|
SURAT-SURAT KATOLIK Di dalam Perjanjian Baru tercantum tujuh surat yang
bukan karangan Rasul Paulus. Ketujuh surat ini dijadikan suatu kelompok
tersendiri meskipun asal-usulnya berbeda sekali. Ada sepucuk surat yang
dikatakan karangan Yakobus, lagi karangan Yudas, dua pucuk surat karangan Petrus
dan tiga karangan Yohanes. Judulnya “katolik”
kiranya berasal dari kenyataan bahwa kebanyakan surat itu tidak tertuju kepada
jemaat atau orang tertentu melainkan kepada orang-orang Kristen pada umumnya (katolik). Surat Yakobus hanya lama diterima oleh Gereja sebagai Kitab Suci.
Agaknya di Mesir Yak tidak pernah diragukan sebagai Kitab Suci. Yak dikutip oleh
Origenes sebagai karangan suci. Tetapi pada awal abad keempat Eusebius dari
Kaisarea (Palestina) mengatakan bahwa Yak masih ditolak oleh sementara orang.
Jemaat-jemaat yang berbahasa Siria baru dalam abad keempat memasukkan Yak ke
dalam daftar kitab-kitab sucinya. Di Afrika utara Tertulianus dan Kiprianus
ternyata tidak mengenal Yak. Daftar kitab-kitab suci yang disebut “Kanon
Mommsen” (disusun sekitar th 360) belum memuat Yak. Di Roma Kanon Muratori (dikatakan
susunan Hippolitus sekitar th 200) juga tidak memuatnya. Sangat tidak pasti
apakah Klemens dari Roma dan pengarang buku yang berjudul “Pastor Harmae” (lihat
di bawah) mengutip Yak. Jadi baru pada akhir abad keempat surat Yakobus umum
diterima sebagai Kitab Suci oleh jemaat-jemaat di Timur dan di Barat. Mana kala surat Yakobus oleh jemaat-jemaat diterima
sebagai Kitab Suci, maka pada umumnya pengarangnya disebut “Yakobus, yaitu
saudara Tuhan”, Mat 13:55 dsj; bdk 12:46+, yang berperan besar dalam jemaat
purba di Yerusalem, Kis 12:17+; 15:13-21; 21:18-26; 1 Kor 15:7; Gal 1:19; 2:9,
12. Peranannya itu diakhiri dengan kemartiran oleh tangan orang Yahudi sekitar
th. 62 (Yosefus, Hagesippus). Yakobus “saudara Tuhan” itu jelas orang lain
dari Yakobus anak Zebedeus, Mat 10:2 dsj. yang dalam th. 44 dibunuh oleh raja
Herodes, Kis 12:2, tetapi boleh jadi ia sama dengan Yakobus lain, yaitu anak
Alfeus, Mat 10:3 dsj. Sejak awal mula hingga dewasa ini kesamaan itu
dipendebatkan, meskipun dewasa ini kebanyakan ahli membedakan kedua tokoh itu.
Apa yang dikatakan Paulus dalam Gal 1:19 diartikan dengan cara yang berbeda-beda
juga. Tetapi masalah yang sesungguhnya terletak di tempat lain dan di tingkat
lebih mendalam. Adakah Yak sungguh karangan “Yakobus yaitu saudara Tuhan”?
Ada berbagai keberatan yang dapat dikemukakan terhadap pendapat itu. Jika Yak
benar-benar dikarang oleh tokoh yang penting itu, bagaimana gerangan mungkin
bahwa surat itu begitu lambat diterima oleh Gereja sebagai Kitab Suci dan,
sebaliknya, begitu lama diragukan dan bahkan ditolak? Selebihnya, Yak langsung
ditulis ke dalam bahasa Yunani yang bagus dan lancar, dengan perbendaharaan kata
dan seni berpidato (diatribe) yang mengherankan, seandainya Yak ditulis oleh
seseorang yang berasal dari Galilea. Sudah barang tentu mungkin Yakobus
menggunakan seorang murid yang berkebudayaan Yunani. Tetapi hipotesa dan dugaan
itu sukar dibuktikan. Akhirnya dan khususnya: Yak sangat serupa dengan beberapa
karangan yang disusun pada akhir abad pertama atau pada awal abad kedua,
teristimewa dengan surat Klemens dari Roma dan buku yang berjudul “Pastor
Harmae”. Kerap kali dikatakan bahwa karangan-karangan itu menggunakan Yak.
Tetapi dewasa ini semakin banyak sekali ahli berpendapat, bahwa kesamaan antara
Yak dan karangan-karangan tsb. yang ternyata ada, disebabkan oleh sumber-sumber
bersama yang dipakai. Kecuali itu Yak dan karangan-karangan lain itu mesti
menghadapi masalah-masalah yang sejenis. Maka dari itu banyak ahli berkeyakinan
bahwa Yak ditulis pada akhir abad pertama atau bahkan pada awal abad kedua.
Memang ajaran Yak tentang Kristus memberi kesan ketuaan. Tetapi hal itu tidak
membuktikan bahwa Yak ditulis pada awal mula agama Kristen. Sebab mungkin juga
bahwa Yak berasal dari kalangan orang-orang Kristen keturunan Yahudi yang
menjadi penerus pikiran-pikiran Yakobus, menutup dirinya bagi perkembangan lebih
lanjut dalam teologi Kristen semula. Jika orang terus mau mempertahankan bahwa Yak
benar-benar karangan “Yakobus yaitu saudara Tuhan”, maka harus dikatakan
bahwa Yak ditulis sebelum th. 62. Sebab dalam tahun itu Yakobus mati. Lalu dua
hipotesa dapat dikemukakan, sesuai dengan pendirian orang dalam masalah hubungan
antara Yak dan Gal-Rom dalam soal “pembenaran oleh iman” (lihat di bawah).
Sementara ahli yakin bahwa Yak menentang Paulus, tegasnya mereka yang
menyalah-artikan ajaran Paulus. Kalau demikian, Yakobus menulis suratnya
menjelang ajalnya. Ahli-ahli lain, yang jumlahnya semakin berkurang, berpendapat
bahwa Paulus mau menentang pikiran Yak. Kalau demikian, Yak ditulis menjelang th
45-50. Dengan jalan itu juga dapat diterangkan mengapa ajaran Yak tentang
Kristus nampaknya tua sekali. Tetapi mengingat apa yang dikatakan di muka kurang
mungkin Yak sudah ditulis sekitar th 45. Bagaimanapun juga asal-usul Yak, tulisan ini tertuju
kepada “Keduabelas Suku di perantauan”, 1:1, kiranya tidak lain artinya dari
orang-orang Kristen keturunan Yahudi yang tersebar di dunia Yunani-Romawi,
terutama di daerah daerah yang berdekatan dengan Palestina, misalnya Siria atau
Mesir. Bahwasanya orang-orang yang dituju oleh surat ini adalah orang keturunan
Yahudi disarankan oleh bagian pokok surat sendiri. Pengarang terus menggunakan
Kitab Suci (Perjanjian Lama) begitu rupa sehingga jelas mengandaikan bahwa para
pembaca baik-baik mengenal Kitab Suci itu, apa lagi oleh karena pengarang tidak
mendasarkan pemikirannya pada kutipan-kutipan jelas dari Perjanjian Lama (seperti
misalnya Paulus atau pengarang Ibr), tetapi lebih-lebih menaruh Kitab Suci
sebagai latar belakang pikirannya. Pengarang Yak terutama dijiwai oleh sastera
Hikmat-kebijaksanaan dan dari padanya mengambil pelbagai pengajaran mengenai
akhlak pembaca. Tetapi pengarang juga secara luas bergantung pada
pengajaran Injil, sehingga suratnya jelas bukan sebuah karangan Yahudi,
sebagaimana pernah dikatakan oleh sementara ahli. Sebaliknya dalam Yak orang
terus menemukan pikiran dan ungkapan sebagaimana disukai Yesus sendiri. Tetapi
dalam hal inipun pengarang tidak langsung mengutip tradisi tertulis. Sebaliknya,
ia terutama memanfaatkan tradisi lisan. Pendek kata: pengarang Yak ialah seorang
berhikmat Kristen ‘keturunan Yahudi yang secara baru memikirkan kembali
pepatah-pepatah dan hikmat Yahudi berdasarkan penyempurnaan yang diberikan Yesus
kepada hikmat Yahudi itu. Karangan Yak ini kurang sesuai dengan gaya bahasa yang
lazim dalam surat-surat. Sebaliknya karangan itu lebih-lebih berupa khotbah,
sebuah contoh pengajaran yang lazim pada jemaat-jemaat Kristen keturunan Yahudi
di zaman itu. Disajikan sederetan ajakan praktis yang secara agak bebas dan
lepas susul-menyusul; kadang-kadang pepatah-pepatah itu dikelompokkan
berdasarkan pokok sama yang diuraikan; kadang-kadang juga dikelompokkan hanya
berdasarkan kata yang sama yang terdapat dalam beberapa pepatah. Ada
nasihat-nasihat mengenai kelakuan orang di tengah percobaan, 1:1-12: 5:7-11,
mengenai asal-usul percobaan godaan, 1:13-18, tentang pengekangan lidah, 1:26:
3:1-12, tentang pentingnya hikmat, saling mengerti dan belas-kasihan, 2:8, 13:
3:13-4:2: 4:11 dst, dan mengenai kekuatan dosa. 1:5-8: 4:2 dst; 5:13-18, dll.
Adapun dari sakramen pengurapan orang sakit ia dapat disimpulkan dari 5:14 dst (Konsili
Trente).
Ada dua pokok utama yang sangat menonjol
dalam parenese yang disajikan Yak. Yang satu memuji orang miskin dan dengan
keras menegur orang kaya, 1:9-11; 1:27 – 2:9: 4:13 – 5:6; perhatian untuk
orang miskin yang diutamakan oleh Allah berurat-berakar dalam suatu tradisi
alkitabiah dan terutama dalam Ucapan bahagia dari Injil, Mat 5:3+. Pokok yang
lain menekankan pengalaman iman, sedangkan memberi peringatan tentang iman yang
tidak berbuah, 1:22-27; 2:10-26. Mengenai pokok terakhir ini bahkan ada sebuah
diskusi yang berupa polemik, 2:14-26. Banyak ahli beranggapan bahwa polemik itu
terarah kepada Paulus. Memang harus diakui bahwa ada hubungan cukup jelas antara
Yak dan Gal-Rom, terutama dalam penafsiran yang berbeda sekali atas nas Kitab
Suci yang sama tentang Abraham. Dan tentu saja mungkin bahwa Yakobus mau
menentang bukan hanya Paulus sendiri tetapi sementara orang Kristen yang dari
ajaran Paulus mengambil kesimpulan yang membahayakan. Namun demikian dua hal perlu dipertahankan. Yang pertama ialah: di belakang pertentangan pada permukaan yang disebabkan oleh keadaan yang berbeda, Paulus dan Yakobus dalam hal pokok sependapat, bdk 2:14+. Yang kedua ialah: masalah “iman dan amal” yang secara wajar ditimbulkan oleh agama Yahudi mungkin sekali suatu pokok diskusi yang tradisionil. Paulus dan Yakobus masing-masing dengan caranya sendiri kiranya membahas masalah yang sama dengan tidak bergantung satu sama lain. Yudas,
yang menyebut dirinya “saudara Yakobus”, ay 1, haruslah seorang “saudara
Tuhan” juga. Mat 13:55 dsj. Tidak ada alasan menyamakan Yudas ini dengan rasul
yang mempunyai nama yang sama, Luk 6:16; Kis 1:13; bdk Yoh 14:22. Sebab Yudas
pengarang surat membedakan dirinya dengan para rasul, ay 17. Tetapi tidak ada
alasan juga menyangka bahwa Yudas hanya nama samaran. Hal semacam itu sukar
dimengerti bahwa Yudas adalah seorang tokoh yang sama sekali tidak menyolok. Surat Yud ini sejak th. 200 diterima oleh kebanyakan
jemaat Kristen sebagai Kitab Suci. Dahulu memang ada orang yang meragukan surat
ini karena mengutip buku-buku apokrip (Henokh, ay 7. 14 dst: Pengangkatan Musa
ke sorga. ay 9). Tetapi kutipan semacam itu tak perlu mengkhawatirkan orang,
sebab sekali-kali tidak berarti bahwa pengarang berpendapat bahwa buku-buku yang
di zaman itu laku sekali di kalangan Yahudi benar-benar Kitab Suci. Maksud tujuan Yud
tidak lain kecuali membuka kedok pengajar-pengajar palsu yang membahayakan
kepercayaan Kristen. Ia mengancamkan kepada mereka hukuman ialah yang sama
dengan hukuman yang dalam tradisi Yahudi menimpa orang fasik, ay 5-7. Apa yang
dikatakan Yud tentang pengajar-pengajar itu kiranya juga terpengaruh oleh
cerita-cerita tentang zaman dahulu, ay 11. Pada umumnya keterangan Yud tentang
pengajar-pengajar palsu itu agak kabur, sehingga tidak dapat dibuktikan bahwa
mereka menganut “gnosis” dari abad II. Kefasikan dan kemerosotan akhlak yang
dituduhkan kepada mereka oleh Yud. terutama bahwa mereka menghujat Tuhan Kristus
dan malaikat-malaikat, ay 4, 8-10, mungkin muncul di kalangan Kristen sendiri
dalam abad I terpengaruh oleh aliran-aliran yang mencampur-adukkan agama
Kristen, agama Yahudi dan paham kafir, sebagaimana ditentang oleh Kol,
surat-surat pastoral dan Why. Tetapi ada beberapa keterangan dalam surat Yudas
yang menyarankan bahwa Yud ditulis pada akhir abad I. Pewartaan Injil oleh para
rasul dikatakan terjadi “dahulu”, ay 17. Iman dipikirkan sebagai suatu
ajaran yang disampaikan sekali untuk selama-lamanya, ay 3. Rupanya surat-surat
Paulus dipakai oleh pengarang. Memanglah surat kedua Petrus menggunakan Yud,
tetapi nanti akan dikatakan bahwa 2 Ptr mungkin ditulis sesudah Petrus meninggal
dunia. Maka boleh dikatakan bahwa Yud ditulis pada akhir zaman para rasul. Ada dua surat katolik yang dari sendiri menyatakan
bahwa ditulis oleh Petrus.
Surat pertama yang dalam alamatnya memuat nama ketua rasul, 1:1, sejak awal mula
diterima oleh Gereja tanpa keraguan atau pertentangan. Surat ini barangkali
sudah digunakan oleh Klemens dari Roma dan pasti dipakai oleh Polikarpus. Sejak
Ireneus dengan tandas dikatakan bahwa surat itu karangan rasul Petrus. Petrus
menulis surat ini di Roma (Babilon, 5:13). Di sana Petrus ada bersama Markus
yang disebutnya sebagai “anaknya”. Meskipun kita tidak tahu banyak tentang
akhir hidup Petrus, namun sebuah tradisi yang cukup dipercaya mengatakan bahwa
Petrus datang ke ibu kota, lalu mengalami kemartiran selama pemerintahan Kaisar
Nero (th. 64 atau 67). Surat Ptr ini dialamatkan kepada orang-orang Kristen
“di perantauan”, 1:1 (terj: yang tersebar) dengan menyebut nama lima
propinsi yang pada pokoknya merangkum seluruh Asia-Kecil. Apa yang dikatakan
tentang hidup mereka dahulu, 1:14, 18: 2:9 dst; 4:3. menyarankan bahwa mereka
dahulu kafir, meskipun tetap mungkin bahwa juga ada orang Kristen keturunan
Yahudi di kalangan mereka. Itulah sebabnya maka Petrus menulis suratnya dalam
bahasa Yunani. Bahasa Yunaninya adalah sederhana tetapi tepat dan halus,
sehingga nampaknya terlalu bermutu untuk dapat dipakai oleh seorang nelayan asal
Galilea. Tetapi kali ini kita mengenal nama murid-juru-tulis yang kiranya
menolong dalam mengarang surat itu. Namanya ialah Silwanus, 5:12, yang umumnya
disamakan dengan rekan Paulus yang bernama Silas, Kis 15:22+. Maksud tujuan surat
ini ialah mempertahankan iman pada mereka yang dituju dan dilanda banyak
percobaan. Ada orang yang berpendapat bahwa apa yang dimaksudkan dengan
percobaan itu ialah penganiayaan dari pihak pemerintah, misalnya dan fihak
Kaisar Domitianus atau bahkan Kaisar Trayanus. Kalau demikian maka surat itu
ditulis setelah Petrus meninggal. Tetapi apa yang dikatakan surat itu sekali-kali
tidak menyarankan bahwa ada penganiayaan dari pihak pemerintah, apa lagi dari
pihak Domitianus atau Trayanus. Apa yang dimaksudkan tidak lain kecuali
gangguan-ganggu dari pihak lingkungan orang-orang Kristen itu, fitnah dan
penghinaan dari pihak mereka yang merasa tersinggung oleh karena orang Kristen
tidak mau ikut dalam adat-istiadat dan kebejatan akhlak mereka, 2:12: 3:16; 4:4.
12-16. Terhadap keaslian 1 Ptr (sebagai karangan Petrus)
masih diketengahkan kesulitan lain. Kesulitan itu ialah: Rupanya 1 Ptr banyak
menggunakan karangan-karangan Perjanjian Baru lain, khususnya Yak, Rom dan Ef,
sedangkan anehnya Injil hanya sedikit dipakai. Namun demikian 1 Ptr sering meski
secara halus sekalipun menyinggung Injil. Seandainya Injil dengan lebih jelas
dikutip kiranya orang berkata bahwa pengarang berbuat demikian justru dengan
maksud supaya suratnya dianggap sebagai karangan Petrus. Adapun hubungan 1 Ptr
dengan Yak dan Paulus jangan dibesar-besarkan. Tidak ada satupun pokok utama
dari surat-surat Paulus (ciri sementara hukum Taurat. Tubuh Kristus. dll) yang
tampil dalam 1 Ptr. Banyak pokok yang dikatakan berasal dari Paulus oleh karena
terutama dibahas dalam surat-surat Paulus kiranya tidak lain dari pokok-pokok
yang banyak dibahas dalam teologi Gereja Purba pada umumnya (kematian Kristus
sebagai penebusan, iman dan baptisan, dll). Makin banyak ahli menerima bahwa di
zaman itu ada rumusan-rumusan tertentu dalam pengajaran agama dan
kumpulan-kumpulan ayat-ayat Kitab Suci dan semuanya itu mungkin dipakai oleh
macam-macam karangan tanpa bergantung satu sama lain. Namun demikian ada
beberapa bagian dalam 1 Ptr yang dijiwai oleh Rom dan Ef. Tetapi hal itu dapat
diterima walaupun tidak perlu menolak I Ptr sebagai karangan Petrus: Petrus
tidak mempunyai keunggulan di bidang teologi seperti Paulus; maka ia dapat
menimba dari karangan-karangan Paulus, terutama kalau berbicara kepada kalangan
orang Kristen yang meresapkan ajaran Paulus ke dalam hati. Jangan dilupakan pula
bahwa juru tulis Petrus yaitu Silwanus, adalah murid Paulus juga. Perlu masih
dicatat pula bahwa di samping kedekatan dengan Paulus, ada juga sementara ahli
yang menemukan kesamaan antara 1 Ptr dan karangan-karangan lain yang berasal
dari lingkungan Petrus, yaitu injil kedua dan wejangan-wejangan Petrus yang
termaktub dalam Kis. Surat Petrus ini tentu saja mendahului kematiannya
dalam th. 64 atau 67. Namun ada kemungkinan juga bahwa menurut petunjuk-petunjuk
Petrus Silwanus menulis surat ini setelah Petrus meninggal dunia, lalu
mengumumkannya di bawah kewibawaan Petrus. Dugaan semacam itu terutama masuk
akal seandainya benar bahwa surat ini sebenarnya terdiri atas beberapa kepingan,
antara lain sebuah homili yang diucapkan dalam rangka upacara baptisan. Tetapi
ini hanya dugaan belaka yang tak mungkin dibuktikan. Meskipun 1 Ptr terutama berisikan nasihat-nasihat
praktis, namun ajaran yang termaktub di dalamnya bermutu tinggi. Terdapat di
dalamnya sebuah ikhtisar bagus dari teologi Kristen di zaman itu dan ikhtisar
itu mengharukan hati justru dalam kesederhanaannya. Sebuah gagasan pokok ialah:
dengan berani dan sabar orang Kristen mesti menanggung percobaan sesuai dengan
teladan Kristus sendiri, 2:21-25; 3:18; 4:1, sama seperti Kristus orang Kristen
harus menderita dengan berkanjang dan merasa gembira kalau sengsaranya yang
disebabkan iman dan kelakuannya yang suci. 2:19 dst; 3:14; 4:12-19; 5:9 mereka
harus menentang yang jahat dengan kasih sambil mentaati pemerintah sipil,
2:13-17, dan dengan lembut dan rendah hati terhadap sekalian orang, 3:8-17;
4:7-11, 19. Ada bagian sulit dalam surat ini yang diartikan dengan berbagai cara, yakni 3:19
dst; bdk 4:6. Pemberitaan (Injil) oleh Kristus sementara ahli
mengartikannya sebagai pemberitaan keselamatan atau hukuman. sedangkan
“roh-roh’ yang di dalam penjara, diartikan entah sebagai orang fasik yang
mati di waktu air bah, entah sebagai malaikat-malaikat yang menurut tradisi
alkitabiah dan apokaliptik berdosa. Tetapi bagaimanapun juga tindakan Tuhan itu
ditempatkan di saat wafatNya. Dan karena itu nas menjadi dasar utama bagi ajaran
tentang turunnya Kristus ke dunia orang mati (penantian kurang tepat). Tidak dapat diragukan bahwa juga surat kedua
memperkenalkan diri sebagai karangan Petrus. Rasul tidak hanya menyebut namanya
dalam alamat surat, 1:1, tetapi iapun menyinggung nubuat Yesus tentang kematian
Petrus, 1:14; iapun mengatakan bahwa menyaksikan Yesus waktu dimuliakan di
gunung, 1:16-18. Akhirnya masih menyinggung salah satu suratnya dahulu dan surat
itu kiranya tidak lain kecuali 1 Ptr. Kalau untuk kedua kalinya menulis surat bagi orang
yang sama, maka maksudnya rangkap dua: memperingatkan mereka terhadap
pengajar-pengajar palsu, 2, dan meredakan kegelisahan mereka yang disebabkan
ditundanya Parusia Tuhan, 3. Tentu saja mungkin bahwa pengajar-pengajar palsu
semacam itu dan juga kegelisahan itu muncul di bagian terakhir hidup Petrus.
Tetapi ada pertimbangan lain yang membuat orang ragu-ragu tentang keaslian 2 Ptr
dan menyarankan bahwa surat itu ditulis di zaman lain. Bahasa 2 Ptr sangat
berbeda dengan bahasa 1 Ptr. Bab 2 seluruhnya hanya dengan bebas (meskipun jelas) mengulang surat
Yudas. Rupanya sudah ada sebuah kumpulan surat-surat Paulus, 3:15 dst. Kelompok para rasul ditempatkan di tingkat sama dengan
kelompok para nabi dan pengarang rupanya tidak termasuk ke dalam kelompok para
rasul, 3:2. Pertimbangan-pertimbangan itu membenarkan keraguan yang sejak awal
mula ada mengenai 2 Ptr. Dengan pasti surat ini baru mulai dipakai oleh Gereja
dalam abad III, dan waktu itu masih ada orang yang blak-blakan menolaknya,
seperti dikatakan oleh Origenes, Eusebius dan Hieronimus. Pada gilirannya banyak
ahli dewasa ini tidak mau menerima bahwa 2 Ptr adalah karangan Petrus, dan
kiranya mereka benar juga. Tetapi kalau seorang murid kemudian menggunakan
kewibawaan Petrus, maka ia barangkali berhak berbuat demikian. Boleh jadi
pengarang termasuk kalangan orang Kristen yang bergantung pada Petrus, atau ia
mungkin menggunakan salah satu karangan dari tangan Petrus, yang disadur dan
dilengkapi dengan pertolongan Yud. Kalau demikian pengarang tidak “menipu”
sebab di zaman dahulu orang mempunyai pandangan lain dari kita mengenai “hak
pengarang” dan boleh tidaknya menggunakan nama orang lain. Bagi kcpercayaan kita juga cukup kalau surat ini oleh
Gereja umum diterima, sebagai sebagian dan Kitab Suci dan karenanya menyampaikan
warisan dari zaman para rasul. Maka ajaran 2 Ptr terjamin kebenarannya. Dari
ajaran itu boleh disebutkan: panggilan orang Kristen untuk mengambil bagian
dalam kodrat ilahi, 1:4; ajaran mengenai Kitab Suci yang diinspirasikan, 1:20
dst; keyakinan mengenai Parusia Tuhan yang akan datang meskipun saatnya di tunda; Parusia itu akan terjadi setelah dunia musnah oleh
api, dan dunia baru
dijadikan di mana terdapat kebenaran. 3:3-13. NB: Ketiga surat Yohanes sudah dibahas dalam pengantar Injil keempat.
|