|
KITAB BIN SIRAKH Kitab Bin Sirakh ini menjadi bagian dari Alkitab
Yunani, tetapi tidak termasuk ke dalam Alkitab Ibrani. Oleh karenanya Sir
termasuk ke dalam kelompok kitab-kitab Deuterokanonika yang oleh Gereja Katolik
diterima sebagai Kitab Suci. Meskipun demikian Sir aslinya dikarang dalam bahasa
Ibrani. Santo Hieronimus mengenalnya dalam bahasa asli dan Sir juga dikutip oleh
para rabi Yahudi. Dalam tahun 1896 kira-kira dua pertiga dari sebuah naskah
Ibrani kitab Sir ditemukan di antara sejumlah besar kepingan macam-macam naskah
yang bertanggalkan abad-abad pertengahan dan berasal dari bekas Sinagoga Yahudi
di kota Kairo, Mesir. Dalam tahun 1946 di bekas benteng Masada ditemukan
sejumlah tulisan yang berasal dari awal abad pertama Sebelum Masehi. Di
antaranya juga bagian besar kitab Sir, yakni 39:27-44:17, dalam bahasa Ibrani.
Kalau teks-teks Ibrani tersebut dibandingkan dengan terjemahan Yunani dan Siria,
maka terlihat bahwa sejak dahulu beberapa gubahan Sir beredar. Hanya teks Yunani saja diakui oleh Gereja Katolik
sebagai Kitab Suci. Terjemahan Kitab Suci kita mengikuti teks Yunani yang
tersedia dalam tiga naskah, yakni Sinaiticus, Alexandrinus dan Vaticanus (S, A,
B). Teks ini disebut sebagai teks umum. Hanya dalam catatan-catatan akan
disajikan beberapa varian teks Ibrani. Dalam bahasa Latin kitab Sir berjudul liber “Ecclesiasticus”.
Judul itu baru ditetapkan di zaman belakangan (Siprianus) dan tentu dimaksudkan
sebagai penegasan bahwa kitab itu secara resmi dipakai oleh Gereja Kristen yang
dalam hal itu berbeda dengan Sinagoga (agama Yahudi). Dalam bahasa Yunani kitab
Sir berjudul: Kebijaksanaan Yesus bin Sirakh. Nama pengarangnya sekali lagi
disebut dalam 50:27. Ahli-ahli modern menyebut kitab Sir: Bin Sirakh atau “Siracide”
sesuai dengan bentuk Yunani dalam nama itu. Dalam kata pengantarnya anak cucu
pengarang menjelaskan bahwa ia menterjemahkan kitab moyangnya ke dalam bahasa
Yunani setelah ia tiba dan bertempat tinggal di negeri Mesir pada tahun ke-38
pemerintahan raja Euergetes. Catatan ini hanya dapat menyangkut raja Ptolomeus
VII Euergetes dan tahun pemerintahannya yang disebut ialah tahun 132 sebelum
Masehi. Maka Yesus bin Sirakh sendiri hidup dan menulis di sekitar tahun
190-180. Dalam teks kitab sendiri ada keterangan yang membenarkan tanggal
tersebut. Sebab berdasarkan kenangan-kenangan pribadi, bin Sirakh menyusun
sebuah lagu pujian mengenai imam besar Simon, 50:1-21. Simon itu ialah Simon II
yang baru meninggal dunia sesudah tahun 200. Pada waktu itu, yakni dalam tahun 198, negeri
Palestina beralih tangan dan dijajah oleh wangsa Seleukus dari negeri Siria.
Penerimaan adat-istiadat asing artinya pengyunanian, didukung oleh sebagian
golongan pemuka Yahudi. Tidak lama kemudian Antiokhus Epifanes (tahun 175-163)
berusaha memaksakan pengyunanian itu dengan kekerasan. Bin Sirakh melawan
kebaharuan-kebaharuan yang mengancam itu dengan kekuatan tradisi. Ia adalah
seorang penulis yang mencintai baik hikmat-kebijaksanaan, maupun hukum Taurat.
Ia penuh semangat terhadap Bait Allah serta upacara-upacaranya. Juga menjunjung
tinggi jabatan imamat, tetapi pun tendidik oleh Kitab Suci, tegasnya kitab para
nabi dan teristimewa oleh kitab-kitab Kebijaksanaan. Bin Sirakh sendiri ingin
memberi pengajaran hikmat kepada semua orang yang mencarinya, 33:18;50:27. Bdk
kata pengantar penterjemah Yunani. Dalam gaya sasteranya Sir serupa dengan karya-karya
para bijaksana dahulu dan merekalah yang menjadi contoh bagi Bin Sirakh. Kalau
bagian kitab yang memuji kemuliaan Allah dalam alam, 42:15-43:33, dan dalam
sejarah, 44:1-50:29, dikecualikan, maka Sir tidak lain susunannya dan pada kitab
Amsal dan kitab Pengkhotbah. Berbagai pokok diutarakan tanpa aturan atau urutan
dan kerap kali terulang. Pokok-pokok itu berperan sebagai semacam kerangka untuk
menampung berbagai pepatah pendek yang sedikit banyak mengenai pokok yang sama.
Pada kitab sendiri ditambah dua lampiran, yaitu nyanyian syukur, 51:1-12, dan
sebuah sajak tentang hal mencari Hikmat-kebijaksanaan, 51:13-30. Teks Ibrani
bagian terakhir ini tersisipkan ke dalam sebuah naskah Kitab Mazmur yang
ditemukan dalam sebuah gua di dekat Qumran. Ini menyatakan bahwa sajak tersebut
beredar tersendiri sebelum ditambahkan pada kitab Bin Sirakh. Seperti gaya sasteranya, demikianpun ajaran Sir
bersifat tradisionil. Hikmat kebijaksanaan yang diajarkan Bin Sirakh berasal
dari Tuhan; awal kebijaksanaan ialah takut akan Tuhan. Kebijaksanaan mendidik
kaum muda dan menjamin kebahagiaan. Mengenai nasib manusia dan soal pembalasan
Sir memperlihatkan ketidakpastian dan keraguan seperti juga terdapat dalam kitab
Amsal dan kitab Pengkhotbah. Pengarang yakin bahwa ada pembalasan; ia merasakan
betapa penting saat kematian yang tragis, tetapi ia belum mengerti, bagaimana
Allah akan membalas setiap orang sesuai dengan perbuatannya, bdk Pengantar umum.
Pikiran-pikiran pengarang mengenai hakekat Hikmat-kebijaksanaan ilahi, 24:1-22,
melanjutkan rabaan yang sudah terdapat dalam kitab Amsal dan kitab Ayub, bdk
Pengantar umum. Akan tetapi Sir mengemukakan suatu gagasan yang baru
dengan menyamakan Hikmat-kebijaksanaan dengan hukum Taurat yang diumumkan Musa,
24:23-24. Hal yang sama terungkap dalam sajak kebijaksanaan yang tercantum dalam
Bar 3:9-4:4. Berlainan dari pendahulu-pendahulunya Bin Sirakh menggabungkan
Hikmat-kebijaksanaan dengan aliran yang mempelajari hukum Taurat. Ia terlebih
melihat kesetiaan pada hukum terletak dalam praktek ibadah yang ketat, 35:1-10.
Bin Sirakh sungguh sungguh pencinta upacara. Berlainan lagi dari para bijaksana dahulu, Bin Sirakh
juga merenungkan sejarah suci. 44:1-49:16. Ditampilkannya tokoh-tokoh Perjanjian
Lama, mulai dengan Henokh sampai dengan Nehemia. Tiga tokoh di antaranya, yaitu
Salomo (meskipun orang bijak yang pertama), Rehabeam dan Yeroboam dikecamnya,
sama seperti dikecam oleh kitab sejarah (Raja-raja) yang berpedoman kepada
gagasan-gagasan kitab Ul. Dan sama seperti Kitab sejarah tersebut Bin Sirakh
mengutuk semua raja, kecuali Daud, Hizkia dan Yosia. Namun demikian Bin Sirakh
bangga atas masa lampau bangsanya. Dengan asyik ia membicarakan orang-orang suci
dan mengingatkan kepada Allah karya besar yang dilakukanNya dengan perantaraan
mereka. Dengan Nuh, Abraham, Yakub, Musa, Harun, Pinehas dan Daud Allah telah
mengikat suatu perjanjian. Perjanjian itu tentu saja menyangkut seluruh bangsa,
tetapi juga menjamin hak-hak istimewa bagi beberapa keluarga, khususnya
keluarga-keluarga imam. Pengarang menjunjung tinggi jabatan imamat; dalam
deretan para leluhur diberikannya tempat istimewa kepada Harun dan Pinehas;
deretan itu diakhirinya dengan lagu pujian bersemangat terhadap seorang
sezamannya, yaitu imam besar Simon. Mengingat masa sekarang Bin Sirakh dengan
hati agak rindu mengenangkan kemuliaan dan kejayaan masa yang lampau. Berbicara
tentang para Hakim dan para Nabi kecil ia mengungkapkan pengharapannya semoga
“tulang-belulang mereka bertunas dari dalam kuburnya”, 46:12; 49:10, artinya:
semoga mereka mempunyai pengganti-pengganti. Ia menulis karyanya di ambang
pemberontakan yang dilancarkan para Makabe. Seandainya Bin Sirakh masih hidup
pada waktu itu, niscaya menyangka keinginan hatinya sudah terkabul. Meskipun menonjolkan gagasan perjanjian dalam Sejarah
Suci, namun Bin Sirakh hampir-hampir saja tidak memberi perhatian kepada
pengharapan akan keselamatan yang akan datang. Memang benar dalam doanya,
36:1-17, ia mengingatkan kepada Allah janji-janjiNya dahulu dan memohon
belas-kasihanNya terhadap Sion ialah Yerusalem, dan supaya suku-suku Yakub
dikumpulkanNya kembali. Akan tetapi ucapan kenabian yang bernafaskan
nasionalisme semacam itu merupakan kekecualian dalam karya Bin Sirakh.
Sebagaimana sesuai dengan orang yang sungguh bijaksana, Bin Sirakh tampaknya
bertumpu pada keadaan nyata bangsanya yang terhina namun tenang. Ia yakin bahwa
pembebasan akan datang, tetapi pembebasan itu berupa ganjaran atas kesetiaan
pada hukum Taurat dan bukan karya seorang Mesias-penyelamat. Bin Sirakh adalah saksi paling akhir dari aliran
kebijaksanaan di Palestina yang tampil dalam Kitab Suci. Ia seorang wakil sejati
dari para “hasidim”, yaitu orang-orang mursyid dalam agama Yahudi, bdk 1 Mak
2:42. Tidak lama lagi mereka akan membela keyakinannya terhadap penganiayaan
dari pihak raja Antiokhus Epifanes. Di masa yang suram itu, mereka akan
mempertahankan kelompok-kelompok kecil para setiawan di Israel. Di kalangan mereka itulah pemberitaan Kristus akan berbuah. Walaupun tidak diterima ke dalam daftar kitab-kitab suci, namun kitab Bin Sirakh sering dikutip dalam karangan-karangan para rabi. Dalam Perjanjian Baru surat Yakobus mengambil alih sejumlah besar ungkapannya; Injil Matius beberapa kali menyinggung Sir dan sampai sekarang ibadat Gereja menggemakan Hikmat-kebijaksanaan yang kuno itu.
|