KITAB KEBIJAKSANAAN SALOMO

Kitab Kebijaksanaan Salomo yang ditulis dalam bahasa Yunani termasuk kelompok kitab-kitab Deuterokanonika. Sejak abad kedua Mas kitab itu dipakai oleh para bapa Gereja. Kendati beberapa keraguan dan perlawanan, khususnya dari pihak Santo Hieronimus, kitab Kebijaksanaan diakui oleh Gereja Katolik sebagai tulisan yang diinspirasikan sama seperti kitab-kitab yang termaktub dalam Alkitab Ibrani.

Dalam bagian yang pertama, 1-5, kitab Kebijaksanaan menampilkan peranan Hikmat-kebijaksanaan dalam nasib manusia dan membandingkan satu sama lain nasib orang-orang benar dan orang-orang fasik, baik dalam hidup sekarang ini maupun sesudah kematian. Bagian kedua, 6-9, menguraikan asal dan kodrat Hikmat-kebijaksanaan serta jalan-jalan untuk memperolehnya. Bagian terakhir, 10-19, memuliakan karya Hikmat-kebijaksanaan dan Allah dalam sejarah bangsa terpilih. Kecuali dalam pendahuluan yang dengan singkat berkata tentang awal-mula sejarah dunia, bagian terakhir ini memusatkan perhatiannya pada peristiwa terpenting dalam sejarah itu, yakni pembebasan bangsa Israel dari negeri Mesir. Bagian yang menyimpang dari pokok inti itu, yakni 13-15, dengan pedas mengecam pemujaan berhala.

Raja Salomo dianggap sebagai pengarang kitab Kebijaksanaan. Dalam 9:7-8,12 raja itu jelas ditunjuk, walaupun namanya tidak sampai disebut-sebut. Maka judul Yunani kitab itu ialah “Kebijaksanaan Salomo”. Salomo angkat bicara sebagai raja, 7:5; 8:9-15, dan ia meminta perhatian rekan-rekan raja, 1:1; 6:1-11,21. Hanya jelaslah semuanya itu sarana kesusasteraan melulu, yang mempertalikan karya kebijaksanaan ini dengan nama orang bijak yang utama di Israel, sama seperti kitab Pengkhotbah dan Kidung Agung dipertalikan dengan raja itu. Seluruh kitab itu sebenarnya langsung ditulis dalam bahasa Yunani, termasuk bagian pertama, 1-5, yang oleh sementara ahli dengan kurang tepat dianggap aslinya ditulis dalam bahasa Ibrani. Seluruh kitab rapi tersusun, sedangkan juga gaya bahasanya tetap sama. Bahasa Yunaninya lancar dan perbendaharaan kata agak kaya, sedangkan juga banyak kemungkinan dari seni berpidato Yunani gampang dimanfaatkan.

Pengarangnya pasti seorang Yahudi, yang sungguh percaya kepada “Allah nenek moyang”, 9:1, dan ia bangga karena termasuk “bangsa suci” dan “keturunan yang tak bercela”, 10:15. Tetapi jelaslah pula bahwa pengarang seorang Yahudi yang terpengaruh oleh kebudayaan Yunani. Perhatiannya yang khas pada peristiwa-peristiwa dari sejarah keluaran dari negeri Mesir, caranya ia memperlawankan orang-orang Mesir dan orang-orang Israel, dan caranya mengecam pemujaan binatang-binatang membuktikan bahwa penulis Kebijaksanaan hidup di kota Aleksandria di Mesir. Di zaman wangsa Ptolomeus kota itu menjadi pusat kebudayaan Yunani dan juga kota penting bagi orang-orang Yahudi d perantauan. Pengarang Kebijaksanaan mengutip Alkitab menurut terjemahan Septuaginta yang dikerjakan di Mesir. Karenanya jelaslah bahwa pengarang hidup waktu terjemahan itu sudah dikenal. Tetapi ia tidak mengenal karya Filo dari Aleksandria (th 20 seb.Mas – th 54 Mas). Di lain fihak Filsuf Yahudi yang keyunanian itu rasa-rasanya tidak mendapat inspirasi dari Kitab Kebijaksanaan. Namun demikian ada banyak persamaan antara karya Filo dengan kitab Kebijaksanaan yang dua-duanya berasal dan lingkungan yang sama dan tidak mungkin terlalu berjauhan waktunya satu sama lain. Tidak dapat dibuktikan bahwa Perjanjtan Baru menggunakan Keb, tetapi mungkin sekali Paulus terpengaruh olehnya, juga ditinjau dari segi sastera, sedangkan Yoh mengambil alih beberapa gagasan untuk mengungkapkan pikirannya tentang Firman Allah. Boleh jadi kitab Kebijaksanaan dikarang pada pertengahan kedua abad pertama sebelum Mas. Maka kitab Kebijaksanaan menjadi kitab yang paling muda usianya dalam Perjanjian Lama.

Pertama-tama pengarang memperuntukkan kitabnya bagi orang-orang Yahudi, yaitu orang-orang sebangsa yang kesetiaannya digoncangkan oleh gengsi kebudayaan di Aleksandria: kemasyuran mazhab filsafahnya, kemajuan di bidang ilmu pengetahuan, daya tarik berbagai agama “misteri”, ilmu nujum, pemujaan dewa (wahyu) Hermes atau agama-agama kerakyatan yang mempesonakan. Tetapi cara pengarang kadang-kadang menyajikan bahannya menyatakan bahwa juga ingin didengar oleh orang-orang bukan Yahudi. Mereka mau diantarnya kepada Allah yang mengasihi semua manusia. Tetapi ini hanya tujuan sampingan saja. Kitab Kebijaksanaan lebih-lebih mau membela daripada merebut.

Mengingat lingkungan, kebudayaan dan maksud tujuan pengarang (Keb 10-19), tidak mengherankan bahwa di dalam kitabnya ditemukan banyak persamaan dengan alam pikiran Yunani. Hanya persamaan itu jangan dilebih-lebihkan. Berkat pendidikan Yunaninya pengarang menggunakan banyak kata abstrak dan jalan pemikirannya lancar, hal mana tidak mungkin dalam rangka perbendaharaan kata dan tata bahasa Ibrani. Dari pendidikan Yunani itupun pengarang mengambil sejumlah istilah filsafat, rangka-rangka pengelompakan dan pokok pemikiran yang dipersoalkan oleh mazhab-mazhab filsafat. Tetapi pinjaman-pinjaman yang terbatas itu tidak menunjukkan terikatnya pengarang pada salah satu ajaran filsafat tertentu. Pinjaman-pinjaman itu hanya dimanfaatkan untuk mengungkapkan pikiran yang berasal dari Perjanjian Lama. Tentang sistem-sistem filsafat dan spekulasi-spekulasi ilmu nujum pengarang Kebijaksanaan agaknya tidak tahu lebih banyak daripada setiap orang yang berpendidikan di kota Aleksandria di zaman itu.

Pengarang Kebijaksanaan bukan seorang filsuf, bukan pula seorang ahli Ilmu ke-Tuhanan. Ia tetap seorang bijaksana di Israel. Sebagaimana para pendahulunya, pengarang Kebijaksanaan pun mengajak orang mencari Hikmat-kebijaksanaan yang berasal dari Allah dan dapat diperoleh dengan berdoa. Hikmat-kebijaksanaan itu merupakan sumber kebajikan dan menganugerahkan segala berkat. Oleh karena pandangannya lebih luas daripada pandangan para pendahulunya maka pengarang Kebijaksanaan menggabungkan Hikmat-kebijaksanaan dengan kemajuan-kemajuan di bidang ilmu pengetahuan, 7:17-21;8:8. Persoalan mengenai pembalasan yang begitu menyibukkan para bijaksana dahulu, bdk Pengantar umum, dapat dipecahkan oleh Keb. Dengan bertumpu pada ajaran yang bersumber pada Plato mengenai perbedaan antara jiwa dan badan dan tentang kekekalan jiwa, pengarang Kebijaksanaan menegaskan, bahwa Allah menciptakan manusia untuk kebakaan, 2:23, dan bahwa ganjaran atas kebijaksanaan justru kebakaan yang menjamin suatu tempat dekat pada Allah, 6:18-19. Segala sesuatu yang terjadi di bumi ini hanya merupakan persiapan bagi hidup lain di mana orang-orang benar akan hidup bersama dengan Allah, sedangkan orang-orang fasik akan mendapat hukumannya, 3:9-10. Pengarang tidak menyebut kebangkitan badan. Namun tampaknya ia menerima kemungkinan kebangkitan, tetapi dengan merohanikannya. Dengan demikian ia mau mendamaikan pengertian Yunani tentang kebakaan dan ajaran Alkitab yang mengarah pada kebangkitan badan (Daniel).

Baik bagi pengarang Kebijaksanaan maupun bagi para pendahulunya, Hikmat-kebijaksanaan adalah suatu sifat Allah. Hikmat-kebijaksanaan itulah yang sejak penciptaan mengatur segala-galanya dan membimbing peristiwa-peristiwa sejarah. Mulai bab 11 segala sesuatu yang dahulu dikatakan tentang Hikmat-kebijaksanaan langsung dihubungkan dengan Allah sendiri. Adapun sebabnya ialah: Hikmat-kebijaksanaan itu sama dengan Allah dalam menyelenggarakan alam semesta. Memang Hikmat-kebijaksanaan adalah “pancaran murni dari Kemuliaan Yang Mahakuasa .... pantulan cahaya kekal ......... dan gambar kebaikanNya”, 7:25-26. Dengan demikian Hikmat-Kebijaksanaan nampaknya terpisah dari Allah, namun sekaligus pancaran hakekat ilahi. Namun agaknya pengarang Kebijaksanaan dalam hal ini tidak maju lebih jauh daripada pengarang-penganang kitab-kitab kebijaksanaan yang lain, bdk Pengantar Umum. Iapun tidak memandang Hikmat-kebijaksanaan sebagai pribadi. Namun demikian seluruh bagian Kitab yang membicarakan hakekat Hikmat-kebijaksanaan, 7:22-8:8, merupakan suatu kemajuan di bidang perumusan dan suatu pendalaman gagasan-gagasan yang sudah ada dahulu.

Dalam renungannya tentang masa lampau bangsa Israel, 10-19, pengarang Kebijaksanaan sudah mendapat pendahulunya dalam diri Bin Sirakh, Sir 44-50: bdk juga Mzm 78, 105, 106, 135, 136. Tetapi dalam dua hal pemikirannya benar-benar baru. Pertama-tama ia mencari sebab-musabab kejadian-kejadian dan menggariskan semacam filsafat keagamaan mengenai sejarah. Ini hanya mungkin dengan menafsirkan kembali teks-teks Kitab Suci, misalnya uraiannya mengenai belas-kasihan Allah terhadap bangsa Mesir dan bangsa-bangsa Kanaan, 11:15-12:27. Pengarang terutama menyesuaikan ceritera-ceritera Kitab Suci untuk membuktikan ajarannya sendiri. Bab 16-17 merupakan suatu rentetan perbandingan yang memperlawankan nasib malang orang-orang Mesir dan untung bangsa Israel. Guna mengemukakan pendapatnya dengan lebih tegas pengarang menambah ceritera Kitab Suci dengan macam-macam hal buatannya sendiri; ia menghubungkan satu sama lain peristiwa-peristiwa yang berlain-lainan dan tidak segan memperbesar kejadian-kejadian. Ini sebuah contoh ulung dari penafsiran berupa midrasy yang diperkembangkan para rabi Yahudi.

Cita rasa manusia berubah sudah dan kitab Kebijaksanaan memang sudah menua. Tetapi bagian yang pertama, 1-9, sampai sekarang merupakan santapan rohani bermutu tinggi bagi orang-orang Kristen. Ibadat Gereja secara luas memanfaatkan bab-bab itu.

Teks Kitab Kebijaksanaan termuat dalam empat naskah besar, yakni: Vaticanus (B, abad keempat Mas), Alexandrinus (A, abad kelima Mas) dan Codex Ephraemi rescriptus (C, abad kelima Mas) dan dalam sejumlah besar naskah lain yang kurang penting. Naskah yang paling baik ialah Vaticanus yang juga menjadi landasan bagi terjemahan Kitab Suci resmi yang kita pakai sampai saat ini. Teks ini lazimnya disebut “textus receptus” (teks yang umum diterima). Tanda “lat” dalam catatan menunjuk kepada terjemahan Latin kuno, Italia, yang juga terdapat dalam Vulgata tetapi tidak diperbaiki oleh Hieronimus.