat kepada Elisa. Elisa
berhubungan juga dengan tarekat-tarekat nabi. Mereka menceritakan pelbagai kisah
ajaib mengenai Elisa, 2 Raj 4:1-7,38-44; 6:1-7. Sudah barang tentu keterangan-kererangan paling lengkap diberi mengenai nabi nabi yang kitabnya termasuk daftar Kitab Suci. Keterangan-keterangan itu dapat dicari dalam pengantar kepada masing-masing kitab nabi. Di sini cukup menunjukkan kedudukan nabi itu dalam gerakan kenabian dan menggariskan segi-segi baru pada nabi ini dalam perbandingannya dengan zaman dahulu. Semua nabi yang kitabnya terdapat dalam Kitab Suci, tampil ke muka di zaman ketika bangsa Israel berada dalam keadaan gawat yang mendahului dan bertepatan dengan kejadian-kejadian penting yang menentukan sejarah bangsa Israel untuk selanjutnya. Kejadian-kejadian itu ialah: ancaman dan pihak kerajaan Asyur dan kemusnahan kerajaan Israel (Utara), runtuhnya kerajaan Yehuda (Selalan) dan pembuangan bangsa Israel ke Babel, akhir masa pembuangan dan kembalinya orang-orang Yahudi dari pembuangan. Para nabi menujukan pesannya bukan kepada raja melainkan kepada seluruh bangsa. Oleh karena pesan mereka bersifat umum, maka pesan itu terpelihara secara tertulis dan membawa pengaruh untuk selanjutnya. Yang paling dahulu dari nabi-nabi itu ialah Amos. Ia menunaikan tugasnya di pertengahan abad ke-8 seb. Mas., yaitu 1k. 50 th sesudah wafatnya nabi Elisa. Gerakan kenabian yang besar berlangsung sampai zaman pembuangan bangsa Israel, yaitu kurang dari dua abad lamanya. Dalam masa itu menonjollah peranan nabi Yesaya dan Yeremia. Tetapi di masa yang sama tampil juga nabi Hosea, Mikha, Nahum, Zefanya dan Habakuk. Akhir kegiatan nabi Yeremia bertepatan dengan awal kegiatan Yehezkiel. Namun bersamaan dengan Yehezkiel, yang berkarya di tengah-tengah bangsa Israel di pembuangan, berubahlah nada nubuat. Nubuat-nubuat menjadi kurang spontan dan kurang berapi-api; nubuat-nubuat kerap kali berupa penglihatan-penglihatan hebat namun berbelit-belit; dalam menggambarkan suatu nubuat sangat terperinci; perhatian terpusat pada peristiwa-peristiwa yang akan berlangsung di akhir zaman. Pendek kata, nubuat-nubuat makin sering bercorak kesusasteraan apokaliptik. Namun demikian aliran kenabian yang berpangkal pada nabi Yesaya juga diteruskan, bahkan diperkaya dalam kitab Penghiburan, Yes 40-55. Nabi-nabi yang berkarya di zaman kembalinya bangsa Israel dari Pembuangan, yaitu Hagai dan Zakharia, memusatkan perhatiannya pada pembangunan Bait Suci. Sesudah kedua nabi ini, maka Maleakhi mengemukakan kekurangan-kekurangan yang timbul dalam jemaat Israel baru. Lalu menyusul Kitab kecil Yunus. Dalam Kitab ini yang sudah mulai bercirikan jenis midrasy, ajaran yang dikemukakan dalam karangan-karangan kuno Alkitab menjadi landasan buat sebuah ajaran baru. Aliran apokaliptik yang bermula dalam kitab Yehezkiel, dapat dijumpai kembali dalam kitab Yoel dan dalam bagian kedua kitab Zakharia. Aliran itu menjiwai seluruh kitab Daniel. Kitab Dan menggabungkan penglihatan-penglihatan mengenai masa lampau dengan penglihatan-penglihatan yang menyangkut masa depan dan menyajikannya dalam suatu gambaran yang sama sekali lepas dari masa tententu. Dalam gambaran itu kejahatan dihancurkan dan Kerajaan Allah ditegakkan. Di masa itu inspirasi kenabian nampaknya sudah padam, sehingga orang berseru kepada “nabi-nabi di masa yang lampau”, Dan 9:6; bdk juga Za 7:7,12. Nabi Zakharia, 13:2-6, memang meramalkan bahwa karunia kenabian akan lenyap, oleh karena sudah dicemarkan nabi-nabi palsu. Tetapi kitab nabi Yoel, 3:1-5, menubuatkan, bahwa di zaman Mesias Roh Kudus, ialah roh kenabian, akan dicurahkan lagi. Nubuat Yoel itu terlaksana pada hari Pentakosta, lih Kis 2:16, yang merupakan permulaan zaman baru. Zaman itu sudah diberitakan Yohanes Pembaptis yang menjadi nabi terakhir dan Perjanjian Lama, “seorang nabi, bahkan lebih daripada nabi”, Mat 11:9; Luk 7:26. AJARAN
PARA NABI Para
nabi berperanan penting dalam perkembangan agama bangsa Israel. Mereka bukan
hanya mempertahankan dan membimbing bangsanya dalam kepercayaan murni kepada
Yahwe, Allahnya. Mereka memegang juga peranan utama dalam memperkembangkan
penyataan Ilahi. Dalam peranan rangkap ini masing-masing nabi mengambil
bagiannya sendiri dan masing-masing nabi memberi sumbangan khasnya bagi ajaran
keagamaan. Sumbangan mereka masing-masing saling bertemu dan bergabung menurut 3
tema pokok, tepatnya menurut tema-tema khas dalam agama Perjanjian Lama, yaitu:
monoteisme, ajaran kesusilaan dan penantian akan keselamatan. Monoteisme.
Secara falsafiah, monoteisme dapat dirumuskan begini: mengaku adanya satu Allah
saja dan menolak adanya ilah-ilah lain. Bangsa Israel sampai kepada pengertian
monoteisme sedemikian lambat sekali dan tahap demi tahap. Berabad-abad lamanya
orang-orang Israel menganut paham, bahwa bangsa-bangsa lain boleh saja mempunyai
ilah-ilah lain, tetapi mereka sendiri tidak perduli akan ilah-ilah itu.
Orang-orang Israel hanya menerima Yahwe saja. Di antara ilah-ilah lain Yahwelah
yang paling berkuasa. Yahwe menuntut, supaya orang-orang Israel berbakti kepada
Dia saja. Peralihan dari paham dan praktek monoteis semacam ini kepada suatu
perumusan abstrak terjadi berkat pewartaan para nabi. Ketika Amos, nabi pertama
dalam urutan waktu, menggambarkan Yahwe sebagai Allah yang menguasai
kekuatan-kekuatan alam dan bertindak sebagai Penguasa manusia dan segala
kejadian, maka nabi itu hanya mengingatkan kebenaran yang sudah lama diketahui
untuk mendukung ancaman-ancaman yang dilonrarkannya. Namun kepercayaan lama itu
makin hari makin jelas dipahami. Demikianpun kesimpulan praktis dari kepercayaan
itu semakin nyata dan terasa. Penyataan Allah di gunung Sinai dahulu berhubungan
erat dengan terpilihnya bangsa Israel sebagai umat Allah dan dengan diikatnya
Penjanjian. Setelah itu Yahwe nampak sebagai Allah Israel, Allah yang
berkediaman di Tanah dan tempat-tempat suci Israel. Meskipun tetap menekankan
ikatan-ikatan khas antara Yahwe dengan umatNya, namun para nabi menegaskan,
bahwa Yahwe menentukan hal-ihwal bangsa-bangsa lain juga, Am 9:7. Yahwe
menghakimi bangsa-bangsa kecil maupun yang besar, Am 1-2 (lih juga semua nubuat
melawan bangsa-bangsa kafir). Yahwe memberi mereka kekuasaannya dan mengambilnya
kembali, Yer 27:5-8. Yahwe memakai negara-negara lain sebagai alat
penghukumanNya, Am 6.11; Yes 7:18-19; 10:6; Yer 5:15-17, tetapi Iapun menahan
negara-negara itu sesuai dengan kehendakNya, Yes 10:12. Walaupun para nabi
memaklumkan, bahwa Tanah Israel adalah milik Yahwe, Yer 7:7, dan Bait Suci
adalah tempat kediamanNya, Yes 6; Yer 7:10-11, namun mereka menubuatkan juga
kehancuran Bait Allah itu, Mi 3:12; Yer 7:12-14; 26, dan nabi Yehezkiel melihat
“kemuliaan Yahwe” meninggalkan kota Yerusalem, Yeh 10:18-22; 11:22-23. Di samping Yahwe, Penguasa semesta alam, tidak ada
tempat bagi ilah-ilah lain. Dengan melawan pengaruh dari upacara-upacara kafir
dan gejala-gejala sinkretisme yang membahayakan kepercayaan bangsa Israel. Para
nabi menandaskan, bahwa dewa-dewa tidak berkuasa sama sekali dan bahwa
berhala-berhala mereka hampa belaka, Hos 2:7-15; Yer 2:5-13,27-28; 5:7; 16:20.
Lenyapnya segenap pengharapan nasional yang selama ini menjiwai bangsa Israel
oleh karena pembuangan ke Babel dapat menimbulkan kesangsian mengenai kekuasaan
Yahwe. Maka justru di masa itu nabi Deutero-Yesaya, Yes 40:19-20; 41:6-7,21-24;
44:9-20; 46:1-7; bdk Yer 10:1-16, dan kemudian surat Yeremia, Bar 6, dan Dan 14
(Yun) mempertajam dan menasionalisasikan serangan atas berhala-berhala. Imbalan
kecaman atas berhala itu ialah pengungkapan monoteisme mutlak yang jaya seperti
tercantum dalam Yes 44.6-8; 46:1-7,9. Allah itu adalah Allah yang transenden yang mengatasi
dan melampaui segala ciptaan. Transendensi Allah terutama diungkapkan oleh para
nabi dengan berkata, bahwa Alloh adalah “kudus”. Ungkapan ini sangat
digemari oleh Yesaya, Yes 6 dan di banyak tempat lain: mis. 1:4; 5:19,24;
10:17,20, dll; tetapi juga terdapat dalam Hos 11:9; Yes 40:25; 41:14,16.20, dll;
Yer 50:29; 51:5; Hab 1:12; 3:3. Allah diselubungi tabir nahasma, Yes 6; Yeh 1.
Allah berada jauh di atas “anak-anak manusia” sebagaimana berulang kali
dikatakan nabi Yehezkiel yang dengan ungkapan itu menegaskan jarak pemisah yang
terbentang antara dia dengan Pembicara Ilahinya. Namun demikian Allah
digambarkan sebagai Tuhan yang berada dekat melalui kebaikan bahkan cinta mesra
yang dinyatakanNya kepada umat-milikNya. Kasih dan kebaikan Allah itu secara
khusus ditegaskan nabi Hosea dan Yeremia serta diibaratkan dengan perkawinan
yang diadakan Yahwe dengan Israel, Hos 2; Yer 2:2-7; 3:6-8. Ibarat ini diuraikan
dengan panjang lebar dalam Kitab Yehezkiel, Yeh 16 dan 23. Ajaran
kesusilaan.
Melalui renungan mengenai perbedaan antara kekudusan Allah dan kedosaan manusia,
Yes 6:5, para nabi mengerti dengan jelas arti dan hakekat dosa. Sama seperti
halnya dengan monoteisme, demikianpun ajaran kesusilaan para nabi bukan sesuatu
yang baru. Ajaran itu sudah tersurat dalam ke-10 Perintah Allah (Dekalog).
Berlandaskan ajaran Dekalog itu nabi Natan menghardik raja Daud, 2 Sam 12, dan
nabi Elia berani mengecam raja Akhab, 1 Raj 21. Dalam kitab-kitab para nabi yang
terpelihara dalam Alkitab, berulang kali ditegaskan, bahwa dosa memisahkan
manusia dari Allah, Yes 59:2. Dosa, pada hakekatnya adalah pemberontakan
terhadap Allah yang adil (Amos), terhadap Allah yang penuh kasih (Hosea),
terhadap Allah yang kudus (Yesaya). Dosa menjadi pusat perhatian nabi Yeremia:
dosa itu menjalar kepada seluruh bangsa yang tampaknya sudah termakan olehnya
dan tidak dapat ditobatkan lagi, Yer 13.23. Kejahatan membanjiri seluruh umat
dan menuntut hukuman Allah, penghakiman yang akan dijatuhkan pada “Hari
TUHAN”, Yes 2:6-22; 5:18-20; Hos 5:9-14; Yl 2:1-2; Zef 1:14-18. Nubuat
mengenai mala petaka yang akan datang itu dianggap oleh nabi Yeremia sebagai
tanda nubuat yang sejati, Yer 28.8-9. Dosa yang dilakukan oleh seluruh bangsa
menuntut hukuman umum itu. Di tengah renungan mengenai dosa dan hukuman kolektip
itu mulai juga timbul gagasan baru mengenai ganjaran pribadi, Yer 31:29-30 (bdk
Ul 24:16). Gagasan itu diperkuat dalam Yeh 18, bdk 33:10-20. “Monoteisme etis” para nabi ini tidak berlawanan
dengan hukum. Ajaran kesusilaan para nabi justru bertumpu pada hukum yang pernah
dimaklumkan Allah. Hukum itu terus dilanggar atau / dan diremehkan, lih.
wejangan Yer 7:5-10 dan hubungannya dengan Dekalog. Bersamaan dengan berkembangnya ajaran kesusilaan itu, pengertian mengenai hidup keagamaan makin diperdalam. Manusia dapat luput dari hukuman Allah, bilamana ia “mencari TUHAN”, Am 5:4,’ Yer 50:4; Zef 2:3, yaitu bilamana, sesuai dengan kata Zefanya, manusia melaksanakan perintah-perintah Allah, memenuhi hukum dan bersifat rendah hati, bdk Yes 1:17; Am 5:24; Hos 10:12; Mi 6:8. Allah menghendaki, supaya manusia beragama secara batiniah. Menurut nabi Yeremia, agama batiniah itu adalah syarat bagi sebuah Perjanjian baru, Yer 31:31-34. Seluruh hidup keagamaan serta tanda-tanda lahiriah ibadat harus dijiwai semangat batiniah itu. Para nabi mengecam upacara-upacara meriah kaku yang tidak menghiraukan akhlak manusia yang beribadat, Yes 1:11-17; Yer 6:20; Hos 6:6; Mi 6:6-8. Tetapi kelirulah orang yang berpendapat, bahwa para nabi memusuhi ibadat pada umumnya. Malahan nabi Yehezkiel, Hagai dan Zakharia, menaruh perhatian istimewa pada peribadatan dan Bait Suci. Penantian
akan keselamatan.
Hukuman yang akan menimpa bangsa Israel bukan babak terakhir dalam drama
hubungan antara Allah dengan umatNya. Allah tidak menghendaki, bahwa umatNya
musnah seluruhnya. Walaupun umat itu terus-menerus mengingkariNya, namun Allah
tetap mengusahakan janji-janjiNya dipenuhi. Allah akan menyayangi suatu “sisa
Israel”, Yes 4:3*. Istilah “sisa” ini untuk pertama kalinya disebut dalam
kitab Amos, 5:15. Dalam kitab nabi-nabi berikut istilah ini diulang-ulangi dan
diberi arti lebih mendalam. Dalam pandangan para nabi gambaran mengenai hukuman
yang sudah dekat bercampur-baur dengan gambaran mengenai penghakiman Allah pada
akhir zaman. “Sisa Israel” akan luput dari hukuman yang sudah dekat itu, dan
akan dikaruniai keselamatan pada akhir zaman. Dengan majunya sejarah menjadi
jelas, bahwa hukuman yang mendekat itu bukanlah penghakiman terakhir. Tetapi
sesudah setiap malapetaka justru “sisa” itulah yang selamat: para penduduk
negeri yang masih tersisa setelah Samaria musnah dan Sanherib merebut negeri
Yehuda, Am 5:15; Yes 37:31-32; mereka yang terbuang ke negeri Babel setelah
Yerusalem hancur, Yer 24:8; jemaat yang dari pembuangan kembali ke Palestina, Za
8:6,11,12; Ezr 9:8,13,15. Dan tiap-tiap kali “sisa” yang selamat itu
sekaligus menjadi pangkal suatu umat yang suci yang diberi janji mengenai masa
depan, Yes 11:10; 37:31; Mi 4:7; 5:6-7; Yeh 37:12-14; Za 8:11-13. Kebahagiaan di masa mendatang itu tiada taranya;
orang-orang Yahudi dari Kerajaan Israel dan Yehuda yang terserak-serak itu, Yes
11:12-13; Yer 30-31, akan kembali ke Tanah Suci. Di situ mereka akan hidup
sejahtera dan tidak berkekurangan apapun, Yes 30:23-26; 32:15-17. Umat Allah
akan membalas dendam kepada para musuhnya, Mi 4:11-13; 5:6-8, Namun demikian
kesejahteraan dan kekuasaan materiil dan politik ini bukannya inti pokok
kebahagiaan itu. Kesejahteraan itu hanya menyertai Allah yang berkuasa sebagai
Raja dan mengandaikan suatu suasana spirituil yaitu: keadilan dan kesucian, Yes
29:19-24, pertobatan batiniah dan pengampunan Ilahi, Yer 31:31-34 pengenalan
akan Allah, Yes 2:3; 11:9; Yer 31:34, kedamaian dan suka-cita, Yes 2:4; 9:6;
11:6-8; 29:19. Untuk mendirikan dan memimpin kerajaanNya di bumi,
TUHAN selaku Raja akan memilih seorang wakil, Wakil itu akan diurapi dan ia akan
mengabdi kepada Allah dengan taat. Ia akan disebut “yang diurapi” oleh
Yahwe, yaitu Sang Mesias. Pengharapan akan Mesias-Raja (Mesianisme) untuk
pertama kalinya diungkapkan nabi Natan, ketika ia berjanji kepada raja Daud,
bahwa wangsanya akan berlangsung untuk seterusnya. Nubuat itu berkumandang juga
dalam beberapa mazmur, bdk Pengantar Kitab mazmur. Namun ketidak-berhasilan dan
buruknya tingkah-laku kebanyakan pengganti raja Daud nampaknya membatalkan janji
yang melekat pada wangsa Daud. Maka seluruh harapan terarah akhirnya pada
seorang raja saja, yang kedatangannya dinantikan, entah di waktu dekat entah di
waktu yang masih lama. Para nabi, khususnya Yesaya dan juga Mikha dan Yeremia,
secara samar-samar menantikan penyelamat sedemikian. Mesias itu, menurut mereka,
akan berasal dari wangsa raja Daud, Yes 11:1; Yer 23:5 = 33:15. Ia akan lahir di
Betlehem-Efrata, tempat asal raja Daud, Mi 5:1. Ia akan diberi gelar-gelar yang
paling agung, Yes 9:5. Tuhan serta segala karuniaNya ada padanya, Yes 11:1-5,
Yesaya menyebut Mesias itu dengan nama Imanuel (“Allah beserta kita”), Yes
7:14. Yeremia memberi kepadanya nama “Yahwe zidqenu” (“Tuhan-keadilan
kita”), Yer 23:6. Kedua nama ini meringkaskan pandangan yang murni bersih
tentang Mesias. Harapan akan datangnya Mesias tetap hidup di
tengah-tengah bangsa Israel, kendati mereka melihat, bahwa hasrat mereka untuk
menguasai seluruh bumi, adalah suatu mimpi belaka yang tidak mungkin terwujud.
Mereka tetap berharap, kendati mereka mengalami pahitnya hidup dalam pembuangan
di Babel. Hanya harapan itu diberi wujud dan sorotan baru. Untuk sementara wakru
harapan itu oleh nabi Hagai dan Zakharia dianggap terwujud dalam diri Zerubabel,
keturunan raja Daud. Kemudian harapan akan kedatangan Mesias-Raja semakin
menipis dan menghilang, Sebab tidak seorang keturunan Daud pun naik takhta,
Israel dijajah dan diperintah oleh penguasa asing. Nabi Yehezkiel memang
menantikan kedatangan seorang Daud baru. Tetapi ia tidak menyebutnya “raja”
lagi melainkan “pangeran”. Ia menggambarkan Mesias itu lebih-lebih sebagai
seorang pengantara dan gembala dari pada seorang penguasa, Yeh 34:23-24;
37:24-25, Nabi Zakharia memang berbicara mengenai seorang raja yang akan datang,
tetapi nabi itu lemah-lembut dan seorang pencinta damai, Za 9:9-10. Dalam bagian
kedua Kitab Yesaya (Deutero-Yesaya), “orang yang diurapi Yahwe” itu bukan
lagi seorang raja yang berasal dari wangsa Daud, melainkan raja Persia yaitu
Koresy, Yes 45:1. Dia itu dipakai Allah sebagai alat untuk membebaskan umat
Israel. Namun Deutero-Yesaya yang sama ini menampilkan juga seorang tokoh
keselamatan lain yaitu Hamba TUHAN. Hamba itu adalah guru bagi bangsa Israel dan
cahaya bagi bangsa-bangsa lain. Dengan lembut hati ía mengajarkan hukum Allah.
Rupa Hamba Yahwe itu tidak semarak. Ia ditolak oleh saudara-saudara sebangsanya,
namun menyelamatkan mereka dengan mengorbankan hidupnya sendiri, Yes 42:1-7;
49:1-9; 50:4-9, khususnya 52:13-53:12, Akhirnya nabi Daniel melihat dalam
penglihatan, bahwa di atas awan-awan akan datang seorang yang menyerupai Anak
Manusia. Allah akan memberi kepadanya kekuasaan atas segala bangsa, dan sebuah
kerajaan yang tidak akan berkesudahan, Dan 7. Akan tetapi pengharapan yang lama
kemudian tampil kembali. Menjelang tarikh Masehi bagian besar bangsa Israel
dijiwai harapan akan kedatangan Mesias-Raja. Tetapi juga ada golongan-golongan
tertentu yang menantikan seorang Mesias-imam dan ada pula golongan-golongan lain
yang mengharapkan kedatangan seorang Mesias yang tidak berasal dari dunia ini. Jemaat kristen purba menghubungkan semua nubuat para nabi mengenai Mesias itu dengan diri Yesus, yang mempersatukan di dalam diriNya nubuat-nubuat yang berbeda-beda nadanya itu. Dalam pandangan jemaat purba itu Yesus adalah Penyelamat, Kristus artinya Mesias, keturunan Daud: ía lahir di Betlehem; ía Raja pencinta damai, yang dinubuatkan nabi Zakharia; Dialah Hamba yang bersengsara, sesuai dengan nubuat yang tercantum dalam bagian kedua kitab Yesaya; Yesus adalah kanak-kanak yang bernama Imanuel yang dinubuatkan nabi Yesaya dan juga Anak Manusia yang berasal dari surga, sesuai dengan kitab Daniel. Akan tetapi penggunaan nubuat-nubuat yang lama itu tidak boleh mengaburkan pandangan khas kristen mengenai Mesias. Pandangan kristen memancari diri pribadi dan karya Yesus. Nubuat-nubuat itu digenapi Yesus, tetapi dengan melampauinya. Yesus memang menolak dengan tegas pengertian tradisionil mengenai Mesias-Raja dengan arti politik. KITAB-KITAB
PARA NABI Para
nabi yang kitabnya tercantum dalam Alkitab, biasanya disebut “nabi-nabi
penulis”. Tetapi sesuai dengan yang diuraikan di muka mengenai cara kerja para
nabi, sebutan ini kurang tepat. Seorang nabi itu bukan seorang penulis. Nabi
adalah pengkhotbah, seorang pembicara. Pesan para nabi itu disampaikan secara
lisan. Hanya perlu dijelaskan, bagaimana wejangan-wejangan para nabi yang lisan
itu akhirnya diberi bentuk tertulis. Dalam kitab-kitab para nabi terdapat 3 unsur yang
berbeda satu sama lain, yaitu: 1.
“kata-kata kenabian” yang berupa “firman”. Yang berbicara ialah Allah
sendiri atau nabi atas nama Allah. Kadang-kadang firman itu berupa sajak yang
berisikan suatu ajaran, suatu berita, suatu ancaman atau janji ........; 2.
cerita-cerita di mana nabi sendiri angkat bicara dan mengisahkan pengalamannya
sendiri, khususnya panggilan nya; 3.
cerita-cerita di mana orang lain menceritakan kejadian-kejadian dan kehidupan
nabi atau hal-ihwal yang berpautan dengan karyanya. Ketiga unsur ini
kadang-kadang tercampur. Sering kali firman Ilahi atau wejangan disisipkan ke
dalam cerita. Bagian-bagian di mana orang lain angkat bicara
menunjukkan, bahwa bagian-bagian itu ditulis orang lain dari nabi sendiri.
Paling jelas hal itu terungkap dalam kitab Yeremia. Nabi Yeremia mendiktekan
kepada Barukh, 36:2-3, segala sesuatu yang telah diucapkan nabi atas nama Yahwe
selama 23 tahun, Yer 36:4, bdk Yer 25:3. Kumpulan wejangan nabi Yeremia itu lalu
dibakar oleh raja Yoyakim, Yer 36:2-3. Maka Barukh kembali menulis kitab itu,
Yer 36:32. Cerita mengenai kejadian-kejadian itu hanya dapat berasal dari
Barukh. I agaknya juga menulis cerita-cerita berikut mengenai riwayat hidup
Yeremia, Yer 37-44. Cerira-cerita itu berakhir dengan sebuah kata penghibur yang
ditujukan nabi Yeremia kepada Barukh sendiri, 45:1-5. Sepintas lalu dikatakan,
bahwa gubahan kedua yang dikerjakan Barukh “ditambahi dengan banyak perkataan
seperti itu”, entahlah oleh Barukh sendiri atau oleh orang lain, Yer 36:32. Hal-hal yang serupa dapat menjelaskan susunan
kirab-kitab lain pula. Para nabi sendiri agaknya mencatat atau mendiktekan
sebagian nubuat maupun cerita yang mengisahkan pengalaman mereka, bdk Yes 8:1;
30:8; Yer 30:2; 51:60; Yeh 43:11; Hab 2:2. Sebagian warisan para nabi itu
kiranya hanya dipelihara dengan setia dalam tradisi lisan saja oleh orang-orang
yang mendampingi atau berguru kepada mereka. Agaknya dapat dipastikan, bahwa
nabi Yesaya mempunyai sekelompok murid, Yes 8:16. Kejadian-kejadian dari riwayat
hidup para nabi kiranya juga terpelihara dalam ingatan kelompok-kelompok tsb dan
termasuk ke dalamnya beberapa firman kenabian pula. Contohnya ialah tradisi
mengenai nabi Yesaya yang tercantum dalam kitab Raja-raja, 2 Rj 18-20, yang
kemudian disisipkan ke dalam kitab Yesaya. 36-39. Sama halnya dengan kisah
mengenai bentrokan nabi Amos dengan imam Amazia, Am 7:10-17. Berpangkal pada ketiga unsur yang disebut di muka
dibuat kumpulan-kumpulan yang menghimpunkan nubuat-nubuat yang bernada sama atau
berita-berita mengenai hal yang sama (mis. kumpulan-kumpulan nubuat melawan
bangsa-bangsa lain yang terdapat dalam kitab Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel);
ataupun disusun kumpulan nubuat-nubuat yang mengancamkan malapetaka yang
diimbangi kumpulan nuhuat-nubuat mengenai keselamatan (mis. kitab nabi Mikha).
Tulisan-tulisan ini dibacakan dan direnungkan, dan begitu mengabadikan cita-cita
dan gagasan-gagasan yang dicetuskan para nabi. Orang-orang yang hidup sezaman
dengan nabi Yeremia mengutip suatu nubuat nabi Mikha, Yer 26.17-18. Nabi-nabi
terdahulu sering kali disebut, Yer 28:8. Penyebutan nabi-nabi tendahulu ini
berupa ulangan yang muncul dalam Yer 7:25; 25:4; 26:5, dll, dan juga dalam Za
1:4-6; 7:7,12; Dan 9:6,10; Ezr 9:11. Dalam lingkungan orang-orang bersemangat
yang memupuk iman dan kesalehannya dengan tulisan-tulisan itu, kitab-kitab para
nabi tetap hidup dan selalu aktual. Sebagaimana halnya dengan gulungan yang
digubah Barukh, Yer 36:32, tulisan-tulisan nabi-nabi lainpun “masih ditambahi
dengan banyak perkataan seperti itu”. Tambahan-tambahan itupun diilhamkan
Allah dan bertujuan menyesuaikan tulisan-tulisan para nabi dengan keadaan
konkrit bangsa Israel ataupun memperkaya tulisan-tulisan itu. Kadang-kadang
tambahan-tambahan itu banyak dan luas (hal ini berlaku untuk kitab Yesaya dan
kitab Zakharia seperti akan diuraikan lebih lanjut pada tempatnya). Orang-orang
yang menerima warisan berupa tulisan-talisan para nabi itu yakin, bahwa dengan
berbuat demikian mereka memelihara dan memanfaatkan harta yang mereka warisi. Dalam Alkitab keempat nabi besar diurutkan sesuai dengan urutan mereka dalam waktu. Urutan kitab-kitab kedua belas nabi “kecil” agak kebetulan saja. Sedapat-dapatnya kita akan membahas kitab-kitab ini sesuai dengan urutannya dalam waktu. YESAYA Nabi
Yesaya lahir di sekitar th 765 seb.Mas. Ia dipanggil Allah untuk menjadi nabiNya
pada th mangkatnya raja Uzia, yaitu pada th 740. Yesaya menerima panggilannya di
dalam Bait Suci di Yerusalem. Ia ditugaskan Allah untuk memaklumkan kemusnahan
kerajaan Israel dan Yehuda sebagai hukuman atas ketidak-setiaan umat kepada
Yahwe, 6:1-13. Nabi menanaikan tugasnya selama 40 th Selama masa itu bertambah
ancaman dari pihak kerajaan Asyur yang semakin mendesak kerajaan Israel dan
Yehuda. Masa 40 th ini dapat dibagi atas empat satuan waktu. Segala nubuat nabi
dengan lebih atau kurang pasti dapat ditempatkan dalam masing-masing satuan
wakru itu. 1. Nubuat-nubuat pertama diucapkan Yesaya antara hari
panggilannya, th 740 dan permulaan pemerintahan raja Ahas, th 736. Di masa itu
Yesaya pada umumnya mengecam kemerosotan akhlak yang merajalela dalam kerajaan
Israel (Utara) dan disebabkan kemakmuran materiil, 1-5 (bagian besar). 2. Rezin, raja Damsyik dan Pekah, raja Israel berusaha
membujuk raja Ahas yang masih muda untuk bersekutu dengan mereka guna melawan
Tiglat Pileser III, raja Asyur. Karena usul mereka ditolak Ahas, maka mereka
menyerang Ahas yang mohon bantuan Asyur. Dalam keadaan ini tampillah lagi
Yesaya. Dengan sia-sia ia mencoba menggagalkan politik raja Ahas yang tidak
memperhitungkan bantuan Allah dan terlalu percaya kepada percaturan politik.
Bagian kitab Yesaya yang boleh diberi judul “Kitab Imanuel” berasal dari
masa ini, yaitu sebagian besar 7:1-11:9 dan juga 5:26-29 (?); 17:1-6; 28:1-4.
Karena gagal meyakinkan raja Ahas, maka Yesaya mengundurkan diri dari kegiatan
umum, bdk 8:16-18. 3. Akibat permohonan raja Ahas kepada Tiglat Pileser,
kerajaan Yehuda menjadi negeri taklukan Asyur. Permohonan ini mempercepat juga
jatuhnya kerajaan Israel (Utara). Pada th 734 sebagian wilayah kerajaan itu
dijadikan bagian kerajaan Asyur. Lalu tekanan Asyur semakin menjadi dan pada th
721 Samaria jatuh ke dalam tangannya. Sesudah Ahas mangkat, takhta kerajaan
Yehuda diduduki raja Hizkia. Hizkia adalah raja yang saleh. Ia dijiwai semangat
pembaharuan. Tetapi percaturan politik mulai kembali dan kali ini kerajaan
Yehuda minta bantuan pada Mesir guna melawan kerajaan Asyur. Yesaya yang selalu
teguh dalam pendiriannya menghendaki, supaya bangsanya menolak setiap
persekutuan militer dan mengharapkan bantuan dari pada Allah melulu.
Bagian-bagian berikut kitab Yesaya, yakni: 14:28-32; 18; 20; 28:7-22; 29:1-14;
30:8-17, berhubungan erat dengan awal pemerintahan raja Hizkia. Sesudah Sargon,
panglima Asyur, berhasil merebut Asdod dan menindas keras pemberontakan Yehuda,
nabi Yesaya lagi menghentikan kegiatannya. 4. Nabi Yesaya tampil ke muka kembali pada th 705,
ketika raja Hizkia ikut terlibat dalam pemberontakan terhadap kerajaan Asyur.
Pada th 701 Sanherib menghancurkan negeri Palestina, tetapi raja Yehuda bertekad
mempertahankan kota Yerusalem. Yesaya menyokong raja dalam tekadnya itu dan
berjanji kepadanya bantuan Allah. Dan memang kota itu akhirnya selamat. Dari
masa terakhir kegiatan nabi Yesaya ini sekurang-kurangnya berasal nubuat-nubuat
berikut ini: 1:4-9; 10:5-15.27b-32; 14:24-27 dan bagian-bagian dari 28-32 yang
tidak dihubungkan dengan satuan waktu ketiga tadi. Tentang hal-ihwal nabi Yesaya sesudah th 700 tidak
diketahui apa-apa. Menurut suatu tradisi Yahudi, nabi Yesaya dibunuh di masa
pemerintahan raja Manasye. Oleh karena terlibat langsung dalam nasib bangsanya,
maka Yesaya tampil sebagai pahlawan nasional. Akan tetapi Yesaya adalah juga
seorang penyair yang berbakat istimewa. Gaya bahasa yang semarak dan
gambaran-gambaran baru yang terdapat dalam kitabnya menjadikan Yesaya seorang
sastrawan yang unggul dalam Kitab Suci. Tulisan-tulisannya sungguh-sungguh
bernilai seni sastra gemilang yang ringkas namun padat-berisi, yang luhur dan
seimbang. Seni sasteranya kemudian tidak pernah tercapai lagi. Namun kebesaran
Yesaya terutama terletak di bidang agama. Panggilannya yang diterimanya di dalam
Bait Suci membentuk pribadi Yesaya untuk seterusnya. Pada saat panggilannya itu
nabi memperoleh penyataan mengenai Allah yang transenden dan mengenai manusia
yang rapuh tidak berdaya. Pandangan Yesaya mengenai Allah adalah jaya dan
mendahsyatkan. Allah adalah Kudus, Perkasa, Berkuasa dan Raja. Manusia adalah
ciptaan yang dinodai dosa. Allah menuntut, supaya dosa itu disilih. Sebab Allah
menuntut, supaya hubungan-hubungan sosial dijiwai keadilan dan supaya ibadat
kepadaNya dilaksanakan dengan jujur dan tulus hati. Allah menghendaki kesetiaan. Yesaya
adalah nabi yang menekankan pentingnya iman-kepercayaan. Dalam keadaan gawat
bangsanya, ia berseru, supaya mereka percaya kepada Allah saja, sebab Dialah
satu-satunya jaminan keselamatan. Nabi Yesaya insaf, bahwa percobaan berat akan
menimpa bangsanya, tetapi ia yakin, bahwa suatu “sisa” akan disayangi dan
selamat dan raja “sisa” itu ialah Mesias. Yesaya adalah nabi terbesar dalam
memupuk pengharapan akan kedatangan Mesias. Menurut dia, Mesias yang akan datang
itu adalah keturunan Daud. Mesias akan menegakkan di bumi sebuah kerajaan
kedamaian dan keadilan dan ía akan menyebarkan pengetahuan akan Allah, 2:1-5;
7:10-17; 9:1-6; 11:1-9; 28:16-17. Tidak mengherankan, bahwa bakat keagamaan Yesaya yang
sungguh luar biasa itu membawa pengaruh besar pada seluruh zamannya dan mendapat
sejumlah pengikut. Orang menyimpan di hati perkataan-perkataan Yesaya dan
menambahinya. Kitab yang diberi nama Yesaya adalah hasil kerja penggubahan yang
diusahakan lama sekali. Tidak mungkin menentukan segala tahap penggubahannya.
Susunan terakhir kitab Yesaya ini mengingatkan bagan yang dipakai dalam kitab
Yeremia (menurut terjemahan Yunani), dan kitab Yehezkiel: nubuat-nubuat melawan
Yerusalem dan Yehuda, 1-12; nubuat-nubuat melawan bangsa-bangsa lain, 13-23;
janji-janji, 24-35. Tetapi rangka umum ini tidak terlalu ketat. Selain itu, seperti diuraikan di muka, kitab Yesaya tidak disusun secara tegas menurut urutan dalam waktu yang sejalan dengan kehidupan Yesaya. Kitab Yesaya terbentuk berdasarkan sejumlah kumpulan pelbagai nubuat. Ada beberapa kumpulan yang berasal dari nabi sendiri, bdk 8:16; 30:8. Para murid Yesaya, baik yang sezaman maupun yang hidup kemudian menyusun kumpulan-kumpulan lain dan kadang-kadang menerangkan atau malahan menambah kata gurunya. Nubuat-nubuat melawan bangsa-bangsa lain yang terkumpul dalam 13-23, ditambahi dengan beberapa bagian yang dikarang di kemudian hari, khususnya 13-14 dengan nubuat melawan Babel (Bab 13-14 ini berasal dari zaman pembuangan bangsa Israel ke Babel). Tambahan lebih luas ialah “Apokalipsis Yesaya”, 24-27. Mengingat gaya kesusasteraan dan ajarannya, harus dikatakan, bahwa bagian ini dikarang baru pada abad ke-5 seb.Mas. Tambahan-tambahan lain ialah: bab 33, sebuah liturgi kenabian yang berasal dari zaman sesudah pembuangan; bab 34-36, sebuah “Apokalipsis kecil” yang bengantung pada Deutero-Yesaya. Ke dalam bagian-bagian tambahan ini perlu dimasukkan pula kisah kegiatan Yesaya selama penyerbuan tentara Sanherib, 36-39, yang diambil dari 2 Raj 18-19, dan sebuah mazmur yang disusun di masa sesudah pembuangan, tetapi diletakkan di mulut raja Hizkia, 38:9-20. Selain tambahan-tambahan kecil yang disebut tadi,
dalam kitab Yesaya terdapat juga beberapa tambahan yang lebih besar. Bab-bab
40-55 pasti bukanlah karya nabi Yesaya yang hidup dalam abad ke-8 seb.Mas. Dalam
bagian kitab ini, nama Yesaya tidak disebut sama sekali. Tetapi yang lebih
penting lagi ialah, bahwa latar belakang historis bab-bab ini ialah
peristiwa-peristiwa yang terjadi dua abad sesudah nabi Yesaya, yaitu: kota
Yerusalem sudah jatuh ke tangan Babel; bangsa Israel sudah diangkut ke Babel;
raja Koresy mulai tampil di panggung sejarah dan ia akan membebaskan bangsa
Israel. Memang benar, Allah itu mahakuasa. Allah dapat membuka kepada nabi
rahasia mengenai masa depan yang masih jauh. Allah dapat “memindahkan” nabi
ke zaman lain serta mempengaruhi angan-angan dan pikirannya. Akan tetapi
semuanya itu mengandaikan semacam adanya dua pribadi yang berbeda dalam satu
diri nabi. “Berpindahnya” nabi ke dalam zaman lain mengandaikan pula, bahwa
nabi itu dengan sendirinya kehilangan hubungan dengan orang-orang sezamannya,
padahal ia justru diutus kepada mereka. Dan Kitab Sucipun tidak tahu-menahu
tentang hal-hal semacam itu, sehingga sukar diterima, bahwa itu ada dalam Yes
40-55. Selebihnya hal semacam itu berlawanan dengan tugas sebenarnya seorang
nabi, yang hanya mengikut-sertakan masa depan dalam nubuat-nubuatnya buat
menasihati orang sezamannya. Maka boleh disimpulkan. bahwa Yes 40-55 berisikan
nubuat-nubuat seorang nabi yang tidak dikenal namanya, seorang penerus karya
Yesaya yang sama besarnya dengan nabi itu sendiri. Nabi itu lazimnya disebut “Yesaya
Kedua” atau “Deutero-Yesaya”, Dia berkarya di Babel dan menunaikan tugasnya
pada waktu antara kemenangan-kemenangan pertama raja Koresy, th 550 seb.Mas.
yang membuat orang memfirasatkan, bahwa kerajaan Babel akan hancur di masa
mendatang dan dikeluarkannya maklumat raja pada th 538, yang memberi kepada
orang-orang Yahudi izin kembali ke tanah-airnya. Meskipun tidak disusun secara
rapih teratur, namun kumpulan nubuat-nubuat ini, 40-55, memberi kesan sebuah
kesatuan yang lebih padat daripada bagian pertama kitab ini, Yes 1-39. Kumpulan
ini dimulai dengan semacam kisah mengenai panggilan nabi, 40:1-11 dan diakhiri
dengan sebuah kata penutup, 55:6-13, Oleh kanena dibuka dengan kata-kata:
“Hiburkanlah, hiburkanlah umatKu”, 40:1, maka kumpulan nubuat-nubuat ini
disebut “Kitab Penghiburan Israel”. Sebenarnya tema hiburan adalah tema utama kumpulan
ini. Nubuat-nubuat dalam bab 1-39 pada umumnya bernada ancaman dan sering
menyinggung peristiwa-peristiwa sedih yang terjadi di masa pemerintahan raja
Ahas dan Hizkia, Sebaliknya nubuat-nubuat dalam bab 40-55 bertemakan hiburan dan
isinya sama sekali tidak menyinggung peristiwa-peristiwa di zaman Ahas dan
Hizkia. Hukuman Allah sudah terlaksana, sebab kota Yerusalem telah jatuh.
Sekarang dekatlah sudah masa pemulihan. Di masa yang akan datang itu
segala-galanya akan diperbaharui. Tema pembaharuan itu tampaknya sangat penting
bagi pengarang bagian kitab ini, Hal ini jelas dari dua tema, yang diberi tempat
utama dalam Deutero-Yesaya ini, yaitu: Allah adalah pencipta. Allah adalah
penyelamat. Bangsa Israel akan mengalami suatu peristiwa keluaran baru, yang
lebih ajaib daripada keluaran dari negeri Mesir. Umat akan diantar kembali ke
kota Yerusalem yang sama sekali baru, dan jauh lebih indah daripada yang dahulu.
Pembedaan antara dua masa yaitu “masa lampau” dan “masa mendatang” ini
menunjukkan awal pemikiran eskatologis. Kalau bagian kitab ini dibandingkan
dengan bab 1-39, maka jelas sekali, bahwa pemikiran teologis bagian kedua
(40-55) lebih matang. Dalam bagian ini suatu ajaran mengenai monoteisme
dirumuskan. Mengenai dewa-dewa dikatakan, bahwa mereka itu sia-sia oleh karena
tidak berdaya sama sekali. Pengarang kitab Deutero-Yesaya menekankan
kebijaksanaan dan pemeliharaan Ilahi yang tidak terselami. Untuk pertama kalinya
dengan tegas terungkap, bahwa agama sejati teruntuk bagi dunia semesta. Semua
kebenaran ini diungkapkan dengan gaya yang berapi-api dan dalam irama
kalimat-kalimat pendek yang dipakai guna menegaskan. betapa dekatnya
keselamatan. Kitab Deutero-Yesaya memuat 4 bagian liris yang
disebut “nyanyian Hamba TUHAN”, yaitu: 42:1-4 (5-9); 49:1-6; 50:4-9 (10-11);
52:13-53:12. Nyanyian-nyanyian ini menggambarkan seorang Hamba TUHAN yang
sempurna. Hamba itu mengumpulkan umat Israel dan menjadi cahaya bagi
bangsa-bangsa lain. Ia inemberitakan iman yang sejati. Dengan kematiannya ia
menebus dosa-dosa umat lalu dimuliakan Allah. Nyanyian-nyanyian ini merupakan bagian Perjanjian Lama
yang paling banyak dipelajari. Para ahli tidak sepaham mengenai asal dan arti
nyanyian-nyanyian tsb. Agaknya dapat dipastikan, bahwa ketiga nyanyian pertama
digubah oleh Yesaya Kedua. Nyanyian keempat mungkin disusun oleh seorang murid
dari Yesaya Kedua. Yang paling diperdebatkan ialah persoalan: Siapa yang
dimaksudkan sebagai Hamba TUHAN itu? Kerap kali Hamba itu dianggap sebagai suatu
lambang jemaat Israel, seldab di bagian-bagian lain kitabnya pengarang memberi
Israel gelar “hamba”. Akan tetapi Hamba Tuhan dalam nyanyian-nyanyian tsb
digambarkan sebagai seorang pribadi. Oleh karena itu ahli-ahli Kitab lain
berpendapat, bahwa Hamba itu ialah seorang tokoh sejarah dan zaman lampau atau
yang hidup sezaman dengan pengarang kitab itu sendiri. Kalau demikian maka yang
paling menarik ialah pendapat yang menganggap Hamba itu sama dengan Yesaya Kedua
sendiri. Nyanyian keempat agaknya ditambah pada ketiga nyanyian pertama itu
sesudah wafat Yesaya Kedua. Ada juga beberapa ahli yang menggabungkan kedua
pendapat tsb dan berkata, bahwa Hamba itu ialah seorang pribadi yang menjadi
penjelmaan nasib bangsanya. Bagaimanapun juga, tafsiran-tafsiran yang hanya
menghubungkan Hamba Tuhan dengan masa yang lampau atau dengan masa nabi sendiri
tidak cukup memperhatikan apa yang dikatakan mengenai Hamba itu. Ia nampak
sebagai pengantara keselamatan di masa mendatang juga. Dan ini membenarkan
tafsiran sebagian tradisi Yahudi yang mengartikan Hamba Tuhan itu sebagai
Mesias. Hanya tafsiran Yahudi itu tidak mengikut-sertakan penderitaan Hamba.
Sebaliknya Yesus justru menonjolkan apa yang dikatakan mengenai penderitaan
Hamba Tuhan itu serta mengenai kematiannya yang menyilih dosa banyak orang.
Yesus menerapkan itu pada diriNya sendiri serta karyaNya, Luk 22:19-20,37; Mrk
10:45. Maka pemberitaan Kristen semula menegaskan, bahwa Hamba Tuhan yang
sempurna, yang dinubuatkan Deutero-Yesaya tidak lain dari Yesus Kristus, Mat
12:17-21; Yoh 1:29. Bagian terakhir kitab Yesaya, 55-56,
kadang-kadang dipandang sebagai sebuah karya seorang nabi lain lagi, yang
disebut Trito-Yesaya, yaitu Yesaya
ketiga. Tetapi dewasa ini pada umumnya diterima, bahwa bagian ini adalah
sebuah kumpulan yang majeinuk. Mazmur yang tercantum dalam 63:7 - 64:12 agaknya
dikarang sebelum masa berakhirnya pembuangan Israel di Babel. Nubuat dalam
66:1-4 berasal dari masa pembangunan Bait Suci di sekitar th 520 seb.Mas.
Gagasan-gagasan dan gaya bahasa bab-bab 60-62 sangat serupa dengan pikiran dan
gaya bahasa Deutero-Yesaya. Bab bab 56-59, seluruhnya dapat ditanggalkan pada
abad ke-5 seb.Mas. Bab-bab 65-66 (kecuali 66:1-4) yang menunjukkan ciri-ciri
jenis apokaliptik, menurut sejumlah ahli Kitab Suci dikarang di zaman penjajahan
Israel oleh bangsa Yunani. Namun sementara ahli lain berpendapat, bahwa bab-bab
ini dikarang tidak lama sesudah Israel kembali dari pembuangan. Pendek kata,
bagian ketiga kitab Yesaya ini tampaknya sebuah karya para penerus Yesaya Kedua.
Bagian ini adalah hasil terakhir sebuah tradisi yang berpangkal pada pribadi
Yesaya. Tradisi ini melanjutkan karya nabi Yesaya yang tampil pada abad ke-8
seb. Mas. Dalam sebuah gua di tepi Laut Mati (Qumran) ditemukan
sebuah naskah lengkap kitab Yesaya. Naskah ini barangkali berasal dan abad ke-2
seb.Mas. Naskah ini berbeda dari naskah yang ditetapkan oleh para Masoret. Ia
ditulis dalam ejaan khusus dan memuat sejumlah varian yang sebagian berguna
dalam menentukan bunyi naskah asli. YEREMIA Nabi
Yeremia lahir di sekitar th 650 seb. Mas., lebih kurang seabad lebih sedikit
sesudah nabi Yesaya. Yeremia berasal dari sebuah keluarga imam yang berkediaman
dekat kota Yerusalem. Kehidupan dan watak Yeremia dikenal secara lebih
terperinci daripada kehidupan nabi-nabi lain. Sebab riwayat Yeremia diceritakan
dalam beberapa kisah yang ditulis orang lain dan tersebar di seluruh kitabnya.
Urutan kisah-kisah tsb. dalam waktu adalah sbb.: 19:1-20:6; 26; 36; 45; 28-29;
51:59-64; 34:8-22; 37-44. “Pengakuan-pengakuan Yeremia” yaitu 11:18-12:6;
15:10-21; 17:4-18; 18:18-23; 20:7-18, berasal dari nabi sendiri.
“Pengakuan-pengakuan” nabi itu bukanlah sebuah autobiografi dalam arti
sebenarnya, melainkan lebih-lebih semacam kesaksian yang mengharukan hati
mengenai kemelut-kemelut yang dialami nabi. Pengakuan-pengakuan itu ditulis
berupa mazmur-mazmur ratapan. Yeremia dipanggil Allah sebagai nabiNya pada th 626 yaitu pada th ke-13 pemerintahan raja Yosia. Pada waktu itu Yeremia masih muda. |