|
KITAB MAZMUR Sama seperti bangsa tetangganya Mesir, Mesopotamia,
Kanaan – demikian juga bangsa Israel sejak awal mula menciptakan sajak-sajak
lirik yang bermacam-macam bentuknya. Beberapa sajak semacam itu berhasil masuk
ke dalain kitab-kitab sejarah yang tercantum dalam Alkitab, misalnya Nyanyian
Musa, Kel 15, Nyanyian Sumur, Bil 21:17-18, Nyanyian Kemenangan Debora, Hak 5,
Ratapan Daud atas Saul dan Yonatan, 2 Sam 1, dll, dan lagi lagu-lagu pujian bagi
Yudas dan Simon Makabe, 1 Mak 3:3-9 dan 14:4-15. Dalam Perjanjian Baru masih
terdapat Lagu Maria (Magnificat), Lagu Zakharia (Benedictus) dan Lagu Simeon (Nunc
dimittis). Banyak bagian kitab para Nabi juga termasuk jenis sastra itu. Dahulu
kala sudah ada kumpulan-kumpulan sajak, yang hanya kita kenal judulnya atau
beberapa kepingannya saja, misalnya Kitab Peperangan Tuhan, Bil 21:14, dan Kitab
Orang Jujur, Yos 10:13; 2 Sam 1:18. Akan tetapi khazanah lirik keagamaan bangsa
Israel ialah kitab Mazmur. Judul Kitab Mazmur (dalam bahasa Yunani “Psalterion”,
kata yang sebenarnya berarti alat musik bertali yang mengiringi nyanyian) adalah
sekumpulan mazmur yang berjumlah 150. Mulai dengan Mzm 10 sampai dengan Mzm 148
nomor urutan mazmur dalam Alkitab Ibrani (yang selama ini kita pakai) mendahului
nomor urutannya dalam Alkitab Yunani (dan Latin) dengan satu satuan. Sebabnya
ialah: Alkitab Yunani (dan Latin, Vulgata) menyatukan Mazm 9 dan 10 serta Mzm
114 dan 115, dan membagikan Mzm 116 dan 147 menjadi dua mazmur tersendiri. Dalam bahasa Ibrani kitab Mazmur disebut “Tehillim”, artinya
“Puji-pujian”. Tetapi sebutan itu hanya sesuai dengan sejumlah mazmur saja.
Dalam judul-judulnya mazmur-mazmur paling sering disebut “Mizmor”, yang
menjadi asal kata Arab-Indonesia “Mazmur”. Sejumlah mazmur dalam judulnya
disebut “nyanyian” dan hanya kata ini dibubuhkan pada masing-masing lagu
dalam kumpulan “Nyanyian-nyanyian ziarah”, Mzm 120-134. Nama-nama lain agak
jarang muncul dan kata Ibrani yang bersangkutan sering sulit dimengerti. Gaya
sastera Pengelompakan mazmur-mazmur yang paling tepat,
diperoleh dengan jalan mempelajari gaya sasteranya. Ditinjau dan segi gaya
sasteranya yang berbeda-beda dapat kita bedakan tiga
jenis utama, yaitu: Puji-pujian,
Doa (permohonan) dan Ucapan syukur.
Pengelompakan ini tidak mencakup semua mazmur, sebab terdapat juga jenis-jenis
campuran, mazmur-mazmur yang menyimpang dari jenis-jenis tersebut atau yang
secara lain berbeda. Selain itu pengelompakan tersebut tidak selalu sesuai
dengan suatu pengelompakan berdasarkan isi, tema, dan ujud mazmur-mazmur. 1. Puji-pujian.
Ke dalam kelompok ini termasuk antara lain Mzm 8, 19,
29, 33,46-48, 76, 84, 87, 93, 96-100, 103-106, 113, 114, 117, 122, 135, 136,
145-150. Susunan mazmur mazmur ini agak tetap. Setiap mazmur puji-pujian mulai
dengan bagian pembukaan yang mengajak untuk memuji Tuhan. Bagian inti mazmur
puji-pujian mengungkapkan berbagai alasan mengapa Allah harus dipuji, yaitu
karya-kanya yang dilakukan Allah dalam alam, khususnya karya penciptaannya, dan
karya-kanya yang dilakukanNya dalam sejarah, teristimewanya penyelamatan yang
dianugerahkan Allah kepada umat-Nya. Bagian penutup ada kalanya mengulang bagian
pembukaan dan kadang-kadang berupa doa. Menurut temanya kelompok mazmur-mazmur ini dapat dibagikan menjadi dua macam, yaitu: Nyanyian-nyanyian Sion, Mzm 46, 48, 76, 87, yang dengan nada eskatologis meluhurkan Kota Suci, yaitu tempat kediaman Yang Mahatinggi dan tujuan para peziarah, bdk Mzm 84 dan 122; mazmur-mazmur Kerajaan Allah, khususnya Mzm 47, 93, 96-98, yang dengan gaya bahasa yang mengingatkan gaya bahasa para Nabi mengagungkan Yahwe sebagai raja dunia semesta. Oleh karena mazmur-mazmur ini memakai kata dan gambaran-gambaran yang lazim dalam melukiskan raja-raja manusiawi yang naik takhta, maka pernah ada usaha menghubungkan mazmur-mazmur tersebut dengan suatu pesta pelantikan Yahwe sebagai raja, yang konon dirayakan oleh bangsa Israel, serupa dengan pesta pelantikan dewa Marduk di Babel. Akan tetapi adanya perayaan semacam itu di Israel merupakan hipotesa yang tidak terbukti. 2.
Doa-doa (permohonan)
atau mazmur-mazmur penderitaan atau juga ratapan-ratapan. Lain daripada Puji-pujian, mazmur-mazmur permohonan
itu tidak memuji kemuliaan Allah tetapi ditujukan kepadaNya. Pada umumnya bagian
pembukaan mazmur ini berupa seruan yang disusul seruan minta tolong: suatu doa
atau ucapan kepercayaan. Dalam bagian inti mazmur pendoa berusaha menggerakkan
hati Allah dengan melukiskan di hadapanNya keadaan gawat si pendoa. Dalam
menggambarkan keadaan itu dipakailah macam-macam kiasan yang sudah lazim,
sehingga jarang dapat ditentukan keadaan historis dan konkrit manakah yang
diucapkan di dalamnya doa itu. Dikatakan tentang air, jurang, jerat-jerat maut
atau jerat-jerat dunia orang mati (syeol), musuh-musuh atau binatang-binatang (anjing,
singa, banteng dan sebagainya) yang mengancam atau menerkam; dikatakan pula
mengenai tulang-tulang yang menjadi kering dan jantung yang berdebar-debar
ketakutan. Ada mazmur di mana si pendoa menegaskan bahwa ia seorang benar, Mzm
7, 17, 26, dan juga yang berupa pengakuan dosa, Mzm 51 dan mazmur-mazmur tobat
yang lain. Kepada Allah diingatkan karunia-karunia yang dahulu dianugerahkanNya
atau Ia ditegor karena rupa-rupanya Ia lupa dan tidak hadir, misalnya Mzm 9-10,
22, 44. Tetapi pemazmur juga dapat menegaskan bahwa ia tetap percaya dan
mengharap, Mzm 3, 5, 42-43, 55-5 7, 63, 130, dll. Ada kalanya mazmur-mazmur
permohonan itu hanya berupa suatu seruan kepercayaan dan pengharapan. Mzm 4, 11,
16, 23, 62, 91, 121, 125, 131. sering kali permohonan berakhir, ada kalanya
tiba-tiba dengan mencetuskan keyakinan bahwa doa sudah dikabulkan dan dengan
ucapan syukur, misalnya Mzm 6, 22, 69, 140. Mazmur-mazmur
permohonan tersebut dapat berupa doa bersama atau doa perorangan. a).
Doa bersama misalnya Mzm
12, 44, 60, 74, 79, 80, 83, 85, 106, 123, 129, 137. Doa-doa ini dicetuskan
dengan alasan suatu bencana nasional, misalnya dikalahkannya atau dibinasakannya
umat dalam perang, atau dengan alasan suatu keperluan bersama. Maka umat memohon
keselamatan atau pemulihan bangsa. Setidak-tidaknya Mzm 74 dan 137, yang serupa
dengan Ratapan yang dikatakan karangan nabi Yeremia, mencerminkan keadaan yang
disebabkan oleh kehancuran kota Yerusalem pada tahun 587. Mzm 85 mengucapkan
rasa hati kaum buangan yang sudah kembali ke tanah airnya. Mzm 106 berupa suatu
pengakuan dosa umat. b).
Doa perorangan misalnya
Mzm 3, 5-7, 13, 17, 22, 25, 26, 28, 31, 35, 38, 42-43, 51, 54-57, 59, 63, 64,
69-71, 77, 86. 102, 120, 130, 140-143. Jumlah mazmur ini cukup besar dan pokok
isinya bermacam-macam, seperti bahaya maut, penganiayaan, pembuangan, usia
lanjut, dan khususnya orang mohon dibebaskan dari penyakit, fitnah dan dosa.
Sukar memastikan siapa sesungguhnya musuh-musuh, yaitu “mereka yang berbuat
jahat”, yang menjadi sebab keluhan atau kemarahan si pendoa. Tetapi
bagaimanapun juga musuh-musuh itu bukanlah – seperti dikatakan sementara ahli
– tukang-tukang sihir yang guna-gunanya mau ditangkis oleh mazmur-mazmur itu.
Demikian pula mazmur-mazmur itu bukanlah doa bersama, seolah-olah “aku” yang
angkat bicara di dalamnya sesungguhnya suatu kelompok dan bukan orang perorangan,
sebagaimana belakangan ini dikemukakan sementara ahli. Dan “aku” yang angkat
bicara dalam mazmur-mazmur itu bukan pula raja yang berbicara atas nama seluruh
rakyatnya, sebagaimana juga sudah diketengahkan oleh sementara ahli belum lama
berselang. Di satu pihak doa-doa itu bernada terlampau pribadi dan di lain pihak
sekali-kali tidak menyinggung diri lain atau keadaan pribadinya, sehingga
hipotesa tersebut tidak dapat diterima. Memang benar bahwa sejumlah doa pribadi
kemudian disesuaikan dengan keadaan rakyat secara menyeluruh dan dipakai sebagai
ratapan umat, misalnya Mz 22, 28, 59, 69, 71, 102. Benar pula bahwa ada
mazmur-mazmur rajawi, sebagaimana akan dijelaskan nanti. Benar juga bahwa semua
doa perorangan itu akhirnya dipakai oleh umat bersama (karena itulah
mazmur-mazmur itu tercantum dalam kitab Mazmur). Tetapi aslinya mazmur-mazmur
itu diciptakan bagi salah seorang, secara perorangan, atau oleh orang tertentu
sesuai dengan salah satu keperluan tertentu dan khusus. Mazmur-mazmur itu berupa
seruan hati dan ungkapan kepercayaan pribadi. Memanglah mazmur-mazmur itu tidak
pernah berupa ratapan melulu, melainkan seruan kepercayaan kepada Allah dalam
keadaan gawat. 3. Ucapan syukur.
Sudah dikatakan di atas bahwa doa permohonan dapat berakhir dengan suatu ucapan syukur kepada Allah yang telah mengabulkan doa. Adapun ucapan syukur itu dapat menjadi pokok inti lagu, seperti halnya dengan mazmur-mazmur yang berupa ucapan syukur. Jumlah mazmur-mazmur itu cukup besar juga, misalnya Mzm 18, 21, 30, 33, 34, 40. 65-68, 92, 116, 118, 124, 129, 138, 144. Jaranglah mazmur-mazmur ini mendapat sifat kolektip. Kalau demikian, maka umat mengucap syukur atas pembebasan dari bahaya, atas panenan yang melimpah, atas karunia-karunia yang dilimpahkan kepada raja. Lebih sering mazmur-mazmur itu bersifat perorangan. Setelah si pendoa melukiskan kemalangan yang dideritanya dan bagaimana doanya dikabulkan, maka ía merumuskan rasa terima-kasihnya dan mengajak kaum beriman, supaya turut memuji Allah. Bagian terakhir ini kerap kali memberi kesempatan untuk menyisipkan unsur-unsur yang mau membina akhlak para penyerta. Ditinjau dari segi sastra susunan ucapan syukur itu berdekatan dengan susunan mazmur-mazmur puji-pujian. 4.
Jenis mazmur yang menyimpang dan jenis campuran Perbedaan antara jenis-jenis mazmur yang disebut di
atas sesungguhnya kurang tegas. Karenanya terjadi bahwa umpamanya ratapan
melanjutkan suatu ucapan kepercayaan, Mzm 27, 31, dan ada ratapan yang disusul
nyanyian syukur, Mzm 28, 57. Mzm 89 mula-mula berupa suatu lagu puji-pujian,
tetapi kemudian mazmur itu menjadi suatu firman Allah dan berakhir dengan
ratapan. Mzm 119 yang panjang tentu saja memuji-muji hukum Taurat, tetapi
sekaligus berupa ratapan perorangan dan membentangkan ajaran mengenai hikmat.
Memang beberapa unsur yang pada dirinya tidak sesuai dengan jenis sastra lirik
berhasil menyusup ke dalam Kitab Mazmur. Nanti akan dikatakan barang sedikit
mengenai hal-hal yang berdekatan dengan sastra kebijaksanaan dan di atas sudah
dikatakan bahwa unsur semacam itu ditemukan dalam mazmur-mazmur yang berupa
ucapan syukur. Unsur-unsur yang berdekatan dengan sastra kebijaksanaan dapat
menjadi begitu menyolok, sehingga orang dengan kurang tepat sampai berkata
tentang Mazmur-mazmur didaktik. Memang Mzm 1, 112 dan 127 merupakan karya murni
dari kalangan para bijaksana. Tetapi ada mazmur lain serupa yang tetap memiliki
ciri-ciri dari jenis lirik: Mzm 25 berdekatan dengan ratapan, Mzm 32, 37, 73
berdekatan dengan ucapan syukur, dan lain-lainnya. Dalam mazmur-mazmur lain diketemukan firman-firman
Allah dan bahkan ada yang berupa firman Allah yang diuraikan lebih lanjut.
misalnya Mzm 2, 50, 75, 81, 82, 85, 95, 110. Belakangan ini ada sementara ahli
yang berpendapat bahwa mazmur-mazmur semacam itu sungguh-sungguh firman Allah
yang dibawakan para imam selama berlangsungnya upacara-upacara dalam Bait Allah.
Ahli lain berpendapat bahwa mazmur-mazmur itu hanya memanfaatkan gaya bahasa
para nabi, tetapi sebenarnya tidak bersangkutan dengan ibadat. Masalahnya tetap
dipersoalkan. Tetapi di satu pihak orang harus mengakui bahwa kitab Mazmur
berdekatan dengan sastra kenabian, tidak hanya sehubungan dengan firman-firman
Tuhan, tetapi juga sehubungan dengan bermacam-macam pokok lain, misalnya
penampakan Allah, kiasan “cawan” yang melambangkan murka Allah, kiasan “api”,
“kui”, dan sebagainya. Di lain pihak juga perlu diakui bahwa ada hubungan
erat antara Kitab Mazmur dan ibadat dalam Bait Allah, sebagaimana nanti akan
diuraikan. Mazmur-mazmur
rajawi Terserak-serak
dalam Kitab Mazmur dan termasuk bermacam-macam jenis ada sejumlah mazmur yang
bersangkutan dengan raja. Ada firman-firman Allah mengenai raja, Mzm 2 dan 110,
ada doa untuk raja, Mzm 20, 61, 72, ada sebuah doa syukur untuk raja, Mzm 21,
ada doa yang diucapkan raja, Mzm 18, 28, 63, 101, sebuah nyanyian yang
mengiringi perarakan raja, Mzm 132, sebuah lagu puji-pujian yang dibawakan raja,
Mzm 144, dan bahkan ada sebuah nyanyian yang diciptakan untuk memeriahkan
pernikahan di istana raja, Mzm 45. Ini semua agaknya mazmur-mazmur yang tua,
yang berasal dari zaman para raja dan yang gaya bahasanya sesuai dengan gaya
bahasa yang lazim dipakai dalam upacara di istana. Mazmur-mazmur itu mengenai
raja yang sezaman; Mzm 2, 72 serta Mzm 110 barangkali mazmur-mazmur pelantikan
raja. Raja dikatakan anak angkat Allah, kerajaannya tidak berkesudahan dan
kekuasaannya meluas sampai ke ujung-ujung bumi. Raja akan memenangkan keadilan
dan kedamaian dan menjadi penyelamat rakyatnya. Ungkapan-ungkapan semacam itu
nampaknya berlebih-lebihan, tetapi sebenarnya ungkapan-ungkapan itu sesuai
dengan apa yang oleh bangsa-bangsa tetangga dikatakan tentang raja mereka dan
yang oleh bangsa Israel diharapkan sehubungan dengan raja mereka juga. Akan tetapi raja Israel menjadi orang urapan Tuhan yang menjadikan dia wazirNya di bumi. Raja di Israel adalah orang yang diurapi Yahwe (Ibraninya: Mesyiah). Hubungan keagamaan antara Allah dan raja itulah yang menentukan pengertian bangsa Israel terhadap rajanya dan membedakan pengertian itu dengan pengertian di negeri Mesir dan Mesopotamia walaupun cara bicara tentang raja di Israel serupa dengan cara bicara di Mesir dan Mesopotamia. Pengharapan akan “Mesias-Raja” yang muncul dengan nubuat Natan, 2 Sam 7, menjadi terungkap dalam tafsiran atas nubuat itu sebagaimana diberikan dalam Mzm 89 dan 132, dan khususnya dalam Mzm 2, 72 dan 110. Mazmur-mazmur itu memupuk pada rakyat pengharapan berdasarkan janji-janji yang diberikan Allah kepada wangsa Daud. Apabila pengharapan akan Mesias diartikan sebagai penantian akan seorang raja di masa mendatang, akan raja terakhir yang akan membawa keselamatan definitip dan menegakkan kerajaan Allah di bumi, maka tidak ada satupun dari mazmur-mazmur tersebut yang sungguh-sungguh “mesian”. Akan tetapi beberapa dari nyanyian rajawi yang tua itu terus dipakai, kendati ada tanda lenyapnya kerajaan di Israel. Nyanyian-nyanyian itu dimasukkan ke dalam kumpulan mazmur resmi, walaupun barangkali disesuaikan dan disadur. Dengan jalan itu mazmur-mazmur itu tetap memupuk pengharapan akan seorang Mesias, keturunan Daud. Menjelang tarikh masehi pengharapan itu hangat sekali pada rakyat Israel; dan orang-orang Kristen berpendapat bahwa semua itu digenapi dalam diri Yesus Kristus (Kristus berarti: orang urapan atau yang diurapi, Mesias). Khususnya Mzm 110 paling sering dikutip dalam Perjanjian Baru. Nyanyian pernikahan, Mzm 45, dipakai untuk mengungkapkan persatuan Mesias dengan Israel baru, sejalan dengan kiasan perkawinan yang digemari para nabi. Mzm 45 dalam Ibr 1:8 langsung diterapkan pada Kristus. Dengan meneruskan pandangan semacam itu Perjanjian Baru dan tradisi Kristen selanjutnya masih menerapkan pada Kristus mazmur-mazmur lain yang sebenarnya bukan mazmur-mazmur rajawi, tetapi yang terlebih mengungkapkan perasaan hati Mesias, Orang Benar yang unggul. Misalnya Mzm 16 dan 22 dan bagian-bagian banyak mazmur lain, khususnya Mzm 8, 35, 40, 41, 68, 69, 97, 102, 118, 119, diterapkan pada Kristus. Begitu pula mazmur-mazmur yang mengenai Yahwe sebagai Raja diterapkan pada Kristus sebagai raja. Penerapan semacam itu kiranya bukan lagi arti dan makna mazmur-mazmur sendiri. Namun penerapan itu boleh dibenarkan juga, sebab segenap pengharapan yang menjiwai Kitab Mazmur akhirnya tidak sepenuh-penuhnya terwujud, kecuali melalui kedatangan Anak Allah di bumi. Hubungan
mazmur-mazmur dengan ibadat Kitab Mazmur tidak lain kecuali kumpulan
nyanyian-nyanyian keagamaan Israel. Kita tahu juga bahwa di antara petugas Bait
Allah ada juga para penyanyi. Tentu baru sehabis masa pembuangan
penyanyi-penyanyi secara langsung disebut. Namun pasti juga bahwa mereka sejak
awal mula termasuk kalangan para petugas Bait Allah. Orang merayakan perayaan
Yahwe dengan tarian dan nyanyian, Hak 21:19-21; 2 Sam 6:5,16. Menurut Am 5,23
maka korban-korban diiringi nyanyian. Sejak raja Daud di Istana ada biduanita, 2
Sam 19:35. Menurut Tawarikh raja Sanherib maka di masa raja Hizkia Bait Allah
yang dibangun Salomo memang mempunyai penyanyi-penyanyinya, sama seperti semua
tempat suci di dunia Timur memiliki penyanyi-penyanyinya. Ada sejumlah mazmur
yang dipertalikan dengan Asaf, Bani Korah, Heman dan Etan (atau Yedutun).
Menurut kitab Tawarikh semua tokoh itu termasuk kalangan para penyanyi Bait
Allah di masa sebelum pembuangan. Ada sebuah tradisi yang menyatakan bahwa
banyak mazmur adalah karya Daud. Dan tradisi yang sama menyatakan juga bahwa
Daudlah yang mengorganisasikan ibadat Bait Allah, termasuk para penyanyi, 1 Taw
25. Tradisi itu agak sejalan dengan keterangan-keterangan yang tua sekali
mengenai Daud yang menari dan menyanyi di hadapan Yahwe, 2 Sam 6:5,16. Pada sejumlah besar mazmur dibubuhkan
keterangan-keterangan mengenai musiknya dan pemakaian liturginya. Ada keterangan
mengenai upacara yang dibarengi dengan mazmur yang bersangkutan, Mzm 20, 26, 27,
66, 81, 107, 116, 134, 135. Mazmur-mazmur tersebut dan lain mazmur, Mzm 48, 65,
95, 96, 118, dinyanyikan di pelataran Bait Allah. “Nyanyian-nyanyian ziarah”
(begitu kira-kira dapat diterjemahkan istilah Ibrani yang tidak jelas artinya) ,
yaitu Mzm 120-134, dan juga Mzm 84 tidak lain kecuali lagu-lagu yang dipakai
waktu orang berziarah ke Yerusalem. Contoh-contoh yang paling jelas itu
secukupnya membuktikan bahwa banyak mazmur, termasuk yang bersifat perorangan,
diciptakan untuk ibadat dalam Bait Allah. Mazmur-mazmur lain barangkali aslinya
tidak dikarang untuk keperluan itu, tetapi kemudian juga disesuaikan, misalnya
dengan menambahkan permohonan berkat, Mzm 125, 128, 129. Maka hubungan banyak mazmur dengan ibadat dan corak
liturgis Kitab Mazmur secara menyeluruh tidak dapat disangkal. Tetapi pada
umumnya tidak ada petunjuk-petunjuk konkrit untuk dapat menentukan dalam upacana
atau pada hari raya manakah mazmur-mazmur tertentu dipakai. Judul Ibrani pada
Mzm 92 menetapkan pemakaiannya pada hari Sabat. Judul-judul Yunani pada Mzm 24,
48, 93, 94, menentukan bahwa lagu-lagu itu dipakaipada hari-hari pekan yang
lain. Mzm 30 dipakai pada hari raya Pentahbisan Bait Allah – begitu dikatakan
naskah Ibrani, sedangkan menurut naskah Yunani Mzm 29 dinyanyikan pada perayaan
Pondok Daun. Petunjuk-petunjuk itu kiranya tidaklah asli. Tetapi sama seperti
penetapan-penetapan terperinci yang dibuat di zaman Yahudi, petunjuk-petunjuk
tersebut menjadi bukti bahwa Kitab Mazmur berperan sebagai Kitab nyanyian guna
Bait Allah dan Rumah-rumah ibadat Yahudi sebelum menjadi kitab nyanyian bagi
Gereja Kristen. Pengarang-pengarang
dan masa dikarangnya mazmur-mazmur Judul-judul yang dibubuhkan pada banyak mazmur
mempertalikan 73 buah dengan Daud, 12 buah dengan Asaf, 11 buah dengan Bani
Korah, dan satu buah dengan Heman, Etan (atau Yedutun), Musa dan Salomo. 35
mazmur tidak dipertalikan dengan tokoh tertentu. Judul-judul dalam terjemahan
Yunani tidak selalu sama dengan yang terdapat dalam naskah Ibrani. Menurut
terjemahan Yunani, maka 82 mazmur adalah karya raja Daud. Terjemahan Siria masih
lebih berbeda. Aslinya judul-judul tersebut barangkali tidak
bermaksud menyatakan siapa pengarang mazmur yang bersangkutan. Ungkapan Ibrani
yang dipakai hanya mengatakan bahwa ada salah satu hubungan antara mazmur itu
dengan tokoh yang disebut namanya, entahlah karena isi mazmur sesuai dengan
tokoh itu, entah karena mazmur itu termasuk sebuah kumpulan mazmur yang
diedarkan dengan memakai nama tokoh itu. “Mazmur-mazmur Bani Korah” ialah
mazmur-mazmur yang termasuk kumpulan mazmur yang lazim dipakai oleh
kelompok-kelompok penyanyi itu. Sejumlah besar mazmur diberi catatan: “Untuk
pemimpin biduan”, Mzm 4, 5. 6, 8. dan lain-lainnya. Mazmur-mazmur, ini
termasuk kumpulan yang dinyanyikun oleh paduan suara Bait Allah yang dipimpin
oleh seorang pembimbing. Ada juga sekumpulan “mazmur Asaf” dan sekumpulan
“Mazmur Daud”. Di kemudian hari judul-judul yang aslinya hanya menyatakan
termasuk kumpulan manakah mazmur tertentu, dimengerti seolah-olah menyatakan
siapa pengarangnya. Maka beberapa “mazmur Daud” diberi catatan pendahuluan
yang menentukan dalam keadaan hidup manakah mazmur itu diciptakan oleh raja Daud, Mzm 3, 7, 18, 34, 51, 52, 54, dan
lain-lainnya. Akhirnya tradisi tidak
hanya menganggap Daud sebagai pencipta mazmur-mazmur yang dibubuhi dengan
namanya, tetapi sebagai pencipta seluruh kitab Mazinur. Tafsiran yang kurang tepat tersebut janganlah membuat
kita meremehkan suatu kesaksian tua dan berharga yang diberikan oleh judul-judul
mazmur itu. Mungkin sekali mazmur-mazmur Asaf dan Bani Korah benar-benar
diciptakan oleh para penyanyi Bait Allah. Sejalan dengan itu juga kumpulan
mazmur-mazmur Daud benar-benar bersangkutan dengan raja itu, entahlah bagaimana.
Mengingat keterangan-keterangan yang tercantum dalam kitab-kitab sejarah
mengenai bakat musik raja Daud, 1 Sam 16:16-18; bdk Am 6:5, mengenai bakat
puitisnya, 2 Sam 1:19-27; 3:33-34, dan tentang citarasanya di bidang peribadatan, maka perlu diterima bahwa dalam kitab Mazmur benar-benar tercantum
nyanyian-nyanyian yang diciptakan oleh raja Daud. Memang Mzm 18 tidak lain dari
suatu saduran sebuah nyanyian yang menurut 2 Sam 22 dikarang oleh Daud. Sudah
barang tentu tidak semua mazmur yang berasal darin kumpulan Daud juga diciptakan
oleh raja itu. Tetapi kumpulan itu kiranya tidak mungkin disusun, kalau aslinya
tidak ada suatu kumpulan kecil yang memuat mazmur-mazmur ciptaan Daud sendiri.
Hanya tak mungkin lagi menentukan mazmur-Mazmur manakah termasuk ke dalam
kumpulan asli itu. Sudah dikatakan di atas, bahwa judul-judul yang terdapat
dalam naskah-naskah Ibrani tidak menentukan bagi kita. Jika pengarang pengarang
Perjanjian Baru mengutip salah satu mazmur sebagai mazmur Daud, maka mereka
hanya menyesuaikan diri dengan pendapat umum di zamannya. Tetapi
keterangan-keterangan semacam itu jangan begitu saja disingkirkan. Raja Daud
sebagai “pemazmur yang disenangi di Israel”, 2 Sam 23:1, selalu perlu
dianggap sebagai seorang tokoh yang berperan besar dalam asal-usul lirik
keagamaan umat terpilih. Dorongan yang dilancarkan raja Daud kemudian diteruskan. Kitab Mazmur sesungguhnya menampung hasil karya puitis yang berlangsung beberapa abad. Setelah sementara ahli mengemukakan pendapat bahwa kebanyakan mazmur dikarang di zaman belakangan, di masa sesudah pembuangan dan kemudian dari itu, maka sekarang ahli-ahli itu lama-kelamaan mengambil sikap yang lebih bijaksana. Cukup banyak mazmur berasal dari zaman para raja, teristimewa “mazmur-mazmur rajawi”. Hanya isi mazmur-mazmur ini sangat umum dan tak terperinci, sehingga tidak dapat ditanggalkan lebih jauh dari tanggal yang kadang-kadang diusulkan sebenarnya oleh beberapa hipotesa melulu. Sebaliknya, “mazmur-mazmur kerajaan Yahwe” yang berbekas unsur-unsur dari mazmur-mazmur lain dan dari bagian kedua kitab Yesaya, nyatanya dikarang selarna masa pembuangan. Demikianpun halnya dengan mazmur-mazmur, misalnya Mzm 137, yang berkata tentang kemusnahan kota Yerusalem dan pembuangan. Kembalinya kaum buangan ke tanah airnya dikidungkan oleh Mzm 126. Zaman yang menyusul masa pembuangan nampaknya subur sekali dalam menciptakan mazmur. Memang di zaman itu ibadat sangat berkembang di Bait Allah yang dibangun kembali. Di masa itu kedudukan para penyanyi Bait Allah meningkat, sehingga disamakan dengan kaum Lewi. Para bijaksana juga memanfaatkan jenis sastra “mazmur” untuk menyebarluaskan ajarannya, misalnya Bin Sirakh. Perlukah orang juga menerima bahwa di zaman para Makabe masih diciptakan mazmur-mazmur yang dicantumkan dalam kitab mazmur? Masalah ini khususnya menyangkut Mzm 44, 74, 83. Hanya bukti-bukti yang diajukan tidak cukup meyakinkan untuk menanggalkan mazmur-mazmur tersebut di zaman para Makabe. Terbentuknya
kitab Mazmur Kitab Mazmur seperti yang kita miliki sekarang
merupakan hasil suatu usaha yang berlangsung lama. Mula-mula ada beberapa
kumpulan kecil. Mzm 72 (yang dikatakan karangan Salomo) ditutup dengan catatan
ini: “Sekianlah doa-doa Daud bin Isai”. Namun demikian dalam kitab Mazmur
sebelumnya sudah tercantum sejumlah mazmur yang tidak dipertalikan dengan Daud,
dan kemudian masih juga tercantum beberapa mazmur yang dihubungkan dengan Daud.
Sebenarnya ada dua kelompok “mazmur-mazmur Daud”, Mzm 3-41 dan 51-52;
masing-masing mazmur dalam kedua kelompok itu dipertalikan dengan Daud, kecuali
yang paling akhir (Salomo) dan tiga mazmur yang tidak dihubungkan dengan nama
orang tententu. Masih ada kumpulan-kumpulan mazmur yang serupa: kumpulan mazmur
Asaf, Mzm 50 dan 73-83, kumpulan mazmur Bani Korah, 42-49 dan 84,85,87,88,
kumpulan nyanyian ziarah Mzm 120-134, kumpulan mazmur yang dibubuhi dengan kata
“Haleluya” (karena itu disebut “Hallel”), 105-107, 111-118, 135, 136,
146-150. Kumpulan-kumpulan kecil tersebut mula-mula beredar tersendiri,
sebagaimana dibuktikan kenyataan bahwa beberapa mazmur (dengan perbedaan
kecil-kecil) sampai dua kali tercantum dalam kitab Mazmur, misalnya Mzm 14 dan
Mzm 53; Mzm 40:14-18 dan Mzm 70; Mzm 57:8-12 bersama Mzm 60:7-14 dan Mzm 108. Pekerjaan pengumpul-pengumpul mazmur-mazmur terasa
juga dalam penggunaan nama-nama Allah. Mzm 1-41 hanya menggunakan nama
“Yahwe” (ialah kumpulan mazmur-mazmur Daud yang pentama). Mzm 42-89 (yang
merangkum kumpulan mazmur-mazmur Daud yang kedua, sebagian dari mazmur-mazmur
Bani Korah dan kumpulan mazmur-mazmur Asaf) hanya memakai nama “Elohim”,
sedangkan Mzm 90-15 kembali memakai nama “Yahwe”, kecuali Mzm 108 yang
menggabungkan dua Mzm yang menggunakan nama “Elohim”, yakni Mzm 57 dan 60.
Kumpulan mazmur-mazmur kedua yang memakai nama “Yahwe” itu kiranya kumpulan
yang paling muda dalam kitab Mazmur, hal mana tidak mengatakan apa-apa mengenai
masing-masing mazmur. Kebanyakan mazmur itu tidak bernama dan di dalamnya
terdapat banyak pengulangan dan pinjaman dari mazmur-mazmur lain. Dalam tahap perkembangan yang terakhir kitab Mazmur
dibagi menjadi “lima buku”. Ini agaknya untuk meniru “Lima Buku Musa” (Pentateukh). Kelima “buku” itu dipisahkan satu sama lain dengan
disisipkannya suatu doksologi yang menutup masing-masing buku: Mzm 41,14;
72:18-20; 89:52; 106:48. Mzm 150 berperan sebagai doksologi penutup kitab,
sedangkan Mzm 1 nampaknya sebagai kata pembukaan kitab Mazmur. Bentuk kitab Mazmur resmi yang merangkum 150 Mazmur
baru di zaman belakangan menjadi lazim dan belum juga umum diterima. Memang
kitab Mazmur dalam terjemahan Yunani memuat 151 buah Mazmur dan terjemahan Siria
bahkan 155 buah. Dalam naskah-naskah jemaat di Qumran ditemukan Mzm 151
tergabung dengan mazmur lain dalam bahasa Ibrani, sehingga Mzm 151 dalam
terjemahan Yunani ternyata aslinya sebuah mazmur Ibrani. Naskah-naskah jemaat di
Qumran juga menampilkan dalam bahasa Ibrani dua buah dan mazmur-mazmur tambahan
dalam terjemahan Siria. Selebihnya naskah-naskah jemaat di Qumran memuat dua
kumpulan mazmur yang serba
baru. Kumpulan-kumpulan itu disisipkan ke dalam kitab Mazmur sebagaimana yang
dipakai jemaat itu. Urutan mazmur-mazmur dalam kitab Mazmur jemaat di Qumran
juga berbeda dengan urutannya dalam kitab Mazmur yang tencantum dalam Alkitab.
Maka jelaslah bahwa kitab Mazmur hingga zaman masehi terus terbuka untuk
menampung mazmur-mazmur lain lagi, setidak-tidaknya di beberapa kalangan orang
Yahudi. Nilai
rohani kitab Mazmur Oleh karena kekayaan rohani kitab Mazmur kentara, maka tak perlu dikatakan banyak tentangnya. Mazmur-mazmur menjadi doa di masa perjanjian lama. Allah sendiri mencetuskan perasaan hati yang seharusnya dimiliki anak-anakNya terhadap Bapa mereka. Ia sendiripun menginspirasikan kata-kata yang seharusnya mereka pakai dalam menghadap Allah. Mazmur-mazmur itu diucapkan oleh Tuhan Yesus sendiri, oleh Perawan Maria, para rasul dan para martir. Dengan tidak merubah apa-apa Gereja Kristen telah menjadikan mazmur-mazmur itu sebagai doa resminya. Memang seruan-seruan berupa pujian, permohonan atau ucapan syukur itu dicetuskan para pemazmur dalam keadaan tertentu di zamannya dan berdasarkan pengalaman pribadinya itu. Tetapi tanpa dirubah sedikitpun seruan-seruan itu mempunyai makna umum. Sebab mazmur-mazmur itu mengungkapkan sikap hati yang seharusnya ada pada tiap-tiap manusia yang menghadap Allah. Memang kata-kata tidak dirubah, tetapi makna mazmur-mazmur itu sangat diperkaya. Di masa perjanjian baru orang beriman bersyukur dan memuji Allah, yang sudah menyatakan rahasia hidupNya sendiri, yang melalui darah AnakNya menebus manusia dan mencurahkan Roh KudusNya. Dalam pemakaian liturgis tiap-tiap mazmur diakhiri dengan doa pujian yang tertuju kepada Bapa, Putera dan Roh Kudus. Doa-doa permohonan yang tua itu menjadi lebih hangat, semenjak Perjamuan Malam. Salib dan Kebangkitan mengajar manusia mengenai kasih Allah yang tak terhingga kepada manusia, mengenai beratnya dosa yang membelenggu semua orang, mengenai kemuliaan yang dijanjikan kepada orang benar. Memang pengharapan yang tercetus dalam nyanyian-nyanyian para pemazmur, sekarang terwujud. Sebab Mesias sudah datang dan meraja. Semua bangsa diajak untuk memuji Dia.
|