|
KISAH PARA RASUL Injil ketiga dan Kisah para Rasul aslinya merupakan
hanya satu karya saja, yang sekarang kiranya dapat diberi judul: “Sejarah awal
mula agama Kristen”. Sekitar th. 150 Mas. umat kristen menghendaki keempat
injil dikumpulkan menjadi satu buah Kitab. Maka karya asli satu itu dibagikan
dan dipisahkan menjadi dua. Boleh jadi judul “Kisah Para Rasul” atau
“Kisah Beberapa Rasul” ditambahkan, sesuai dengan kelaziman dalam
kesusasteraan Ke-Yunanian di zaman itu. Terkenallah di masa itu “Kisah (Yunaninya:
perbuatan-perbuatan) Hanibal” atau “Kisah (perbuatan-perbuatan) Aleksander”
dsb. Hubungan asli antara kedua Kitab Perjanjian Baru tersebut ditampilkan oleh
prakata kedua kitab itu dan oleh persamaan sasteranya. Baik prakata Kisah Para
Rasul maupun prakata Injil ketiga ditujukan kepada seseorang yang bernama
Teofilus (bdk Luk 1:1-4 dan Kis 1:1), sedangkan prakata Kis menyebutkan injil
ketiga itu sebagai “buku yang pertama” dan melanjutkan pokok cerita injil
dengan meringkaskan kejadian-kejadian yang terakhir (penampakan-penampakan
Kristus yang telah dibangkitkan serta pengangkatanNya ke sorga), yang
digabungkan dengan sambungan cerita selanjutnya. Bahasanyapun erat-erat
menghubungkan Kis dengan Luk. Tidak hanya ciri-ciri bahasanya (perbendaharaan
kata, tata bahasa dan gaya hahasa) ditemukan dalam seluruh Kis, sehingga
merupakan sebuah kesatuan literer, tetapi juga dalam injil ketiga. Maka tidak
dapat diragukan bahwa pengarang yang sama menggubah kedua kitab tersebut. Tradisi Gereja sepakat dalam menyebutkan nama
pengarang itu sebagai Lukas. Baik
dahulu maupun sekarang belum juga dapat secara sungguh-sungguh disebutkan nama
orang lain selain dari Lukas. Sudah sekitar th. 175 Mas. scmua jemaat sependapat
dalam hal ini, sebagaimana dibuktikan oleh sebuah dokumen dari Roma yang disebut
sebagai “Kanon Muratorius”, oleh kesaksian yang diberikan dalam Prakata
Anti-Markos, dalam karya Ireneus, Klemens,
Origenes dari Aleksandria dan Tertulianus. Semua sehati dalam menyebutkan nama
Lukas sebagai pengarang kitab Kis. Pendapat tersebut dikuatkan oleh
petunjuk-petunjuk yang ditemukan dalam kitab Kis dan Luk sendiri. Ternyata
pengarangnya seorang Kristen dari zaman para rasul, seorang Yahudi yang
berkebudayaan ke-Yunanian atau bahkan seorang Yunani berpendidikan, yang
mengetahui cukup banyak mengenai ilmu kedokteran dan mengenal Kitab Suci dalam
terjemahan Yunaninya, yakni Septuaginta serta adat Yahudi. Pengarang terutama
nampak sebagai teman seperjalanan Paulus. Hal ini dibuktikan oleh cerita-cerita
yang termuat dalam bagian kedua Kis. Di sana pengarang menggunakan kata ganti
diri pertama jamak (kami), sehingga kelihatan ikut serta dalam hal ihwal yang
diceritakannya. Kesemuanya itu hanya sesuai dengan Lukas dari antara semua teman
seperjalanan Paulus: menurut tradisi lama Lukas adalah seorang Siria dari kota
Antiokhia, seorang tabib bekas kafir (Kol 4:10-14); diperkenalkan oleh Paulus
sebagai seorang teman yang karib yang menyertainya selama kedua penahanannya di
Roma (Kol 4:14; Flm 24; 2 Tim 4:11). Lukas kiranya menemani Paulus dalam
perjalanannya yang kedua (Kis 16:10 dst) dan yang ketiga (Kis 20:6 dst;
barangkali juga 2 Kor 8:18); kalau Lukas tidak turut disebutkan dalam
daftar-daftar nama, seperti yang termuat dalam Kis 20:4, maka sebabnya kiranya
ialah: Lukas sendirilah yang menuliskannya. Dalam tradisi lama tidak ditemukan petunjuk-petunjuk
pasti sehubungan dengan waktu dan tempat Lukas menuliskan karyanya (di negeri
Yunani selatan setelah Paulus meninggal? di kota Roma, sebelum perkara Paulus
diselesaikan oleh pengadilan?). Maka kita harus bersandar pada isi karya itu
sendiri. Karya Lukas berakhir dengan penahanan Paulus di Roma tahun 61-63.
Sehubungan dengan itu dalam Kis 28:30+ disebutkan jangka waktu dua tahun. Ini
merupakan jangka waktu yang ditentukan oleh hukum, sehingga habis waktu itu
sebuah perkara pengadilan dihentikan, bila tidak ada sesuatu bukti yang
mendukung tuduhan yang diajukan. Maka boleh jadi bagian Kis ini ditulis setelah
Paulus dibebaskan dalam th. 63. Ini rupanya harus diterima atas dasar
pertimbangan sebagai berikut: umumnya disetujui bahwa injil Mrk dikarang sekitar
tahun 64; Injil Lukas apa lagi Kis pasti dikarang sesudah Mrk; maka haruslah Luk
dan Kis dikarang sesudah tahun 64. Ada sejumlah ahli yang mengemukakan tahun
80-100 sebagai waktu Luk dan Kis dikarang. Hal ini memanglah tidak mustahil juga.
Hanya sudah dikatakan bahwa tidak ada petunjuk pasti yang memaksa kita menunda
waktu dituliskannya Luk sampai sesudah tahun 70 Mas. Dan hal yang sama harus
dikatakan sehubungan dengan Kis. Tetapi menentukan waktu tepat merupakan hal yang kurang penting. Sebab nilai utama Kis terletak dalam kenyataan bahwa kitab ini dikarang oleh seseorang yang dengan mata kepala sendiri menyaksikan sebagian besar dari peristiwa yang diceritakannya: sehubungan dengan peristiwa-peristiwa yang tidak disaksikannya sendiri, pengarang menimba dari sumber-sumber lain yang melimpah. Lukas dengan teliti mengumpulkan bahan yang melimpah dari berbagai sumber yang cukup luas dan terperinci. Ini sudah dinyatakannya dalam prakata untuk seluruh karyanya (Luk 1:1-4). Penyelidikan karyanya hanya meneguhkan keterangan Lukas itu. Meskipun Lukas dengan saksama mengolah bahannya, hingga di mana-mana nampak kepribadiannya sendiri dan karyanya sungguh sebuah kesatuan, juga ditinjau dan segi sastra, namun toh penggunaan sumber-sumber (tertulis) dengan mudah dapat ditunjuk. Ajaran yang disajikan berubah-ubah sesuai dengan situasi-situasi kongkrit dan kadang-kadang memberikan kesan ketuaannya. Kecuali itu bahasa sendiri berubah-ubah: ada bahasa Yunani yang baik sekali; yakni bilamana Lukas sendiri menulis hanya bergantung pada dirinya sendiri atau mengambil bahannya dari buku catatannya sendiri mengenai perjalanannya; tetapi bahasa Yunaninya menjadi berbau bahasa Semit, kurang lancar dan bahkan salah, bila Lukas menceritakan tentang awal mula jemaat di Yerusalem. Boleh jadi dalam hal ini Lukas dengan sengaja meniru bahasa suci dari Septuaginta, tetapi lebih sering ia mau menghormati berita-berita yang disampaikan kepadanya dalam bahasa Aram, sehingga sesedikit mungkin merubahnya. Ini jelas nampak dalam injil Lukas kalau dibandingkan dengan sumber-sumber yang dipergunakan, yakni injil Markus, dan sumber-sumber yang dipakai baik oleh Lukas maupun oleh Matius. Yang sama kiranya terjadi dalam Kis, meskipun di sini orang tidak dapat membandingkan tulisan Lukas dengan sumber-sumbernya. Namun demikian orang sudah berusaha merekonstruksikan sumber-sumber Kis. Sementara ahli membayangkan sebuah teks menyeluruh dalam bahasa Aram, atas dasar penyelidikan seluruh bagian pertama Kis (1-15:35). Hipotesa ini terlalu kaku, oleh karena tidak memperhatikan kerja Lukas sendiri dalam mengolah sumber-sumbernya, sebagai yang nampak dalam bab-bab Kis tersebut. Sumber-sumber Lukas sebenarnya bermacam-macam dan berkeping-keping. Bahkan tidak pasti juga, kalau-kalau sumber-sumber itu berupa tulisan, meskipun kadang-kadang kiranya mesti diterima. Bagaimanapun juga halnya dengan pembedaan terperinci yang selalu sukar dan tidak pasti, orang dengan mudah dapat menggali beberapa tradisi utama yang dikumpulkan Lukas. Ada sejumlah tradisi mengenai jemaat purba di kota Yerusalem (1-5), kemudian tradisi yang bercerita tentang karya beberapa tokoh khusus, seperti Petrus (9:32-11:18: 12) dan Filipus (8:4-40). Yang terakhir ini mungkin sendiri memberikan informasi kepada Lukas yang berjumpa dengan Filipus di kota Kaisarea (21:8). Jemaat di kota Antiokhia kiranya menjadi asal-usul cerita-cerita yang mengisahkan bagaimana pendirian jemaat itu disiapkan dan diwujudkan oleh gerakan orang-orang Yahudi yang berbudaya Yunani (6:1-8:3; 11:19-30; 13:1-3). Sudah barang tentu Paulus sendiri memberitahu Lukas tentang pertobatannya dan perjalanannya untuk mewartakan Injil kepada orang bukan Yahudi (9:1-30; 13:4-14:28; 15:36 dst). Sehubungan dengan perjalanan-perjalanan Paulus yang terakhir Lukas juga menggunakan catatan-catatan pribadinya. Mungkin sekali ia hanya menyalin catatan-catatan itu di bagian Kis, tempat ia berkata “kami” dan tempat paling padat ditemukan ciri-ciri bahasa yang bercirikan khas bahasa Lukas (11:28; 16:10-17; 20:5-21:18; 27:1-28:16). Bahan melimpah yang dikumpulkan itu oleh Lukas disusun dengan mahirnya menjadi kesatuan yang menderetkan macam-macam unsur yang dihubungkan dengan pertolongan semacam “pengulangan” karya ciptaan Lukas sendiri, misalnya 6:7; 9:31; 12:24 dll. Kesegaran sumbernya dan rasa hormat yang dipakai Lukas
mengolah bahannya menjamin nilai historis Kis. Sudah barang tentu usaha yang
sukar untuk menghubungkan satu sama lain unsur-unsur sumber yang bermacam-ragam
mengakibatkan, bahwa kadang-kadang apa yang terjadi kemudian ditempatkan dahulu
dan peristiwa-peristiwa yang sama diceritakan sampai dua kali atau
peristiwa-penistiwa yang aslinya tersendiri dijadikan satu. Misalnya apa yang
dikisahkan dalam bab 12 pasti terjadi sebelum Barnabas dan Paulus mengunjungi
kota Yerusalem, seperti diceritakan dalam 11:30 dan 12:25, seandainya kunjungan
itu tidak harus disamakan dengan yang diceritakan dalam bab 15. Tidak mustahil
juga bahwa “konsili di Yerusalem” (15) sesungguhnya mempersatukan dua
perdebatan tersendiri. Tetapi perubahan dan pengolahan kecil tersebut tidak
mengurangi nilai keseluruhan. Misalnya: sangat mengherankan bahwa Lukas tanpa
menggunakan surat-surat Paulus mengisahkan kegiatan Paulus dalam mewartakan
Injil begitu rupa, sehingga menurut garis-garis besarnya sesuai dengan apa yang
dikatakan Paulus sendiri, bahkan dalam suratnya kepada jemaat-jemaat di Galatia,
asal diperhatikan juga apa yang dikatakan di muka. Sehubungan dengan
peristiwa-peristiwa yang lebih dahulu memanglah kita tidak dapat
membandingkannya dengan berita-berita lain. Tetapi kejadian-kejadian yang
dikisahkan adalah wajar sekali, sedangkan Lukas ternyata mempunyai rasa honmat
yang besar terhadap sumber-sumbernya. Maka juga cerita-cerita itu boleh
dipercaya. Meskipun disusun kembali oleh Lukas, namun cerita-cerita itu
menyajikan hal-hal terperinci dan segar, yang sesuai dengan keadaan. Terutama
orang ragu-nagu mengenai wejangan-wejangan yang tercantum dalam Kis. Ada yang
mengatakan bahwa wejangan-wejangan itu adalah ciptaan Lukas sendiri, meskipun
dibawakan oleh tokoh-tokoh tertentu dalam kisahnya. Cara semacam itu sangat
lazim di antara sejarawan zaman itu. Tetapi betapa besar pun bakat Lukas.
sukarlah menerima bahwa seseorang yang berkebudayaan Yunani sesudah empat puluh
tahun masih mampu menciptakan pidato-pidato yang begitu berbau ketuaan dan
Yahudi, seperti misalnya wejangan-wejangan Petrus atau Stefanus. Tidak dapat
tidak Lukas mempunyai bahan-bahan yang sudah tersedia. Ini tidak mengherankan
sedikitpun mengingat bahwa pewartaan purba terdiri atas beberapa pokok utama
yang didukung dengan argumen-argumen yang sudah menjadi tradisionil dan yang
dengan rumusan tetap dihalalkan. Ada kumpulan ayat-ayat Kitab Suci untuk
orang-orang Yahudi; pemikinan-pemikiran filsafat populer bagi orang-orang Yunani;
dan untuk semua ada pewartaan hakiki (kerygma) mengenai Kristus, yang wafat dan
bangkit. disertai dengan ajakan untuk bertobat dan menerima baptis. Lukas
kiranya baik melalui tradisi maupun melalui pengalaman pribadi mengenal kerangka
pewartaan Kristen permulaan. Dan atas dasar ini dan dengan perasaan halusnya ia
dapat menyusunnya dalam wejangan-wejangan tersebut menjadi suatu ajaran yang
nilainya tinggi dan unggul kepentingannya. Kebenaran obyektip Kis diserang oleh pihak lain juga.
Orang mempersoalkan maksud-tujuan Kis. Pengikut-pengikut F.Ch. Baur berpendapat
bahwa Kis merupakan sebuah tulisan yang dikarang dalam abad 2 dengan maksud
memperdamaikan dua aliran yang saling bertentangan. Aliran satu ialah
pengikut-pengikut Petrus, sedangkan yang lain penganut Paulus. Hanya saja
hipotesa ini tertalu menunda waktu dituliskannya Kis. Kecuali itu hipotesa itu
berdasar pada sebuah filsafat tentang sejarah, yakni filsafat Hegel. dan
bukanlah pada penafsiran Kitab Suci. Memanglah dewasa ini hipotesa yang radikal
itu tidak mendapat pendukung lagi. Tetapi masih sering kali dikatakan bahwa Kis
sesungguhnya berupa sebuah pembelaan, sehingga pasti membengkokkan dan
memalsukan kejadian-kejadian dan kebenaran. Lukas, menurut pendapat tersebut mau
membela Paulus di hadapan para pejabat Roma untuk meyakinkan mereka bahwa Paulus
tidak berbuat salah sedikitpun terhadap negara. Ini sesungguhnya hanya satu segi
dari kitab Kis, dan orang tidak boleh menganggap sebagai maksud kurang jujur
apa-apa yang sebenarnya merupakan keyakinan tulus-ikhlas dan yang berdasar.
Memanglah Lukas menekankan bahwa pertentangan antara Paulus dan orang Yahudi
bersifat keagamaan belaka, dan iapun menonjolkan kesetiaan dan ketaatan Paulus
terhadap negara Roma serta kewibawaannya. Tetapi inipun seluruhnya sesuai dengan
kebenaran historis dan Lukas sepenuh-penuhnya berhak menarik pengajaran itu dari
kejadian-kejadian. Kecuali itu perlu diulangi lagi, bahwa maksud khusus itu
bukan seluruh maksud tujuan karya Lukas. Karya itu sekali-kali bukan sebuah
pembelaan yang ingin diajukan kepada pengadilan Roma. Maksud
utama Kis ialah mengisahkan awal mula agama kristen demi sejarah itu sendiri. Untuk meyakinkan diri tentang itu cukuplah orang
menyelidiki susunan Kis. Maka nampaklah bahwa kitab itu hanya memperlihatkan
bagaimana perkataan Yesus yang ditempatkan pada awal kisah terlaksana. Sabda
Yesus: “Kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan
Samania dan sampai ke ujung bumi” (1:8). Mula-mula kepercayaan Kristen berakar
kuat-kuat di Yerusalem, tempat jemaat pertama bertambah karunia dan jumlahnya
(1-5). Tidak lama kemudian kepercayaan itu mulai merambat, hal mana dipersiapkan
oleh semangat universalis yang menjiwai orang-orang Yahudi berbudaya Yunani yang
masuk Kristen dan oleh pengusiran mereka setelah Stefanus mati sahid (6:1 –
8:3). Iman Kristen sampai di daerah Samaria (8:4-25) dan juga di daerah di
sebetah setatan dan timur Yerusalem hingga ke pantai dan kota Kaisarea (8:26-40:
9:32 – 11:18). Dalam pada itu cerita tentang pertobatan Paulus memberitahu
kita bahwa di kota Damsyik sudah ada orang-orang Kristen dan begitu pewartaan
Injit di daerah Kilikia sudah dipersiapkan juga (9:1-30). Ulangan seperti
tercantum dalam 9:31 (yang masih menyebutkan daerah Galilea) menonjolkan
bagaimana iman Kristen meluas. Kemudian kota Antiokhialah yang menerima Kabar
Gembira (11:19-26). Selanjutnya kota itu menjadi pusat pewartaan sementara
memupuk hubungan baik dengan Yerusalem, tempat dimusyawarahkan soal-soal utama
mengenai pewartaan Injil kepada orang-orang yang bukan Yahudi (11:27-30:
15:1-35). Sebab memanglah sudah tiba saatnya Injil dibawa juga kepada mereka.
Setetah Kornelius masuk menjadi Kristen dan Petrus dipenjarakan di Yerusalem,
maka rasul itu berangkat entah ke mana (12). Selanjutnya Pauluslah yang
memainkan peranan penting dalam kisah Lukas. Sebelum konsili di Yerusalem Paulus
sudah pergi ke pulau Siprus dan ke daratan Asia Kecil (13-14). Sesudahnya Paulus
berlayar ke daerah Makedonia dan Yunani (15:36 – 18:22: 18:23 – 21:17).
Paulus selalu kembali ke Yerusalem dan penahanannya di kota itu, lalu
penahanannya di kota Kaisarea (21:18 – 26:32) memberi Paulus kesempatan
membiarkan diri sebagai tawanan, meskipun tetap sebagai pewarta Injil lalu
dibawa ke Roma tempat ia dengan terbelenggu mewartakan Kristus (27-28). Dilihat
dari Yerusalem maka ibu kota kerajaan Roma itu sungguh-sungguh merupakan
“ujung bumi”. Maka Lukas boleh mengakhiri kitabnya. Boleh jadi orang menyesal, bahwa Lukas tidak
menceritakan apa-apa tentang karya rasul-rasul lain dan tidak pula tentang
pendirian beberapa jemaat penting, seperti misalnya di kota Aleksandria. atau
malahan di kota Roma sendiri. Sudah pasti bahwa di kota itu iman Kristen sudah
tertanam sebelum Paulus tiba (lihat surat kepada jemaat di Roma, yang ditulis
Paulus selama perjalanannya yang ketiga). Juga tentang karya Petrus di luar
Palestina tidak dikatakan apa-apa. Pauluslah yang menduduki tempat yang menyolok
dalam kisah Lukas, sehingga dalam bagian kedua Kis hanya Paulus saja yang masih
berperan. Tetapi justru oleh karena Lukas berdiam diri dan meninggalkan banyak
soal, maka kita mendapat jaminan yang paling baik bagi apa yang dikisahkannya.
Ia tidak menceritakan apa-apa, kecuali kalau ia mengetahuinya baik oleh karena
menyaksikan sendiri maupun karena mendapat dari sumber-sumber yang nilainya
dapat diawasi. Kecuali itu Kis bukanlah sebuah kitab ilmu sejarah yang utuh
lengkap, melainkan sebuah penjelasan mengenai daya perambat rohani yang
terkandung dalam agama Kristen. Serta ajaran teologis yang dapat ditarik Lukas
dari kejadian-kejadian yang diketahumnya mempunyai nilai universil yang tidak
dapat diganti dan yang membuat karyanya berharga tinggi. Sumbangan di bidang ajaran adalah berganda. iman akan
Kristus yang menjadi dasar pewartaan rasuli disajikan dengan pemerincian yang
semakin tumbuh. Mula-mula iman akan Kristus itu berpusatkan pada kejayaan
manusia Yesus yang telah menjadi Kyrios berkat kebangkitanNya (2:22-36),
kemudian oleh Paulus Yesus diberi gelar “Anak Allah” (9:20). Berkat
wejangan-wejangan yang tercantum dalam Kis kita mengenal ayat-ayat utama dari
Kitab Suci yang digunakan umat berkat pimpinan Roh Kudus sebagai sarana untuk
merumuskan ajaran mengenai Kristus dan sebagai pembuktian bagi orang-orang
Yahudi. Baiklah diperhatikan khususnya apa yang dikatakan tentang Yesus sebagai
Hamba Allah (3:13.26; 4:27.30; 8:32-33) dan sebagai Musa yang baru (3:22 dst;
7:20 dst). Kebangkitan Yesus dibuktikan dengan Mzm 16:8-11 (Kis 2:24-32;
13:34-37). Sejarah umat terpilih menjadi peringatan bagi orang-orang Yahudi,
supaya jangan menentang kasih-karunia Allah (7:2-53; 13:16-41). Di hadapan
orang-orang bukan Yahudi disodorkan dalil-dalil yang diambil dari ajaran tentang
Allah yang lebih umum (14:15-17; 17:22 31). Tetapi para rasul pertama-tama
“saksi” (1:8+) dan Lukas meringkas pemberitaan mereka (2:22+) dan bercerita
tentang “tanda-tanda” ajaib yang mereka lakukan. Persoalan paling gawat bagi
Geneja yang baru lahir ini ialah: bagaimana orang-orang bukan Yahudi dapat
memperoleh keselamatan. Tentang persoalan itu Kis memberi keterangan yang jitu:
para saudara di Yerusalem terpimpin oleh Yakobus tetap setia pada hukum Taurat
Yahudi (15:1.5; 21:20 dst). Sebaliknya, orang-orang “ke-Yunanian” yang juru
bicaranya ialah Stefanus merasa perlu melepaskan ibadat dalam Bait Allah. Petrus
dan terutama Paulus dalam konsili di Yerusalem memenangkan asas bahwa hanya iman
akan Kristus menyelamatkan, sehingga tak perlu orang-orang bukan Yahudi menepati
hukum Taurat dan bersunat. Namun demikian tetap benar bahwa keselamatan datang
dari bangsa Yahudi, sebagaimana dinyatakan oleh Lukas juga. Paulus selalu
terlebih dahulu menghadapi orang-orang Yahudi. Baru setelah ditolak oleh kaum
sebangsanya ia pergi kepada orang-orang bukan Yahudi (13:5+). Mengenai cara
hidup jemaat-jemaat purba Kis juga memberi informasi yang sangat berharga:
tentang jemaat muda di Yerusalem yang bersembahyang dan yang anggota-anggotanya
membagi bagikan harta miliknya: tentang caranya orang dibaptis dan tentang
baptisan dalam Roh Kudus (1:5+); tentang Ekaristi yang dirayakan (2:42+);
permulaan penyusunan sebuah jemaat sebagai organisasi, yang mempunyai
“nabi-nabi” dan “pengajar-pengajar” (13:1 +), ataupun “penatua” yang
mengepalai jemaat di Yerusalem (11:30) dan yang oleh Paulus diangkat pada semua
jemaat yang didirikannya (14:23). Kesemuanya itu dinaungi, dibimbing dan dijiwai
oleh embusan tak kelihatan dari Roh Kudus. Dalam Injilnya Lukas sudah menekankan
peranan Roh Kudus itu (Luk 4:1 +) dan dalam Kis ia terus memperlihatkan bahwa
Roh Kudus itulah yang berkarya dalam perambatan Gereja (Kis 1:8+), sehingga Kis
dapat diberi judul “Injil Roh Kudus”. Itulah sebabnya maka karya Lukas itu
penuh dengan kegembiraan rohani dan gejala-gejala adikodrati yang hanya
mengherankan mereka yang tidak sampai memahaini peristiwa tunggal itu, ialah
lahirnya agama Kristen. Pada kekayaan ajaran tersebut masih perlu ditambahkan
berita-berita tentang sekian banyak kejadian kongkrit yang hanya kita ketahui
berkat Kis: kehalusan budi dan jiwa, yang digunakan Lukas untuk menggambarkan
tokoh-tokoh kisahnya: adegan-adegan lucu dan menarik hati seperti pidato Paulus
di hadapan raja Agripa (26) dan bagian-bagian yang mengharukan hati seperti
pidato perpisahan Paulus kepada para penatua jemaat di Efesus (20:17-38).
Mengingat kesemuanya itu niscaya orang sependapat dalam menilai kitab yang
jenisnya tunggal dalam Perjanjian Baru ini sebagai sebuah karangan yang penuh
harta kekayaan. Seandainya tidak ada, maka pengetahuan kita tentang awal-mula
agama Kristen sangat kurang. Sama dengan teks seluruh Penjanjian Baru, teks Kis
juga sampai kepada kita dengan macam-macam varian mengenai hal-hal kecil-kecil.
Tetapi dalam teks Kis terdapat lebih banyak kelainan dalam apa yang disebutkan
sebagai “teks Barat” (dalam naskah Bezae, dalam terjemahan kuno ke dalam
bahasa Latin dan Siria dan pada beberapa pujangga Gereja dahulu). Dan
varian-varian itu layak diberi perhatian. Di samping sejumlah kerusakan yang
mudah menyusup ke dalam sebuah teks populer yang kurang bersih dari resensi
Aleksandria, terdapatlah dalam teks Barat tersebut sejumlah tambahan kongkrit
dan khas yang barangkali asli juga. Varian-varian teks Barat yang paling penting
dimuat dalam catatan-catatan terjemahan LBI.
|